Ekspor dan Investasi Jadi Tumpuan RI - KEPALA NEGARA KECEWA MASALAH DEFISIT PERDAGANGAN

Jakarta-Presiden Jokowi merasa geram lantaran Indonesia dalam kurun waktu yang lama selalu dihadapkan dengan persoalan defisit transaksi berjalan dan juga defisit neraca perdagangan. Padahal, untuk membenahi kedua persoalan tersebut adalah investasi dan ekspor.

NERACA

"Defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan membebani kita berpuluh-puluh tahun tapi tidak diselesaikan, padahal kuncinya kita tahu investasi dan ekspor, kuncinya di situ," ujar Presiden saat meresmikan Rakornas Investasi di ICE BSD, Banten, Selasa (12/3).

Selanjutnya untuk terlepas dari masalah defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan, Jokowi meminta kepada pemerintah pusat dan daerah bisa memberikan kemudahan proses berusaha. "Tahu kesalahan kita, tahu kekurangan kita, rupiahnya berapa defisit kita tahu, kok nggak kita selesaikan, bodoh banget kita kalau seperti itu," tegas Kepala Negara.

Tidak hanya itu. Menurut Jokowi, kemudahan berusaha di Indonesia harus terus digencarkan. Jangan sampai Indonesia tersalip oleh Kamboja dan Laos dalam hal investasi dan ekspor. "Kalau kita lihat peringkat investasi kita sejak 2017 kemarin sudah masuk dalam negara yang layak investasi atau investment grade. Ini sebuah poin penting, harus dimanfaatkan," ujarnya seperti dikutip detik.com.

Karena itu, Presiden meminta para bawahannya untuk kerja ekstra keras agar ekspor dan investasi Indonesia bisa cepat pulih. Pasalnya neraca dagang yang saat ini defisit hingga investasi yang stagnan menghambat percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Seperti diketahui realisasi neraca perdagangan Indonesia pada tahun lalu memang mengecewakan. Sejak Indonesia merdeka, neraca perdagangan yang defisit pada tahun lalu adalah untuk keenam kali setelah 1965, 1975, 2012, 2013, 2014, dan 2018. Angka defisit neraca perdagangan pada 2018 bahkan menjadi yang paling besar semenjak tahun 1975. Total angka defisit neraca perdagangan tahun 2018 mencapai US$ 8,57 miliar.

Angka defisit itu didapat dari total ekspor Indonesia sepanjang 2018 mencapai US$ 180,06 miliar. Sementara impor tercatat US$ 188,63 miliar. Angka ekspor naik tipis 6,65% secara tahunan, sementara angka impor naik 20,15% dibandingkan periode yang sama 2017.

Bahkan defisit neraca dagang juga masih berlanjut di Januari 2019. BPS mencatat defisit neraca perdagangan pada Januari 2019 yang US$ 1,16 miliar menjadi yang paling dalam jika dilihat dari Januari 2014.

Selain itu, Presiden juga merasa heran bahwa masih banyak investasi yang masuk ke Indonesia namun tidak terealisasi. "Yang saya rasakan sehari-hari, investor berbondong ke kita. saya juga sering menemukan. Tapi, tidak ada yang terealisasi, ini yang salah di mana? Di pusat, provinsi, kota atau kabupaten?," ujar Jokowi.

Presiden mengakui, akan mencari akar masalah yang menyebabkan investasi banyak tidak terealisasi di Indonesia. "Saya akan kontrol betul mana yang salah. Investor datang ingin investasi tapi kenapa nggak menetas? ini pasti ada problemnya," ujarnya.

Jokowi mengatakan, beberapa yang menghambat proses investasi, mulai dari kecepatan pemberian izin, proses pembebasan lahan yang rumit. Sehingga, dirinya pun meminta kepada Gubernur, Bupati, dan Wali Kota bisa mempercepat dan memudahkan proses investasi. "Ini urusan besar, pak bupati dan pak wali kota. Karena kunci pertumbuhan ekonomi kita ada di dua tadi (investasi dan ekspor)," tegas dia.

Berdasarkan survei United Nation tahun 2018, menurut Presiden, Indonesia merupakan negara destinasi investasi terbaik nomor empat di dunia. Survei itu dilakukan kepada para CEO multinational company. Belum lagi, Indonesia telah mendapatkan rating sebagai negara layak investasi oleh tiga lembaga pemeringkat, yaith S&P, Fitch Rating, dan Moodys. "Ini modal besar, dua tadi, ratting-nya dan survei untuk CEO-CEO perusahaan multinasional mengatakan Indonesia adalah nomor empat paling menarik bagi investasi," ujar Jokowi.

