Ekonom: Dua Kekuatan Jadi Andalan Dongkrak Ekonomi RI

NERACA

Jakarta- Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, Indonesia punya dua kekuatan yang dapat diandalkan untuk mendongkrak ekonomi tahun depan. Pertama adalah sektor pertanian.

"Indonesia beruntung punya sektor pertanian yang mampu menyerap 29% dari total pekerja atau 38 juta orang. Sektor pertanian ini yang jadi penopang ketika sektor formal seperti industri mengalami tekanan dan terjadi PHK massal," ujarnya di Jakarta, Jumat (18/9).

Menurut Bhima, ada migrasi pekerja yang jadi pengangguran akibat pandemi kembali ke desa bekerja jadi petani. Di poin ini pemerintah harus menjaga sisi supply pertanian. Terlebih saat ini beberapa daerah masuk musim tanam tapi pupuk subsidi pun langka.

"Sementara pupuk non subsidi relatif tidak terjangkau petani. Kemudian pemerintah perlu pangkas rantai pasok dan jaga stabilitas harga komoditas pertanian. Kalau ini bisa dijaga ada optimisme ekonomi di 2021 akan tumbuh positif," ujarnya seperti dikutip merdeka.com.

Seperti diketahui, Indonesia tengah menghadapi kondisi ekonomi yang sulit dipicu pandemi Virus Corona yang melumpuhkan berbagai aktivitas. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diprediksi bakal jauh dari target yang ditetapkan tahun lalu.

Kondisi tahun ini tentunya akan mempengaruhi ekonomi Indonesia tahun depan. Terlebih lagi, sejumlah komponen penopang pertumbuhan ekonomi diperkirakan tak langsung membaik meskipun nantinya vaksin sudah ditemukan.

Kekuatan kedua, menurut Bhima,  bertumpu pada kelas menengah yang produktif. Indonesia menempati posisi 5 negara terbanyak memiliki kelas menengah usia produktif. Hal ini jadi penggerak konsumsi rumah tangga, dan mendorong percepatan bisnis digital.

"Buktinya terjadi kenaikan dibeberapa platform e-commerce dan fintech. Pola konsumsi yang bergerak ke arah belanja online harus didukung oleh pendampingan terhadap UMKM untuk masuk ke marketplace dan perluasan akses internet," ujarnya.

Sebelumnya, peneliti sekaligus ekonom senior Indef, Aviliani, mendorong UMKM untuk lebih mengoptimalkan peluang di pasar domestik. Sebab pasar domestik dinilai masih seksi untuk menyerap produk lokal karya anak bangsa. "Kalau kita lihat peluang di pasar domestik itu sangat besar untuk menyerap produk lokal kita. Maka, UMKM kita perlu diarahkan ke pasar domestik," ujarnya dalam webinar yang digagas oleh Bappenas, belum lama ini.

Aviliani menyebut perkembangan gaya hidup digital menjadi bukti besarnya peluang yang belum dimanfaatkan oleh UMKM. Tercatat, akses teknologi informasi dan komunikasi sudah menjangkau lebih dari 90 persen populasi masyarakat Indonesia.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) jumlah UMKM yang sudah memanfaatkan layanan digitalisasi baru mencapai 13 persen. "Artinya ini masih jauh, jumlah UMKM yang memanfaatkan digitalisasi untuk memperluas cakupan bisnis di dalam negeri," ujarnya.

Terlebih, sambung Aviliani, pada tahun 2030 nanti pemerintah melalui Kemenko Perekonomian memproyeksikan ada 135 juta penduduk Indonesia akan memiliki penghasilan bersih di atas US$ 43.600 sebagai konsumen. Imbasnya tingkat konsumsi masyarakat diyakini akan terus melonjak hingga berkali lipat.

Kemudian, pada tahun yang sama pemerintah juga memprediksi jumlah usia penduduk produktif mencapai 60%, diantaranya 27% adalah penduduk muda dengan rentang usia 16-30 tahun. "Creative class ini akan juga melahirkan permintaan tinggi akan produk kreatif. Terutama produk yang berbasis media dan ICT (content industry)," tegasnya.

Untuk itu, pemerintah baik pusat ataupun daerah didorong perlu memberikan dana alokasi khusus bagi pelatihan pengembangan strategi bisnis UMKM di dalam negeri. Dengan menekankan pemanfaatan digitalisasi dan standarisasi produk berkualitas ekspor. "Sehingga UMKM domestik mampu berdaya saing. Karena kualitas produk dalam negeri bisa terjamin" ujarnya. mohar

BERITA TERKAIT

Sekitar 66,6% Masyarakat Menurun Pendapatannya - HASIL SURVEI LEMBAGA PENELITIAN:

Jakarta-Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengungkapkan 66,6% masyarakat menyatakan pendapatannya rumah tangganya menurun rumah akibat kebijakan pandemi Covid-19.…

TKA TIDAK BEBAS PAJAK - Apindo: UMK Tak Mungkin Turun Setelah UU Ciptaker Berlaku

Jakarta-Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B Sukamdani memastikan upah minimum kabupaten/kota (UMK) yang sudah tinggi, tidak mungkin turun…

Ketersediaan Vaksin Covid-19 Kunci Pemulihan Ekonomi Nasional

NERACA Jakarta-Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Arif Budimanta, menyebutkan ketersediaan vaksin menjadi salah satu kunci dalam penanganan pandemi covid-19. Termasuk…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

Sekitar 66,6% Masyarakat Menurun Pendapatannya - HASIL SURVEI LEMBAGA PENELITIAN:

Jakarta-Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengungkapkan 66,6% masyarakat menyatakan pendapatannya rumah tangganya menurun rumah akibat kebijakan pandemi Covid-19.…

TKA TIDAK BEBAS PAJAK - Apindo: UMK Tak Mungkin Turun Setelah UU Ciptaker Berlaku

Jakarta-Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B Sukamdani memastikan upah minimum kabupaten/kota (UMK) yang sudah tinggi, tidak mungkin turun…

Ketersediaan Vaksin Covid-19 Kunci Pemulihan Ekonomi Nasional

NERACA Jakarta-Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Arif Budimanta, menyebutkan ketersediaan vaksin menjadi salah satu kunci dalam penanganan pandemi covid-19. Termasuk…