Penerbitan Obligasi Korporasi Turun 48,46%

NERACA

Jakarta – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyebutkan, nilai penerbitan surat utang korporasi atau obligasi oleh entitas bisnis di Indonesia selama sembilan bulan tahun 2020 hanya mencapai Rp69,37 triliun atau turun 48,46% dibanding periode yang sama tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp102,99 triliun. Informasi tersebut disampaikan Pefindo dalam webinar zoom di Jakarta, kemarin.

Menurut Head of Economy Research Pefindo, Fikri C Permana, penurunan penerbitan ini terjadi paling dalam di semester pertama 2020. Sedangkan pada kuartal III dan IV terlihat mulai naik mendekati realisasi tahun lalu. Namun demikian, hingga akhir tahun penerbitan obligasi korporasi diproyeksikan berkisar Rp 88-100 triliun.

Sedangkan penerbitan tahun depan diharapkan melonjak menjadi kisaran Rp 108-148 triliun. Disampaikannya, penerbitan obligasi korporasi tahun ini diproyeksikan moderat dengan kecenderungan optimis. Proyeksi ini berdasarkan data kegiatan usaha SKDU yang mengalami sedikit peningkatan. “Kami melihat data kegiatan usaha SKDU dari pelaku usaha mengalami peningkatakan tipis, diperkirakan mulai pick up pada kuartal IV-2020 atau Oktober ini,” ujarnya.

Kemudian untuk penerbitan obligasi di tahun 2021 diproyeksikan naik menjadi sekitar Rp 108-148 triliun dengan nilai moderat sekitar Rp 128 triliun. Proyeksi ini didasarkan potensi penurunan risiko pandemi Covid-19, seiring dengan vaksin yang akan didistribusikan. Sehubungan dengan hal tersebut, Fikri mengungkapkan, terdapat tiga skenario tahun 2021, yakni optimis, moderat, dan pesimis.

Optimis apabila di Januari vaksin sudah tersebar luas, moderat jika vaksi baru tersebar di bulan ketiga, dan pesimis apabila vaksin mulai tersebar di Agustus. Menurut fikri, skenario tersebut merefleksikan penerbitan surat utang korporasi, sebab hal tersebut berpengaruh terhadap risiko masyarakat, bagaimana mereka mengalokasikan uang dan mengonsumsinya. “Berpengaruh juga pada cashflow perusahaan terutama yang berimplikasi pada pola konsumsi dan investasi masyarakat,” ujar dia.

Skenario tersebut juga akan berpengaruh terhadap serapan anggaran dan realisasi anggaran pemerintah. Hal ini akan mengubah pola perusahaan mengalokasikan anggaran atau menerbitkan surat utang. Namun sejauh ini Pefindo melihat bahwa angka Rp 128 triliun masih akan tercapai di 2021. Hal lainnya yang mendorong penerbitan obligasi tahun depan, ungkap dia, faktor kemudahan berbisnis. Pefindo melihat Omnibus Law akan menjadi salah satu daya ungkit perrekonomian ke depan serta surat utang korporasi.

Dari sisi positif, Omnibus Law akan mendorong FDI semakin baik di Indonesia, baik investasi dari luar maupun investasi domestik. Pefindo juga melihat adanya kemungkinan ruang untuk penurunan suku bunga acuan yang lebih banyak di 2021, seiring dengan pertumbuhan ekonomi, inflasi dan stabilitas rupiah yang akan terjaga. “Dengan adanya ruang penurunan tersebut, kami berharap juga akan berdampak terhadap penurunan yield surat utang korporasi dan spreadnya, sehingga lebih kompetitif,” ujar dia.

BERITA TERKAIT

Laporan Terbaru PBB - Perempuan Terdampak Tertinggal Selama Covid-19

Dampak pandemi Covid-19 tidak hanya melumpuhkan perekonomian di semua sektor, tetapi juga dampak sosial ekonomi pada perempuan. Berdasarkan hasil laporan…

Menghemat Pengeluaran Rumah Tangga Penting Saat Pandemi

​Pandemi Covid-19 telah memberikan berbagai dampak sosial dan ekonomi di antaranya menurunnya pendapatan rumah tangga, hingga tidak sedikit yang kehilangan…

Sentimen Resesi Ekonomi Bikin IHSG Melemah

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (22/10) sore kembali ditutup turun tipis…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Laporan Terbaru PBB - Perempuan Terdampak Tertinggal Selama Covid-19

Dampak pandemi Covid-19 tidak hanya melumpuhkan perekonomian di semua sektor, tetapi juga dampak sosial ekonomi pada perempuan. Berdasarkan hasil laporan…

Menghemat Pengeluaran Rumah Tangga Penting Saat Pandemi

​Pandemi Covid-19 telah memberikan berbagai dampak sosial dan ekonomi di antaranya menurunnya pendapatan rumah tangga, hingga tidak sedikit yang kehilangan…

Sentimen Resesi Ekonomi Bikin IHSG Melemah

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (22/10) sore kembali ditutup turun tipis…