Digugat Pailit, BEI Supensi Saham COWL

NERACA

Jakarta – Perdagangan saham PT Cowell Development Tbk (COWL) sesi kedua, Senin (13/7) awal pekan kemarin dihentikan sementara oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusul adanya permohonan penyataan pailit keuangan dan penundaan kewajiban utang (PKPKU). Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Bursa menghentikan sementara perdagangan efek emiten properti tersebut diseluruh pasar sejak sesi II perdagangan Senin, (13 Juli 2020) hingga pengumuman berikutnya. Untuk diketahui, COWL baru menyampaikan laporan keuangan tanpa audit kuartal III 2019. dalam laporan tersebut mencatatkan kewajiban sebesar Rp2,76 triliun dan sedangkan kas bersih dari hasil operasi tercatat minus Rp16,7 miliar.

Asal tahu saja, dalam pengembangan bisnisnya, perseroan memiliki rencana pengembangan lahan baru yang sejatinya akan dilakukan awal tahun ini. Saat ini, COWL memiliki landbank seluas 70 hektare-80 hektare di Jabodatebek dan Balikpapan dengan landbank terluas di proyek Borneo Paradiso. Tahun lalu, perseroan telah mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 182 miliar. Belanja modal ini akan digunakan untuk membiayai pembangunan beberapa proyek properti.

Pertama, pembangunan apartemen tower kedua bernama Acacia Tower dan perumahan The Banyan di kawasan mixed-use The Oasis, Cikarang, Jawa Barat sebesar Rp 120 miliar. Kedua, proyek Serpong Park dengan alokasi belanja modal Rp 33 miliar. Ketiga, proyek rumah tapak New Richwood dan rumah toko City Gate yang terletak di kawasan Borneo Paradiso, Balikpapan, Kalimantan Timur dengan besaran Rp 18 miliar-Rp 20 miliar. Keempat, peremajaan pusat perbelanjaan Plaza Atrium Senen dan gedung perkantoran Cowell Tower Rp 9 miliar.

Menurut Presiden Direktur PT Cowell Development Tbk Darwin Fernandes Manurung, belanja modal tahun ini tidak terlalu besar. Alasannya, proyek-proyek tersebut sudah dalam tahap penyelesaian. “Tinggal menunggu masa panen,” kata dia.

Direktur PT Cowell Development Tbk Firdaus Fahmi mengatakan, dua proyek di Cikarang sudah habis terjual pada akhir 2018. Sementara itu, New Richwood yang diluncurkan pada April 2018 diklaim mendapat animo positif dari masyarakat. Tidak berhenti sampai di situ, perusahaan ini juga telah meluncurkan proyek baru pada Maret 2019, yakni Palmville Residence di The Oasis, Cikarang.

Cikarang dan Balikpapan dipilih karena COWL melihat peluang positif dari kedua kawasan ini. Menurut Firdaus, Cikarang merupakan kota industri terbesar di Asia Tenggara yang dihuni hampir 2.100 unit pabrik dari 25 negara. Sementara itu, Darwin mengatakan, Balikpapan menjadi kota yang ekonomi masyarakatnya sudah mulai bagus. "Karena harga batubara sudah mulai naik lagi. Orang-orang Samarinda juga sekarang kalau bepergian ke Kalimantan karena sudah ada tol yang menyambungkan dua daerah tersebut,"jelasnya.

 

BERITA TERKAIT

BTN Dorong Kemudahan Pembangunan Rumah Subsidi

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus  mendorong Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan relaksasi sejumlah aturan…

Ditopang Penjualan Lokal - Kimia Farma Bukukan Penjualan Rp 4,69 Triliun

NERACA Jakarta- Bisnis obat di tengah pandemi Covid-19 menjadi berkah tersendiri seiring dengan besarnya permintaan di masyarakat. Hal inilah yang…

Bisnis Properti Terpukul Corona - Laba Bersih Summarecon Agung Anjlok 93,15%

NERACA Jakarta – Satu persatu kinerja emiten properti terpukul akibat dampak pandemi Covid-19. Salah satunya adalah PT Summarecon Agung Tbk…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

BTN Dorong Kemudahan Pembangunan Rumah Subsidi

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus  mendorong Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan relaksasi sejumlah aturan…

Ditopang Penjualan Lokal - Kimia Farma Bukukan Penjualan Rp 4,69 Triliun

NERACA Jakarta- Bisnis obat di tengah pandemi Covid-19 menjadi berkah tersendiri seiring dengan besarnya permintaan di masyarakat. Hal inilah yang…

Bisnis Properti Terpukul Corona - Laba Bersih Summarecon Agung Anjlok 93,15%

NERACA Jakarta – Satu persatu kinerja emiten properti terpukul akibat dampak pandemi Covid-19. Salah satunya adalah PT Summarecon Agung Tbk…