Menimbang Risiko Seks Kala Pandemi dan Cara Menyiasatinya

Aktivitas seks di tengah pandemi virus corona menjadi hal yang kompleks. Pernyataan ini sempat diutarakan ahli kesehatan. Sebab di satu sisi, seks menjadi kebutuhan bagi sebagian orang akan tetapi di sisi lain di tengah wabah, aktivitas ini menyimpan risiko bagi kesehatan.

Hari ke hari kasus positif Covid-19 di dunia masih menunjukkan peningkatan. Guna mengerem laju penularan Covid-19, setiap orang diingatkan untuk tertib menjalankan protokol kesehatan, termasuk menjaga jarak fisik. Lalu bagaimana dengan hubungan seks? Yang faktanya, aktivitas ini menuntut keintiman dan pertemuan fisik, bahkan tanpa sekat.

SARS-CoV-2 memang merupakan virus yang menginfeksi saluran pernapasan. Namun penularan Covid-19 diketahui bisa terjadi melalui cairan atau tetesan (droplet) dari batuk ataupun bersin. Hingga kini belum ada studi yang membuktikan virus ini bisa menular melalui seksual. Akan tetapi aktivitas seksual boleh jadi menyimpan risiko penularan.

Melansir laman American Sexual Health Association (ASHA), Covid-19 merupakan penyakit pernapasan yang penularannya dengan mudah terjadi salah satunya melalui air liur. Karena itu berciuman ketika berhubungan seks juga bisa jadi berpotensi jadi momen penularan. Melihat kemungkinan-kemungkinan tersebut, apa masih aman berhubungan seks selama pandemi?

Dr Theresa Tam, seorang dokter yang juga Kepala Petugas Kesehatan Masyarakat di Kanada mengungkapkan aktivitas seks yang memiliki risiko paling rendah adalah dengan solo seks. Serupa disarankan American Sexual Health Association, yakni menempuh solo sex--seperti misalnya masturbasi, atau remote sex (seks jarak jauh) sebagai alternatif. Keduanya dinilai bisa memuaskan hasrat seksual, tanpa menyimpan risiko penularan.

Anda hanya perlu memastikan kebersihan tangan atau sex toys yang digunakan. Kemudian, pilihan aman lainnya adalah seks dengan pasangan yang hidup serumah dengan Anda. Namun melihat kondisi new normal dan orang mulai kembali bekerja, Seksolog Dokter Boyke Dian Nugraha mengingatkan untuk tetap waspada dengan menjaga diri maupun pasangan. Reservoir atau penangkap virus banyak berada di mulut dan hidung, sehingga Boyke menyarankan untuk sementara tidak melakukan seks oral dan ciuman mendalam atau deep kiss. "Hindari oral, deep kiss. Hubungan seks biasa saja," kata Boyke dikutip dari CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Seks dengan pasangan yang tidak serumah, semisal ia bekerja di luar kota, juga berisiko. Melansir dari laman Avert, ada risiko penularan virus dari orang-orang yang ditemui. Apalagi jika pasangan bekerja di zona merah atau banyak kasus positif Covid-19.

Demi meminimalkan risiko penularan, ada beberapa cara yang bisa Anda dan pasangan lakukan. - Hindari hubungan seks saat mengalami gejala batuk, demam dan sulit bernapas. Hindari kontak fisik termasuk berciuman atau berpelukan.

Menghindari aktivitas seksual yang melibatkan menjilat sekitar anus (rimming). Mandi dan keramas sebelum berhubungan seks terutama jika sebelumnya dari bekerja di luar rumah. Setelah berhubungan seks pun wajib mandi.

Pertimbangkan untuk foreplay dengan minim sentuhan. Sexting alias berkirim teks 'nakal' bisa Anda coba sebagai 'pemanasan'. Pertimbangkan untuk melakukan masturbasi bersama pasangan dengan menjaga jarak aman.

dokter Boyke Dian Nugraha mengungkapkan ada beberapa tips untuk melakukan hubungan seksual. "Yang pertama adalah orangnya. Kalau suami atau istri kerja maka dia harus memenuhi standar pemerintah. Pulang ke rumah, cuci tangan, lepas masker, mandi, ganti baju, baru melakukan hubungan seks," kata Boyke.

Selain itu, Boyke juga mengungkapkan bahwa selama masa pandemi, melakukan hubungan seks dengan pasangan harus menyenangkan kedua belah pihak. Aktivitas seks yang membosankan akan membuat pasangan mudah merasa bosan. "Sekarang kan lebih sering di rumah, jadi teknik dan posisi harus bervariasi agar pasangan nyaman dan tidak bosan."

Hanya saja seksolog ini juga mengungkapkan untuk menghindari beberapa aktivitas seksual, misalnya oral seks. "Hindari oral, deep kiss. Hubungan seks biasa aja," kata Boyke saat dihubungi CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu. Seks oral merupakan hubungan seks yang melibatkan mulut di dalamnya.

Tak hanya Boyke, ahli mikrobiologi dan imunologi dari Columbia University, Profesor Vincent R. Racaniello juga mengatakan bahwa seks oral di antara dua orang yang tidak menjalankan karantina mandiri secara ketat bisa sangat berisiko. "Jika orang tidak tinggal di rumah dan menjaga jarak sosial, atau melakukan tugas-tugas penting, mereka berisiko terinfeksi dalam aktivitas sehari-hari," ujar Racaniello, mengutip Elite Daily.

BERITA TERKAIT

Manfaat dan Kadar Kebutuhan Magnesium Tubuh

Memenuhi asupan gizi harian berarti tak hanya memenuhi makronutrisi seperti karbohidrat, protein dan lemak. Mikronutrisi termasuk magnesium pun perlu dicukupi.…

Ini Jumlah Vitamin C Harian yang Dibutuhkan untuk Imunitas

Vitamin C punya peran penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh. Apalagi selama pandemi, daya tahan tubuh menjadi salah satu 'benteng'…

Mitos Penularan Virus Corona yang Salah Kaprah

Seiring meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19, mitos seputar penularan virus corona terus berkembang di tengah masyarakat. Mempercayai mitos bisa menimbulkan…

BERITA LAINNYA DI Kesehatan

Manfaat dan Kadar Kebutuhan Magnesium Tubuh

Memenuhi asupan gizi harian berarti tak hanya memenuhi makronutrisi seperti karbohidrat, protein dan lemak. Mikronutrisi termasuk magnesium pun perlu dicukupi.…

Ini Jumlah Vitamin C Harian yang Dibutuhkan untuk Imunitas

Vitamin C punya peran penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh. Apalagi selama pandemi, daya tahan tubuh menjadi salah satu 'benteng'…

Mitos Penularan Virus Corona yang Salah Kaprah

Seiring meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19, mitos seputar penularan virus corona terus berkembang di tengah masyarakat. Mempercayai mitos bisa menimbulkan…