“Keterserapan ini terus ditingkatkan hingga 100 persen setelah enam bulan mereka lulus. Hal ini tentu membawa optimisme kita untuk mewujudkan visi Indonesia Emas tahun 2045. Kami memberikan apresiasi dan berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjalin kerja sama dengan kami, semoga bisa dilanjutkan terus ke depannya,” papar Masrokhan.
NERACA
Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus menekankan pentingnya peran sumber daya manusia (SDM) kompeten dalam mewujudkan sektor industri manufaktur yang tangguh dan berdaya saing global. Untuk itu, Kemenperin serius mengembangkan program pendidikan dan pelatihan vokasi untuk menghasilkan SDM industri yang siap kerja, salah satunya melalui kolaborasi strategis dengan pemerintah Swiss yang telah dikenal memiliki pengalaman dalam mengembangkan pendidikan vokasi dual system.
“Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan vokasi dipersiapkan dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi dan mengantisipasi kebutuhan industri seiring dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, kami terus berupaya memastikan kesesuaian (link and match) dengan dunia usaha industri, tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga pengembangan industri di masa depan,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.
Kemenperin memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Skills in Action Forum: Advancing Competitiveness. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO) yang telah menjadi mitra strategis Kemenperin sejak tahun 2018 melalui pelaksanaan program Skills for Competitiveness (S4C) yang diimplementasikan oleh Swisscontact Indonesia.
“Program kerja sama Kemenperin dengan Swiss ini terdiri dari dua fase, dengan fase pertama telah selesai pada tahun 2022 yang diperpanjang hingga tahun 2024 karena adanya pandemi Covid-19, dan pada fase kedua ini dimulai tahun 2024 hingga 2027,” ungkap Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Masrokhan.
Masrokhan berharap, kerja sama pada fase kedua ini dapat ditingkatkan dan diperluas ke seluruh unit pendidikan Kemenperin lainnya. “Sehingga dapat diadaptasi secara luas dalam pengembangan pendidikan secara nasional,” tambahnya.
Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Olivier Zehnder menyampaikan, fase kedua kerja sama antara Indonesia dan Swiss fokus untuk mengatasi tantangan yang ada saat ini, terutama upaya untuk lebih meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia dan memperkuat daya saing sektor swasta.
“Acara hari ini lebih dari sekadar peluncuran fase kedua. Kami sengaja menyebutnya ‘Skills in Action’ karena kami ingin menunjukkan bagaimana pengembangan keterampilan, melalui penerapan pendekatan ganda, secara langsung dapat meningkatkan daya saing tenaga kerja dan bisnis, terutama sektor IKM. Pendekatan ini memastikan bahwa lulusan siap kerja dan perusahaan memiliki akses terhadap tenaga kerja terampil yang mereka butuhkan, terutama di sektor industri dan pariwisata,” jelas Olivier.
Adapun hasil dari pelaksanaan kerja sama ini, antara lain telah melakukan pengembangan sekolah dan penguatan sistem di empat unit pendidikan milik Kemenperin, yaitu Politeknik Industri Logam Morowali, Politeknik Industri Kayu dan Pengolahan Kayu Kendal, Akademi Komunitas Industri Manufaktur Bantaeng, dan Politeknik Industri Petrokimia Banten.
Sementara itu, Deputi Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Martini Mohamad Paham mengutarakan bahwa model dual VET yang menggabungkan pembelajaran di kelas dengan pengalaman langsung di dunia kerja merupakan solusi efektif dalam menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.
“Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa penguatan pendidikan vokasi berbasis praktik merupakan strategi yang tepat untuk mencetak tenaga kerja yang kompetitif di pasar global,” ujarnya.
Saat ini, Kemenperin memiliki 13 Pendidikan Tinggi Vokasi (11 Politeknik dan dua Akademi Komunitas), 9 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan 7 Balai Diklat Industri (BDI), yang seluruhnya berperan aktif dalam penyediaan dan pengembangan SDM industri yang kompeten dan berkualitas.
“Satuan pendidikan vokasi Kemenperin juga telah menyelenggarakan pendidikan vokasi secara dual system, dan telah terbukti menjadi sekolah dan kampus vokasi yang menarik minat masyarakat serta unggul dalam menghasilkan SDM industri yang siap kerja,” imbuh Masrokhan.
Menurut data Kemenperin, rata-rata animo siswa dan mahasiswa yang masuk pada unit pendidikan Kemenperin pada tahun 2024 melalui Jalur Penerimaan Vokasi Industri (JARVIS) adalah 1:12,2. Sedangkan tingkat keterserapan lulusan di unit pendidikan Kemenperin, selama 2-4 bulan setelah mereka diwisuda, adalah 86,82 persen untuk pendidikan tinggi dan 96,38 persen untuk SMK.
“Keterserapan ini terus ditingkatkan hingga 100 persen setelah enam bulan mereka lulus. Hal ini tentu membawa optimisme kita untuk mewujudkan visi Indonesia Emas tahun 2045. Kami memberikan apresiasi dan berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjalin kerja sama dengan kami, semoga bisa dilanjutkan terus ke depannya,” papar Masrokhan.
Minyak Jelantah Jadi Saldo Digital Jakarta – PT Pertamina Bina Medika IHC (IHC) terus memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan dengan…
NERACA Bali – Berbagai langkah terus dilakukan oleh pemerintah untuk mendorong pelaku Usaha Kecil Menengah Koperasi (UKMK). Sebab harus diakui…
Selama Ramadhan dan Lebaran Pasokan Energi Aman Jakarta – Dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI),…
SDM Kompeten Wujudkan Industri Manufaktur Berdaya Saing Global Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus menekankan pentingnya peran sumber daya manusia…
Minyak Jelantah Jadi Saldo Digital Jakarta – PT Pertamina Bina Medika IHC (IHC) terus memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan dengan…
NERACA Bali – Berbagai langkah terus dilakukan oleh pemerintah untuk mendorong pelaku Usaha Kecil Menengah Koperasi (UKMK). Sebab harus diakui…