Potensi Danantara Optimalkan Hilirisasi Perkebunan Negara

Neraca, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia dipercaya mampu untuk mempercepat proses realisasi rencana bisnis Perkebunan Negara yang membutuhkan dana besar dengan mengoptimalkan nilai aset sehingga optimalisasi hilirisasi yang dicanangkan pemerintah dapat tercapai.


Selain itu, Danantara Indonesia dinilai akan mendorong semua perusahaan plat
merah, termasuk BUMN Perkebunan atau PTPN Group, agar lebih transparan yang
berdampak pada reputasi serta kepercayaan investor maupun masyarakat, baik di dalam dan di luar negeri.


“Perusahaan Perkebunan milik negara semisal PTPN, akan sangat efektif bila
bersinergi dengan Danantara untuk mengoptimalkan dan mengelola aset
perusahaan,” jelas Co-Founder PasaRDana, perusahaan penasehat investasi, Dr
Hans Kwee, di Jakarta, Rabu (25/2/2025).

Dengan demikian, Hans Kwee menilai PTPN Group dapat mengandalkan peluang
yang diberikan Danantara, terutama di aspek ekspansi bisnis dan mendorong
kolaborasi BUMN lebih kuat dan mendapatkan partner strategis secara global.

Sebagai negara agraris, dimana Indonesia di anugerahkan tanah yang subur, sektor
perkebunan adalah salah satu sektor andalan untuk mencapai Indonesia Emas 2045.

Sektor perkebunan dapat menyerap banyak tenaga kerja, mendorong pemerataan
pendapatan dan menaikan kesejahteraan rakyat Indonesia. Mengingat hal ini, maka
hilirisasi perkebunan untuk menaikan nilai tambah export Indonesia adalah sebuah
langkah yang sangat tepat.

Apalagi, jelasnya, sejak tahun 2021 dan 2023, PTPN Group telah melakukan efisiensi melalui transformasi perusahaan, antara lain konsolidasi anak usaha dari 14
perusahaan menjadi tiga entitas bisnis, yaitu PTPN I (SupportingCo), PTPN IV (Palm Co) dan PT Sinergi Gula Nusantara (SugarCo).

“Langkah PTPN sejak beberapa tahun lalu tentu sudah sangat baik dan berpeluang
mendorong perusahaan lebih profesional dan profit meningkat,” jelas dosen Magister
Ilmu Ekonomi Univesitas Trisakti dan Atma Jaya ini.


Seperti diketahui, PTPN Group juga melakukan perbaikan keuangan melalui
restrukturisasi utang, efisiensi operasional dan biaya manajemen, peningkatan
akuntabilitas dan fungsi pengendalian, serta transformasi EBITDA.
Hasilnya, perusahaan dapat mengganti predikat sebelumnya dari perusahaan merugi menjadi perusahaan yang pencetak laba. Sejak tahun 2021 hingga Kuartal III 2024, laba bersih konsolidasi telah mencapai Rp13,6 triliun.


Hans Kwee menilai aksi bisnis PTPN, terutama dalam tiga tahun terakhir, sejalan
dengan tujuan pembentukan Danantara Indonesia, yaitu mendorong transformasi
ekonomi dengan pendekatan profesional dan menerapkan good governance.
“PTPN Group dapat bersinergi dengan Danantara karena upaya melakukan efisiensi aset sudah berusaha dilakukan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.
Sekarang, tinggal bersinergi dalam merealisasikan rencana bisnis yang lebih besar,”katanya.

Hans Kwee menambahkan memang jika dilihat dari sisi nilai aset, BUMN perbankan
masih memimpin. Namun, PTPN Group tidak kalah strategis karena nilai asetnya
terus meningkat dan masih banyak potensi kenaikan nilai tambah jika aset dikelola
lebih optimal.

