RI Bisa Lolos Resesi?

 

Hantu resesi kini mulai mendatangi sejumlah negara di kawasan Asia. Korea Selatan resmi menyusul Singapura memasuki jurang resesi pasca perekonomiannya, setelah tercatat minus dalam dua kuartal berturut-turut. Penurunan kinerja ekspor secara drastis akibat pandemi Covid-19 dianggap menjadi penyebab utama resesi di negeri Ginseng itu.

Menurut mantan Menko  Perekonomian Rizal Ramli, nasib Indonesia tidak akan seperti Singapura dan Korea Selatan. Ini disebabkan minimnya kontribusi ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, yakni kurang dari 20%. Karena PDB Indonesia lebih didominasi oleh konsumsi dalam negeri yang mencapi lebih dari 50%.

“Dampak global dari resesi dunia itu lebih kecil terhadap Indonesia. Singapura dan beberapa negara lain, dia akan kena dampak resesi global yang lebih besar. Singapura akan lebih rontok dibandingkan Indonesia” ujar Rizal kepada pers belum lama ini.

Singapura sebagai negara penanam modal asing terbesar di Indonesia pada semester I-2020. Namun Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengaku tak khawatir dengan hal tersebut. "Tidak terlalu berpengaruh terhadap investasi," ujarnya, Rabu (22/7). Dia beralasan, investasi Singapura sudah masuk ke Indonesia. Sehingga, realisasi investasi tak akan terhambat meski negara tersebut mengalami resesi. "Saya yakin tetap jalan, buktinya ekonomi mereka sudah minus tapi tetap paten realisasinya," ujarnya.

Meski demikian, pemerintah Indonesia tidak boleh terlena. Artinya, harus ada langkah tegas dalam menyikapi dampak pandemi terhadap perekonomian nasional. Pasalnya,  pemerintah harus jeli  melihat resesi yang sedang terjadi di Korsel, khususnya pada sektor keuangan atau Investasi.  Masih  ada peluang pemindahan investasi dari negeri Ginseng itu ke Indonesia.

Korea Selatan saat ini merupakan salah satu negara mitra dagang utama dan penanam modal terbesar. Menurut data BPS, Korea Selatan berada di posisi ke-12 negara tujuan ekspor nonmigas terbesar dan posisi ke-10 negara importir terbesar pada semester I-2020. Total ekspor Indonesia ke Korsel pada paruh pertama tahun ini anjlok 12,38% dari US$3,2 miliar menjadi US$ 2,79 miliar. Sementara total impor dari Korsel turun lebih dalam 14,03% dari US$3,6 miliar menjadi US$ 3,09 miliar.

Sementara dari sisi investasi, Korsel  menempati posisi keenam sebagai negara penanam modal terbesar di Indonesia pada sepanjang semester I-2020. Namun, Korsel menempati posisi ke-5 untuk investasi khusus pada kuartal II-2020.  Apalagi berdasarkan data BKPM, Korsel membangun 1.495 proyek dengan nilai investasi  US$ 553,6 miliar pada kuartal II-2020. Sedangkan sepanjang paruh pertama tahun ini, Korsel menggarap 2.497 proyek dengan nilai investasi US$ 683 miliar. 

Melihat kondisi demikian, kita menilai resesi ekonomi di Korea Selatan tak akan merugikan Indonesia, malah justru berpotensi diuntungkan. Karena, pemulihan ekonomi di Indonesia memiliki potensi untuk lebih baik jika dibandingkan dengan negara lain usai pandemi Covid-19. Artinya, besaran belanja pemerintah yang akan menentukan apakah Indonesia ikut masuk ke jurang resesi atau tidak.

Selanjutnya, kalau Indonesia bertahan dengan pertumbuhan positif dan tidak resesi, maka mata uang rupiah akan menjadi mata uang terkuat akibat masuknya investasi dari luar. Kita tentu berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 akan masuk ke zona positif.

Presiden Jokowi  sendiri mengakui Indonesia hanya memiliki waktu tiga bulan yakni pada Juli-Agustus untuk mengungkit kembali perekonomian, walau ekonomi Indonesia diproyeksi terkontraksi pada kuartal II-2020 hingga mencapai 4,3%. "Kita berharap kuartal III ini ekonomi naik. Kalau enggak, saya enggak ngerti lagi, betapa akan lebih sulit kita," ujarnya di Istana Negara, Jakarta, Kamis (23/7).

Namun demikian, Jokowi menyebut kinerja perekonomian di awal kuartal ketiga ini menunjukkan tren perbaikan. Konsumsi rumah tangga dan kegiatan ekspor-impor mulai terungkit.  "Konsumsi Karena ada BLT Desa, ada bansos tunai, ada bansos sembako. Itu akan sangat mempengaruhi daya beli dan konsumsi rumah tangga,"ujarnya.

BERITA TERKAIT

Tak Perlu Takut Resesi

Resesi pada hakikatnya bukan berarti kiamat. Resesi juga bukan indikator kegagalan pemerintah. Kalaupun nanti pada Oktober BPS resmi menyatakan Indonesia…

PSBB Setengah Hati

Kebijakan Pemprov DKI Jakarta memperpanjang penerapan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Jilid 2 yang dimulai Senin (14/9) hingga 28…

Sinergi Bersama Atasi Covid-19

Pandemi Covid-19 telah membuat segalanya terdampak secara serius, baik status kesehatan hingga perekonomian rakyat Indonesia. Apalagi ketika PSBB diterapkan, tidak…

BERITA LAINNYA DI Editorial

Tak Perlu Takut Resesi

Resesi pada hakikatnya bukan berarti kiamat. Resesi juga bukan indikator kegagalan pemerintah. Kalaupun nanti pada Oktober BPS resmi menyatakan Indonesia…

PSBB Setengah Hati

Kebijakan Pemprov DKI Jakarta memperpanjang penerapan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Jilid 2 yang dimulai Senin (14/9) hingga 28…

Sinergi Bersama Atasi Covid-19

Pandemi Covid-19 telah membuat segalanya terdampak secara serius, baik status kesehatan hingga perekonomian rakyat Indonesia. Apalagi ketika PSBB diterapkan, tidak…