Masyarakat Menengah Bawah Tak Sadar Risiko Kanker

Survei teranyar yang dilakukan dalam rangka Hari Kanker Sedunia menunjukkan adanya kesenjangan kesadaran masyarakat terhadap ancaman kanker. Masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas ditemukan memiliki kesadaran dan pemahaman yang lebih tinggi tentang kanker dibandingkan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah.

Jajak pendapat berjudul "International Public Opinion Survey on Cancer 2020: What people feel, think, and believe about cancer today" menunjukkan perbedaan yang jelas antara masyarakat kelompok ekonomi tinggi dan rendah dalam hal pengetahuan dan kesadaran akan faktor risiko kanker. "Jutaan orang memiliki peluang lebih besar terkena kanker karena mereka tak menyadari faktor risiko yang harus dihindari dan tak mengadopsi perilaku sehat. Berbagai informasi juga masih dianggap remeh," ujar Chief Executive Officer Union for International Cancer Control (UICC), Cary Adams, menyalin situs resmi UICC.

Selain itu, hasil survei juga menemukan beberapa faktor risiko yang paling 'populer' di tengah masyarakat. Kebiasaan merokok (63 persen), paparan sinar ultraviolet (54 persen), dan paparan asap rokok dari orang lain (50 persen) ditemukan sebagai tiga faktor risiko yang paling dikenali dan disadari.

Sementara faktor risiko seperti kurang aktivitas fisik atau olahraga (28 persen), paparan virus atau bakteri tertentu (28 persen), dan kelebihan berat badan (29 persen) menjadi yang paling tidak 'populer' di tengah masyarakat.

Masyarakat dari golongan rumah tangga berpendapatan rendah ditemukan lebih tidak mengenali faktor risiko kanker daripada mereka yang berasal dari rumah tangga berpendapatan tinggi. Tren ini juga ditemukan terjadi di antara orang dengan tingkat pendidikan tinggi (setara universitas) dengan yang rendah.

Sementara beberapa mengaku memahami faktor risiko kanker, beberapa lainnya justru mengaku sama sekali tak tahu menahu. Dalam kategori ini, masyarakat dengan pendapatan rendah menjadi kelompok terbesar (9 persen), diikuti oleh masyarakat menengah (6 persen), dan masyarakat menengah ke atas (4 persen).

Selain kurang mengenali faktor risiko, mereka dengan pendidikan dan tingkat ekonomi rendah juga ditemukan tidak proaktif dalam mengambil langkah-langkah demi mengurangi risiko kanker. Survei dilakukan terhadap 15.472 orang dewasa di 20 negara. Survei dilakukan untuk menandai kali ke-20 Hari Kanker Sedunia diperingati.

Keterlibatan Pemerintah

Sebanyak 84 persen responden merasa bahwa pemerintah harus mengambil tindakan untuk mencegah kanker. Sementara itu, hampir sepertiga responden percaya bahwa pemerintah juga perlu meningkatkan akses layanan kesehatan kanker, utamanya pada negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah. "Untuk mengatasi beban kanker global saat ini dan masa depan, pemerintah dan pengambil kebijakan di dunia harus bersatu untuk memastikan bahwa setiap orang diberi kesempatan untuk mencegah kanker, terlepas dari tingkat pendidikan atau ekonomi mereka," ujar Presiden UICC, Princess Dina Mired of Jordan. Dari hasil survei ini, UICC menyerukan agar pemerintah setiap negara dapat memprioritaskan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kanker melalui kebijakan dan pendidikan kesehatan yang progresif. Pemerintah juga diminta fokus pada kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah.

Selain itu, pemerintah juga diminta untuk menerapkan kebijakan demi mengurangi konsumsi produk penyebab kanker seperti tembakau serta makanan dan minuman bergula. Hari Kanker Sedunia diperingati setiap 4 Februari. Kali ini, peringatan mengambil tema 'I Am and I Will' yang meminta setiap orang mengambil langkah sekecil apa pun untuk membantu mencegah kanker.

Kanker menjadi pembunuh nomor dua di dunia. Sebanyak 9,6 juta nyawa di dunia melayang akibat kanker. Lebih dari 3,7 juta nyawa dapat diselamatkan dengan mengimplementasikan perawatan dan pengobatan yang tepat serta melalui deteksi dini. Di Indonesia sendiri, Riskesdas 2018 mencatat peningkatan prevalensi kanker dari 1,3 persen per 1.000 penduduk pada 2013 menjadi 1,8 persen per 1.000 penduduk pada 2018.

BERITA TERKAIT

Penyakit Berbahaya Akibat Polusi Udara: ISPA hingga Kanker

Indonesia berada di posisi ke-9 sebagai negara terpolusi di dunia. Laporan teranyar dari Air Quality Life Index (AQLI) menemukan, polusi…

Protokol Kesehatan di Pasar Tradisional, Lokasi Rawan Corona

Pasar, jadi salah satu lokasi yang menurut Satuan Tugas Penanganan Covid-19 rawan penularan atau menjadi klaster penularan virus corona. Selain…

Aturan Melahirkan di Masa Pandemi Covid-19 dari Kemenkes

Kementerian Kesehatan mengeluarkan aturan penanganan melahirkan di rumah sakit. Aturan melahirkan di masa pandemi virus corona ini dibuat untuk mencegah…

BERITA LAINNYA DI Kesehatan

Penyakit Berbahaya Akibat Polusi Udara: ISPA hingga Kanker

Indonesia berada di posisi ke-9 sebagai negara terpolusi di dunia. Laporan teranyar dari Air Quality Life Index (AQLI) menemukan, polusi…

Protokol Kesehatan di Pasar Tradisional, Lokasi Rawan Corona

Pasar, jadi salah satu lokasi yang menurut Satuan Tugas Penanganan Covid-19 rawan penularan atau menjadi klaster penularan virus corona. Selain…

Aturan Melahirkan di Masa Pandemi Covid-19 dari Kemenkes

Kementerian Kesehatan mengeluarkan aturan penanganan melahirkan di rumah sakit. Aturan melahirkan di masa pandemi virus corona ini dibuat untuk mencegah…