Data Kementerian BUMN tahun 2023, menunjukkan PTPN Group berada diurutan ke-11 sebagai pemilik aset terbesar. Total Nilai aset Holding Perkebunan mencapai
Rp143.900 triliun. Diurutan 10 besar ditempati Bank Mandiri, BRI, PLN, Pertamina, BNI, BTN, Taspen, Telkom Indonesia, MIND ID dan Hutama Karya.
Sementara itu, luas lahan Holding BUMN Perkebunan mencapai 1,18 juta hektare.
Sedangkan, salah satu sub holding, yaitu Palm Co memiliki lahan sawit terbesar di
dunia, melebih luas lahan sawit Malaysia Sime Darby dan Golden Agri milik Sinar
Mas. Ini tentu luar biasa karena hilirisasi produk sawit akan sangat banyak
memberikan nilai tambah bagi ekonomi Indonesia.

Lebih jauh, Hans Kwee mengemukakan PTPN menghasilkan banyak produk
perkebunan, jika dilakukan proses hilirisasi akan memberikan nilai tambah lebih besar
terhadap perekonomian nasional, seperti kelapa sawit, karet, teh, tebu, dan kopi.
“Perlu membuat pabrik yang canggih dengan investasi tinggi. Danantara bisa menjadi
salah satu solusi untuk hal ini. PTPN perlu membuat rencana untuk hilirisasi produk
perkebunan dan rencana investasi agar dapat di sinergikan dengan Danantara,
sehingga tujuan PTPN menjadi pemain utama dalam ketahanan pangan dan energi
nasional dapat diakselerasi,” ujarnya.
Ketika PTPN membutuhkan tambahan sumber pendaaan untuk expansi bisnis,
bahkan ternasuk untuk membiayai petani ataupun mitra lainnya namun belum
sepenuhnya tercover pemerintah, dia mengatakan akan lebih mudah diperoleh
dengan adanya Danantara.

“Semisal saat PalmCo mengurusi penanaman padi gogo di lahan peremajaan sawit
rakyat yang belum dicover biayanya oleh Pemerintah, Danantara mungkin bisa
menjadi alternatif sumber pendanaan dengan interest rendah untuk petani,” tukasnya.
Sebelumnya, Senin 24 Februari 2025 lalu, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia).
Danantara Indonesia adalah badan pengelola investasi strategis yang
mengonsolidasikan dan mengoptimalkan investasi pemerintah untuk mendukung
pertumbuhan ekonomi nasional.
Dasar hukum pembentukan Danantara Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga atas UU No. 19 Tahun 2003 mengenai Badan
Usaha Milik Negara (BUMN), Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2025 tentang
Organisasi dan Tata Kelola Badan Pengelola Investasi Danantara, serta Keputusan
Presiden Nomor 30 Tahun 2025 tentang Pengangkatan Dewan Pengawas dan Badan
Pelaksana.

BERITA TERKAIT

Produksi Tahu Meningkat

Perajin melakukan proses penyaringan cairan kedelai untuk pembuatan tahu di pabrik Industri Kecil Menengah (IKM) Tahu Timbul Jaya, Banda Aceh,…

Tangkapan Menurun

Warga menjemur udang rebon tangkapan nelayan di tempat penampungan udang rebon Tungkal Ilir, Tanjung Jabung Barat, Jambi, Minggu (2/3/2025). Hasil…

Kegiatan Masyarakat Jakarta di HBKB Bulan Ramadhan

Sejumlah warga berolah raga saat pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Jalan MH Thamrin, kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta,…

BERITA LAINNYA DI Berita Foto

Produksi Tahu Meningkat

Perajin melakukan proses penyaringan cairan kedelai untuk pembuatan tahu di pabrik Industri Kecil Menengah (IKM) Tahu Timbul Jaya, Banda Aceh,…

Tangkapan Menurun

Warga menjemur udang rebon tangkapan nelayan di tempat penampungan udang rebon Tungkal Ilir, Tanjung Jabung Barat, Jambi, Minggu (2/3/2025). Hasil…

Kegiatan Masyarakat Jakarta di HBKB Bulan Ramadhan

Sejumlah warga berolah raga saat pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Jalan MH Thamrin, kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta,…