Strategi Blusukan

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Berita blusukan Jokowi - Sandiaga Uno kini menjadi salah satu yang sering menghiasai media. Seolah tidak ada yang mau kalah, keduanya silih berganti blusukan ke berbagai pasar di tanah air dengan berbagai ekspresi. Di satu media ada yang memegang petai sementara di sisi lain ada juga yang memborong tempe. Padahal, sebelumnya makanan tempe menjadi sindiran antar kedua pasangan yang maju di pilpres 2019. Terkait hal ini jika dicermati padahal keduanya tidak pernah blusukan ke pasar tradisional. Paling tidak hal ini terlihat dari ritme kehidupan masing-masing dan akhirnya perilaku blusukan itu hanya dilakukan menjelang pilpres 2019.

Yang justru menjadi pertanyaan apakah ada pengaruh signfikan antara perilaku yang blusukan tersebut dengan perolehan suara di pilpres mendatang? Jawabannya tentulah belum dapat teruji karena pilpres sendiri masih akan berlangsung di tahun 2019. Meski demikian, harus dicermati bahwa potensi suara dari pasar tradisional menarik karena ada banyak pelaku yang terlibat didalamnya, belum lagi mata rantai yang terlibat baik secara langsung atau tidak langsung. Oleh karena itu, beralasan jika akhirnya pasar tradisional menjadi target blusukan, bukan justru di mal atau berbagai pusat perbelanjaan. Apakah yang menjadi pembeda diantara keduanya?

Kasat mata dan orang awam menyadari bahwa perbedaan dari keduanya adalah aspek persepsian yaitu pasar tradisional identik dengan ekonomi kerakyatan dan kaum lemah sedangkan mal – pusat perbelanjaan identik dengan kelas menengah keatas. Terkait hal ini maka menjelang tahun politik dalam pilpres 2019 akan terasa lebih merakyat jika blusukan ke pasar tradisional dan juga terasa lebih syahdu untuk merebut simpati dan suara rakyat jika dibandingkan dengan blusukan ke mal atau pusat perbelanjaan. Jadi, ada nilai lebih jika menjelang pilpres harus terpaksa blusukan ke pasar tradisional. Oleh karena itu, bukan karena salah satu kandidat berkampanye tentang potensi emak-emak tapi lebih didasarkan karena mendekati wong cilik, rakyat jelata dan kaum lemah adalah sangat potensial untuk mendulang suara maka pasar tradisional menjadi target utama dari blusukan.

Mata rantai dari pasar tradisional memang sangat besar dan karenanya beralasan jika pemerintah melakukan merevitalisasi dan juga merenovasi target 1.592 pasar rakyat yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia pada 2018 sebagai salah satu penjabaran Program Nawacita Jokowi - Jusuf Kalla.

Total alokasi dana yang dianggarkan Rp.3,13 triliun terbagi Rp.1,53 triliun merupakan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Rp.1,6 triliun dari Tugas Pembantuan (TP). Program itu telah dimulai pada tahun 2015 terdiri 1.0233 pasar, tahun 2016 sebanyak 783 pasar dan di tahun 2017 yaitu 909 pasar. Yang menarik di tahun 2017 ada 246 pasar direvitalisasi memakai dana TP sedangkan 618 pasar menggunakan DAK sementara 45 pasar memakai anggaran dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Nilai penting dari revitalisasi pasar tradisional akan terus berlanjut karena target di tahun 2019 adalah 5.000 pasar.

Kalkulasi dari jumlah pasar yang telah direvitalisasi sampai 2017 yaitu 2.715 pasar dan target sampai akhir 2018 ini sekitar 4.037 pasar sedangkan sisanya sampai tahun 2019 hanyalah 693 unit. Kalkulasi dari pedagang, tukang parkir, buruh gendong dan mata rantai yang terlibat di pasar tradisional cukup besar dan pelibatan pedagangnya saja mencapai sekitar 12 juta pedagang. Oleh karena itu, blusukan di pasar tradisional akan memberikan pengaruh besar untuk mendulang suara di pilpres dan karenanya berlasan jika pasar menajdi target blusukan meski sekedar 5 tahun sekali.

BERITA TERKAIT

FDI, Kebijakan Impor, dan Strategi Ekspor

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Secara umum kita sudah sangat memahami tentang berbagai model kebijakan investasi yang…

KPK Akan Ubah Strategi Tindak Korporasi Terlibat Korupsi

KPK Akan Ubah Strategi Tindak Korporasi Terlibat Korupsi NERACA Jakarta - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang menyatakan…

Jatim Jadi Provinsi Terbanyak Belum Dapat Listrik, Ini Strategi PLN

NERACA   Jakarta – Rasio elektrifikasi telah mencapai 98,3%. Akan tetapi, masih ada 1,8 juta rumah tangga yang belum teraliri…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Terdistorsinya Ruang Pasar yang Luas

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Ruang pasar (market space) adalah ruang "tanpa batas" secara ketika the world…

Membangun Ekosistem Ekonomi Syariah

Oleh : Agus Yuliawan  Pemerhati Ekonomi Syariah Allhamdulilah dalam debat terakhir capres dan cawapres yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum…

Ilusi Pertumbuhan Dua Digit

Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF Saat debat kelima Pilpres 2019, salah satu Paslon mengutarakan keinginan untuk memperbaiki ekonomi hingga tumbuh…