NERACA
Jakarta- Danai pengembangan bisnisnya, anak usaha PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA), PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) meraih fasilitas pinjaman dengan komitmen US$1,4 miliar untuk pengerjaan proyek High-Pressure Acid Leach (HPAL). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.
Disebutkan, pabrik HPAL ini dirancang dengan kapasitas produksi sebesar 90.000 ton per tahun nikel dalam bentuk mixed hydroxed precipitate (MHP). Kontruksi proyek telah dimulai bulan lalu dengan target penyelesaian dalam kurun 18 bulan. Total investasi gabungan untuk pembangunan proyek SLNC, termasuk bunga selama masa kontruksi, diperkirakan mencapai US$1,8 miliar.
Kata Presiden Direktur MBMA, Teddy Oetomo, kemitraan SLNC yang didukung oleh pembiayan utang dengan suku bunga kompetitif dari bank domestik dan regional terkemuka, menjadi tonggak penting dalam strategi MBMA untuk memproduksi bahan baterai hilir. SLNC mengamankan pinjaman dengan komitmen US$1,4 miliar dari Bangkok Bank Public Limited Company, PT Bank Permata Tbk. (BNLI), PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Adapun, jangka waktu dari perjanjian pinjaman 5 bank itu selama 7 tahun, dengan basis bunga SOFR ditambah margin tetap setiap tahunnya. Rencanannya, pelunasan pinjaman itu bakal dibayarkan setiap kuartalan dengan periode yang telah disepakati, termasuk pembayaran akhir pada saat jatuh tempo.
Teddy mengatakan, kemitraan bersama dengan lembaga keuangan itu menunjukkan kualitas perusahaan yang tetap bertumbuh. Dia berharap proyek anyar HPAL itu bisa meningkatkan kapasitas produksi perseroan mendatang. “Ini merupakan langkah strategis dalam memaksimalkan nilai sumber daya nikel yang kami miliki,”ujarnya.
MBMA memiliki SLNC lewat entitas asosiasi PT Merdeka Energi Baru. MEB memiliki 50,1% saham di SLNC. Sementara itu, MBMA memiliki 45% kepemilikan di MEB, sementara Devmalla Materials Pte. Pted memiliki 55%. Kendati demikian, Devmalla telah memberikan call option kepada MBMA, yang memungkinkan MBMA untuk mengakuisisi kepemilikan Devmalla di MEB.
Call option ini berlaku dalam periode tertentu setelah pabrik HPAL beroperasi selama 1 tahun dan pabrik HPAL mencapai EBITDA positif selama 4 kuartal berturut-turut. Seperti diketahui, pabrik HPAL garapan SLNC itu berlokasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), berdampingan dengan fasilitas HPAL yang saat ini dioperasikan oleh PT Huayue Nickel Cobalt (HNC).
Sementara HNC merupakan usaha patungan yang dipimpin oleh Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. (Huayou) dengan kapasitas produksi 60.000 ton per tahun nikel dalam bentuk MHP. Di bawah manajemen Huayou, pabrik HPAL HNC mulai beroperasi pada November 2021 dan mencapai kapasitas penuh pada April 2022.
Inovasi berkelanjutan di bidang energi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat terus dikembangkan Badak LNG, Anak Perusahaan Subholding Upstream Pertamina, sebagai bentuk…
Komitmen BUMN Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID dalam pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan mendapat apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan…
NERACA Jakarta – Lesunya pasar otomotif di tahun 2024 kemarin dan juga kendaraan roda dua, memberikan dampak signifikan terhadap bisnis…
Inovasi berkelanjutan di bidang energi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat terus dikembangkan Badak LNG, Anak Perusahaan Subholding Upstream Pertamina, sebagai bentuk…
Komitmen BUMN Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID dalam pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan mendapat apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan…
NERACA Jakarta – Lesunya pasar otomotif di tahun 2024 kemarin dan juga kendaraan roda dua, memberikan dampak signifikan terhadap bisnis…