Tertinggal Negara Tetangga

Ketidakpuasan Jokowi tersebut berkaitan dengan nilai investasi yang sampai dengan saat ini masih masih kecil di banding negara tetangga, seperti; Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Vietnam.Kepala Negara tak ingin ketertinggalan tersebut tersebut terus berlarut-larut.

"Saya sudah sampaikan baru seminggu yang lalu dalam forum rapat kabinet, saya bertanya apakah perlu dalam situasinya seperti ini yang namanya menteri investasi dan menteri ekspor, khusus," ujar Jokowi.

Menurut dia, seharusnya dalam kondisi perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, Indonesia bisa menarik masuk investor. Namun, menurutnyayang terjadi saat ini justru para investor memilih masuk ke Vietnam. Salah satunya investor yang bergerak di bidang industri mebel. Jokowimengatakan saat ini banyak industri mebel dari China yang cenderunglebih suka masuk ke Vietnam. "Kayu ada di kita, raw material ada di kita, kayu ada di kita, bambu ada di kita, apa yang salah dari Indonesia? Apa yang keliru dari Indonesia?" ujarnya.

Bukan hanya investasi, dari sisi eksporJokowi juga mengatakan Indonesia kalah dengan Vietnam. Untuk tujuan ke Amerika Serikat saja,JokowimengatakanIndonesia hanya bisa menguasai 3% pasar AS. Sementara itu, Vietnam justru menguasaipasar sekitar 16%. "Artinya apa? Kita kalah rebutan, kalah merebut investasi, kalah merebut pasar. Saya rasa ini tanggung jawab kita semuanya," tutur Presiden.

Pada bagian lain, lembaga internasional OECD kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2019 dan 2020 di kisaran 3,3% dan 3,4%. Penurunan ini disebabkan adanya sengketa dagang dan ketidakpastian Brexit yang diperkirakan akan mempengaruhi perdagangan dunia.

Menurut Menkeu Sri Mulyani Indrawati, kondisi tersebut sebenarnya sudah diwaspadai pemerintah sejak tahun 2018. "Untuk Indonesia tentu kita akan lihat dampaknya apalagi dengan pertumbuhan ekonomi global yang melemah juga disebabkan pertumbuhan perdagangan internasional yang melemah," ujarnya.

Sri Mulyani mengatakan ada beberapa langkah yang dapat dilakukan Indonesia untuk menjaga agar kondisi perekonomian domestik serta tetap mampu mengejar target-target ekonomi makro, seperti pertumbuhan ekonomi yang tetap di atas 5%. "Kalau kita ingin mencapai pertumbuhan yang tetap tinggi di atas 5% kita harus meyakinkan bahwa pusat-pusat atau sumber-sumber pertumbuhan dalam negeri tetap bisa menjadi engine,"ujarnya.

Kinerja ekspor Indonesia menurut Menkeu, masih akan baik dan berkontribusi bagi perekonomian. Meskipun ekonomi beberapa negara besar seperti China dan India mengalami pelemahan, tapi pasar ekspor dari negara emerging market masih cukup besar. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

Insentif Investasi Industri Gula Perlu Ekosistem Teknologi

NERACA Jakarta – Lahirnya 12 pabrik baru di industri gula merupakan salah satu bentuk keberhasilan pemerintah dalam memberikan insentif bagi…

BI : Posisi Kewajiban Investasi Internasional Meningkat

  NERACA Jakarta -  Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada akhir 2018 mencatat peningkatan net kewajiban, didorong oleh naiknya posisi Kewajiban…

Pers Harus Independen dan Objektif

Pers Harus Independen dan Objektif NERACA Jakarta - Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo menekankan yang dituntut dari lembaga pers…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Manajemen Harus Dievaluasi - Buntut dari OTT, Saham Kratau Steel Ikut Menyusut

NERACA Jakarta -  Di tengah kerja keras PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) untuk keluar dari kerugian yang tinggal menuai hasil…

PERTANYAKAN KEBIJAKAN IMPOR BAWANG PUTIH - KPPU Panggil Kemendag dan Kementan

Jakarta-Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) akan memanggil Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Pertanian (Kementan) terkait kebijakan yang diberikan kepada Perum…

Kredit Bermasalah UMKM Mencapai 3,79% di Januari 2019

NERACA Jakarta-Bank Indonesia mengungkapkan besaran kredit bermasalah (NPL) untuk sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pada awal 2019 mengalami…