Aliran Modal Asing Topang Kondisi Neraca Transaksi Berjalan

NERACA

Jakarta - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan menilai bahwa aliran modal asing masih menjadi hal yang esensial dalam mengatasi permasalahan defisit dari neraca transaksi berjalan yang kerap disorot banyak ekonom. "Aliran modal asing menjadi salah satu poin penting dalam menopang kondisi neraca transaksi berjalan," kata Pingkan Audrine Kosijungan dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, kemarin.

Seiring dengan hal itu, ujar dia, kondisi ketergantungan negara dengan aliran modal asing turut memengaruhi spekulasi pasar mata uang yang lagi-lagi memiliki resiko untuk mengalami depresiasi. Pembangunan infrastruktur yang masif di beberapa wilayah di Indonesia seringkali disebut-sebut sebagai faktor pendorong agresifnya Indonesia dalam mengejar suntikan modal asing.

"Namun, berkaca dari keadaan neraca transaksi berjalan kita yang masih berstatus defisit, suntikan modal asing memang diperlukan untuk menopang pembangunan dan menjaga stabilitas perekonomian Indonesia di tengah dinamika perekonomian global," katanya. Ia juga menyoroti bahwa perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang sudah berlangsung sejak awal tahun 2018 berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Indonesia pun turut terkena imbasnya dengan mengalami depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

Meski demikian, lanjutnya, kondisi tersebut sudah berangsur membaik berkat kondusivitas yang berhasil dijaga oleh pemerintah dengan terus menggenjot ekspor dan melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor. Sebelumnya, investor Eropa mengkhawatirkan dampak proteksionisme dalam berinvestasi di Indonesia yang nilainya meningkat berdasarkan hasil Indeks Kepercayaan Bisnis Kamar-Kamar Dagang Eropa (Joint European Chambers Business Confidence Index/BCI) 2019.

"Salah satu yang kami soroti adalah masalah proteksionisme yang naik 12 persen. Ini mungkin yang ada di pikiran orang soal Indonesia dan investasi, di mana proteksionisme menjadi hal yang populer dalam pengambilan keputusan," kata Sekretaris Kehormatan Kamar Dagang Inggris di Indonesia (Britcham) Nick Holder dalam pemaparan hasil survei tahunan itu di Jakarta, Jumat (9/8).

Holder menjelaskan hasil tersebut berdasarkan jawaban responden saat ditanya mengenai tantangan yang akan dihadapi Indonesia dalam 12 bulan ke depan. Masalah proteksionisme itu meningkat 12 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Meski menjadi salah satu jawaban tertinggi, masalah kebijakan soal tenaga kerja, serta kurangnya tenaga kerja terampil juga menjadi tantangan yang terus mengemuka dalam investasi di Tanah Air.

Sementara aturan soal lingkungan, inefisiensi birokrasi dan korupsi, dinilai masih menjadi tantangan paling besar yang sangat dikhawatirkan pebisnis. Ketua Dewan Eurocham Indonesia Corine Top, dalam kesempatan yang sama, menjelaskan masalah proteksionisme harus menjadi salah satu perhatian pemerintah Indonesia guna meningkatkan investasi dari benua biru ke Tanah Air.

Menurut dia, investasi memberikan dampak besar tidak hanya bagi konsumsi lokal tetapi juga membuka peluang ekspor. "Untuk Indonesia menjadi hub ekspor ke seluruh dunia, investasi itu penting," ujarnya.

Sekedar informasi, defisit transaksi berjalan Indonesia meningkat menjadi 3,04 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sebesar US$8,44 miliar pada kuartal II-2019, dari US$6,96 miliar pada kuartal I 2019 karena penurunan kinerja ekspor ditambah faktor musiman repatriasi dividen atau pembagian keuntungan perusahaan ke luar negeri di paruh kedua tahun ini.

"Kenaikan defisit transaksi berjalan dipengaruhi perilaku musiman repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri, serta dampak pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat dan harga komoditas yang turun," kata Bank Indonesia dalam statistik Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) periode kuartal II 2019 yang diumumkan di Jakarta, pekan kemarin.

Oleh karena defisit transaksi berjalan yang melebar, NPI atau "Balance of Payment" Indonesia juga menjadi defisit dua miliar dolar AS di kuartal II 2019. Secara tahun berjalan sejak awal tahun hingga akhir semester I 2019 ini, NPI masih mencatatkan surplus 0,4 miliar dolar AS. Sebagai gambaran, dalam komponen neraca transaksi berjalan, terdapat neraca transaksi perdagangan barang, neraca jasa, neraca pendapatan primer dan juga neraca pendapatan sekunder.

Dari keempat komponen tersebut, pos perdagangan barang dan pendapatan primer adalah dua komponen yang paling menekan transaksi berjalan pada kuartal II-2019. Defisit neraca pendapatan primer di paruh kedua tahun ini mencapai 8,7 miliar dolar AS atau meningkat dibanding kuartal II-2018 yang sebesar 8,02 miliar dolar AS. Hal ini karena faktor musiman peningkatan kebutuhan repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri.

BERITA TERKAIT

Bankir: Resesi Global Masih Jauh dari Kondisi Nyata

NERACA Jakarta-Kalangan bankir menilai resesi ekonomi global masih jauh dari nyata. Dengan demikian, masyarakat diimbau tak perlu menanggapi isu tersebut…

BI Tetapkan Tarif 0,7% Ke Penjual dari Transaksi Pakai QR Code

  NERACA Jakarta – Bank Indonesia (BI memutuskan transaksi yang menggunakan kode respon cepat atau Quick Response Code (QR Code)…

Tunjang Kegiatan Ekspansi Bisnis - Panca Budi Idaman Suntik Modal Anak Usaha

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnis anak usaha, PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) menambah modal ditempatkan dan disetor penuh…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Menkeu Ingin Porsi Asing di SBN Turun

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menginginkan basis investor domestik dalam kepemilikan Surat Berharga…

Tiga Bank Lokal Minta Izin Kerjasama dengan WeChat dan Alipay

  NERACA Jakarta -  Bank Indonesia (BI) menyebutkan setidaknya ada tiga bank domestik yang sudah mengajukan izin kerja sama dengan…

Bank Global Mulai Pangkas Jumlah Karyawan

  NERACA Jakarta – Berkembangnya era teknologi informasi turut memberikan perubahan di seluruh lini sektor, tak terkecuali di industri perbankan.…