Aliansi Lintas Industri untuk Pertumbuhan

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Ekonomi dan Industri

Sebagai pembuat kebijakan industri, kita dituntut untuk senantiasa memahami lingkungan strategis yang berpengaruh dari waktu ke waktu. Berarti kita berada dalam jalur performa untuk tidak bersikap statis dalam merumuskan kebijakan, tetapi harus selalu bersikap dinamis agar relasi kita dengan dunia nyata secara real time tidak seperti jokosembung.

Di lapangan, kita harus dapat selalu melihat bahwa setiap hubungan antar dua badan usaha bisnis sampai batas tertentu memilki kadar kompetisi maupun kooperasi. daur hidup industri berada pada dinamika ini, sehingga sensitivitas para pembuat kebijakan sangat dibutuhkan agar produk kebijakan yang dihasilkan tidak menjadi statis, tetapi harus dapat melayani kebutuhan industri supaya dapat hidup di dua alam, yakni alam kompetisi, dan alam kooperasi.

Kompetisi dan koperasi adalah engine of growth karena jika industri tidak bisa hidup di jalur itu, maka dapat dipastikan industri yang bersangkutan tidak mempunyai energi untuk tumbuh, dan berpotensi bangkrut karena hidup dalam kesendirian, apalagi tidak jelas core competencynya.

Sehingga ketika isu de-industrialisasi muncul, dan pertumbuhan industri cenderung terus mengalami penurunan kinerjanya, patut diduga bahwa industri yang bersangkutan secara internal dan eksternal menghadapi persoalan serius di dua area tersebut. Terkait dengan ini, maka pada indikasi berikutnya dapat kita lihat lebih jauh bahwa inilah mengapa indeks partisipasi industri nasional pada global supply chain rendah yang berakibat pada tidak optimalnya indeks manufaktur ( < 50).

Dalam hubungan ini berarti bahwa daya saing industri menjadi faktor utama dan pertama harus bisa dipenuhi, dan ketika perubahan-perubahan yang cepat dalam teknologi dan pasar pada suatu industri, perusahaan-perusahaan industri dituntut untuk mencari keseimbangan baru antara efisiensi dinamis dan statatis, yang kemudian didorong untuk mampu melakukan aliansi strategis.

Philip Kotler secara umum memberikan sebuah wawasan bahwa secara konseptual aliansi strategis memungkinkan sebuah perusahaan memfokuskan dirinya pada kegiatan-kegiatan rantai nilai (value chain). Upayanya ini yang memberinya peluang untuk mengumpulkan semua keuntungan dari berspesialisasi sesuai dengan core competencynya.

Sementara itu, perusahaan dalam jaringan tersebut memperoleh fleksibilitas tambahan dengan tidak perlu melaksanakan kegiatan yang dapat dilaksanakan lebih baik oleh perusahaan lain. Lebih lanjut dikatakan bahwa aliansi adalah cara yang paling menguntungkan untuk menembus pasar baru, untuk memperoleh keterampilan, teknologi, atau produk dan berbagi biaya tetap (fixed cost) dan sumber - sumber daya.

Pakemnya menjadi mengkristal bahwa membangun industri membutuhkan tiga kondisi lingkungan yang memungkinkan industri bisa hidup dan tumbuh, yakni mampu berkompetisi, beraliansi, dan mampu berpartisipasi ke dalam global value chain.

BERITA TERKAIT

Keistimewaan LKMS

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Banyak orang yang masih gamang dan tak tahu tentang lembaga keuangan mikro syariah (LKMS),…

Resesi, Bailout, dan Akuisisi Aset Murah

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Penulis mencoba bernalar dengan cara mudah untuk memahami konstruksi dari tiga suku…

Nasib BPJS

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Rentang lima tahun usia BPJS sejak pengalihan dari PT…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Darurat Karhutla

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya     Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)…

Defisit APBN dan Transaksi Berjalan

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Kebijakan industri atau kebijakan apapun yang berorientasi pada kebutuhan jangka panjang memerlukan…

Keistimewaan LKMS

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Banyak orang yang masih gamang dan tak tahu tentang lembaga keuangan mikro syariah (LKMS),…