Resesi, Bailout, dan Akuisisi Aset Murah

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Ekonomi dan Industri

Penulis mencoba bernalar dengan cara mudah untuk memahami konstruksi dari tiga suku kata yang menjadi judul tulisan ini, yakni RESESI BAILOUT, dan AKUISISI ASET MURAH. Resesi adalah bencana tsunami ekonomi yang dapat berpotensi terjadi baik di negara maju maupun di negara-negara berkembang. Bailout dan Akuisisi adalah bentuk remedy yang dapat dilakukan untuk merecovery kegiatan ekonomi yang terdampak. Bailout bisa dianggap merupakan tindakan "tanggap darurat" agar nafas ekonomi negara yang terkena resesi tidak keburu mati. Sedangkan akuisi merger, pemberian kredit dan mengundang FDI masuk adalah bentuk-bentuk remedy yang dapat diklasifikasi sebagai tindakan yang bersifat Rehabilitasi.

Presiden RI sudah memberikan pernyataan resmi bahwa sebelum resesi ekonomi melanda Indonesia, kita lebih baik siap payung sebelum hujan. Ditegaskan bahwa potensi terjadinya resesi di Indonesia sangat terbuka. Di berbagai media online terpercaya sudah seringkali dibahas fenomena resesi ini.AS punya potensi besar akan mengalami resesi. Jerman juga sedang mengalami tekanan ekonomi dalam negerinya yang berpotensi resesi. Di negara berkembang ada Argentina dan Turki sudah sah dikatakan mengalami resesi oleh media.

Payungnya seperti apa belum diberikan penjelasan karena barangkali menunggu masukan dari para menteri ekonominya. Sekedar pengingat bahwa ada dua resesi ekonomi yang besar pernah melanda dunia setelah terjadi great depression tahun 1929/1930,yakni krisis likuiditas Asia tahun 1997/1998,dan krisis utang Eropa dan AS tahun 2008/2009. Tahun 1998,Indonesia terdampak berat, yakni mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi minus 13%.Investasi mengalami kontraksi sehingga tumbuh negatif 33%.Bangkrutlah Indonesia kala itu karena Indonesia mengalami pengeringan likuiditas. Akuisi aset murah sangat dimungkinkan terjadi saat itu karena perusahaan-perusahaan sektor riil terdampak butuh fresh money untuk dapat melunasi utangnya sehingga aset perusahaan dilego.

Tulisan ini tidak akan membahas mengapa resesi bisa terjadi karena sudah terlalu banyak referensi yang bisa difahami. Yang justru menarik adalah ketika resesesi itu terjadi maka sudah pasti akan ada tindakan penyelamatan berikut berbagai instrumen yang digunakan sebagai remedynya. Sudut pandang penulis memberikan penalaran bahwa di balik resesi selalu muncul juru selamat. Juru selamat itu adalah mereka yang memilki likuiditas. Dana likuid yang mereka miliki itulah yang mengalir ke negeri terdampak untuk mem - bailout atau melakukan tindakan lain sebagai infus darah segar untuk pemilihan ekonomi dan kembali take-off.

Donor itu tidak gratis,dan ada biaya yang harus dibayar. Jadi bailout dan sejenisnya adalah utang baru yang harus ditarik. Ketika terjadi krisis ekonomi berarti utang berutang pada dasarnya menjadi berlipat ganda karena ada utang lama yang belum sempat dilunasi, bertambah lagi dengan datangnya pinjaman baru akibat krisis.

BERITA TERKAIT

Keistimewaan LKMS

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Banyak orang yang masih gamang dan tak tahu tentang lembaga keuangan mikro syariah (LKMS),…

Nasib BPJS

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Rentang lima tahun usia BPJS sejak pengalihan dari PT…

Bank Wakaf Mikro, Apa Kabar ?

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Menjelang akhir 2018, pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan program Bank Wakaf…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Darurat Karhutla

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya     Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)…

Defisit APBN dan Transaksi Berjalan

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Kebijakan industri atau kebijakan apapun yang berorientasi pada kebutuhan jangka panjang memerlukan…

Keistimewaan LKMS

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Banyak orang yang masih gamang dan tak tahu tentang lembaga keuangan mikro syariah (LKMS),…