Koalisi dan Oposisi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Rangkaian panjang dari hajatan pesta demokrasi pada akhirnya menyisakan dua karakter yaitu siapa yang berkoalisi dan siapa yang menjadi oposisi. Di satu sisi, koalisi sangatlah penting untuk mendukung suksesnya pelaksanaan pembangunan. Koalisi yang kokoh dan solid menjadi modal penting dalam kehidupan demokrasi karena akan berpengaruh terhadap dukungan pelaksanaan terhadap semua program dan proyek pemerintah. Di sisi lain, koalisi yang kokoh - solid juga tidak bisa terlepas dari kepentingan bagi-bagi kursi kekuasaan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika komposisi kabinet bisa sangat gemuk dan jarang sekali yang ramping. Argumen yang mendasari karena gemuknya dari komposisi kabinet tidak terlepas dari kepentingan untuk berbagi kue kekuasaan melalui penjatahan kursi di pemerintahan.

Berbagi kue kekuasaan sepertinya menjadi sesuatu hal yang biasa pada ritme kehidupan demokrasi. Oleh karena itu, semakin banyak parpol yang terlibat dalam hajatan pesta demokrasi maka secara tidak langsung juga akan berpengaruh terhadap kebutuhan pos jabatan di berbagai kementerian untuk mengakomodasi kepentingan sejumlah parpol yang telah mendukung keberhasilan seseorang untuk menang dan menduduki jabatan di pemerintahan termasuk misalnya menjadi Presiden. Oleh karena itu kemenangan Jokowi saat rematch dengan Prabowo didukung oleh sejumlah parpol pengusung dan sekaligus menjadi koalisinya di jajaran pemerintahan.

Konsekuensi dibalik solid dan kokohnya koalisi tentu tidak menutup mata terhadap sisi kepentingan berbagi kekuasaan. Oleh karena itu wajar jika sebelum komposisi Kabinet Indonesia Maju ditetapkan Presiden Jokowi banyak beredar rumor tentang sejumlah parpol yang minta jatah menteri. Terkait hal ini tentu tidak bisa semuanya diakomodasi meski di sisi lain juga perlu untuk dipertimbangkan. Selain itu, Presiden sepertinya juga perlu bisa membangun komposisi kabinetnya dengan pengisian orang-orang profesional untuk mendukung semua target program dan proyek pembangunan yang disampaikan saat kampanye.

Oleh karena itu, review Tim Ekonomi dalam Kabinet Indonesia Maju menjadi penting, termasuk juga peran dukungan dari jajaran tim kabinet yang lainnya. Urgensi keberadaan tim dalam kabinet tidak bisa terlepas dari kepentingan investor dan pelaku bisnis sehingga dapat membangun prospektf dalam 5 tahun ke depan dan tentu memberikan optimisme, bukan justru sebaliknya yaitu pesimis, apalagi ada ancaman resesi dan konflik perang dagang AS-Cina serta berlarutnya kasus Brexit.

Terlepas dari ragam kepentingan dibalik komposisi Kabinet Indonesia Maju di periode kedua pemerintahan Jokowi bersama Ma’ruf Amin, pastinya ekonomi ke depan semakin pelik dan kompleks karena tantangan tidak saja dari internal tetapi juga eksternal. Paling tidak, hal ini juga menyangkut kondisi sosial-ekonomi-politik dalam negeri, misalnya isu dampak kenaikan sejumlah tarif mulai 2020 dan juga rencana pilkada serentak 270 daerah pada 2020 yang tentunya juga rentan memicu sentimen sospol dalam negeri, dan hal ini bisa kembali memicu keperilakuan wait and see yang jika tidak bisa diantisipasi bisa berubah menjadi wait and worry sehingga memicu sentimen terhadap arus investasi. Oleh karena itu, pemerintah harus mampu membangun kepercayaan bukan saja terhadap pihak asing sebagai konsekuensi globalisasi tapi juga harus mampu membangun jalinan harmoni antara koalisi dan oposisi.

BERITA TERKAIT

Desa Fiktif

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Cerita fiktif ternyata bukan hanya ada di dunia…

Sekadar Mimpi untuk Rakyat

Oleh: Gigin Praginanto, Pengamat Kebijakan Publik Betapa meriahnya sorak sorai para hadirin di IPTN, Bandung, ketika pesawat N250 lepas landas untuk pertama…

Pak Menteri, Tolong Jangan Teruskan

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dalam beberapa kesempatan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Ambiguitas Pembiayaan Mikro Pemerintah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Sudah tak asing lagi dalam kebijakan ekonomi khususnya dalam penyerapan tenaga kerja dan…

Desa Fiktif

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Cerita fiktif ternyata bukan hanya ada di dunia…

Sekadar Mimpi untuk Rakyat

Oleh: Gigin Praginanto, Pengamat Kebijakan Publik Betapa meriahnya sorak sorai para hadirin di IPTN, Bandung, ketika pesawat N250 lepas landas untuk pertama…