BI Diprediksi Tahan Suku Bunga

NERACA

Jakarta - Lembaga kajian ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuannya sebesar enam persen pada penentuan kebijakan, yang dijadwalkan 20 Juni 2019, mengingat laju pertumbuhan ekonomi domestik masih terjaga dan kebutuhan menarik modal asing untuk menjaga neraca pembayaran.

Kepala Ekonom AMRO Dr Hoe Ee Khor di Jakarta, Selasa (18/6), dalam paparan media, mengatakan selama ekonomi Indonesia masih tumbuh tidak lebih rendah dari kisaran lima persen, belum ada dorongan kuat bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga acuan dari level saat ini. "Seperti kami perkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,1 persen tahun ini, maka belum ada alasan kuat bagi BI menyesuaikan suku bunganya," ujarnya.

Jika sewaktu-waktu ekonomi Indonesia mulai bergulir lemah, maka Bank Sentral baru memiliki ruang untuk memangkas suku bunga acuannya guna memberikan stimulus. Khor menilai ekonomi Indonesia saat ini relatif baik, bahkan cenderung lebih berdaya tahan dibanding beberapa negara lain terhadap imbas negatif dari ketidakpastian ekonomi global yang bersumber dari perang dagang. Indonesia, kata Khor, harus tetap mencermati kondisi arus modal masuk sebagai parameter ketahanan eksternal sebelum menentukan kebijakan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate.

Indonesia masih membutuhkan suplai valas melalui aliran masuk modal asing untuk membiayai permintaan valas, seperti untuk kebutuhan pembayaran impor. "Indonesia masih harus mengarahkan matanya pada kondisi ketahanan eksternal sebelum menentukan suku bunga kebijakan," ujar Khor. BI mempertahankan suku bunga acuan 7 Day Reverse RepoRatesebesar enam persen sejak rapat dewan gubernur pada November 2018.

Hal itu dilakukan setelah sebelumnya BI secara agresif menaikkan suku bunga acuan hingga 175 basis poin (1,75 persen) dalam lima kali kenaikan menjadi enam persen untuk menangkal keluarnya modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar. Bank Sentral akan menggelar RDG untuk menentukan arah kebijakan ke depan pada 19-20 Juni 2019.

Disisi lain, sektor rill dan perbankan juga membutuhkan insentif dari kebijakan suku bunga acuan dari BI untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2019 yang masih di bawah ekspektasi. Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk (BNI) Ryan Kiryanto saat dihubungi Antara di Jakarta, Jumat, mengatakan BI bisa mengoptimalkan momentum tingginya kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia setelah lembaga pemeringkat terkemuka dunia Standard and Poor's (S&P) menaikkan peringkat kredit Indonesia menjadi BBB dari sebelumnya BBB-. "Sektor riil dan perbankan butuh stimulus dari jalur suku bunga untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi supaya Indonesia tidak kehilangan momentum," katanya.

Jika BI menurunkan suku bunga acuan "7 Day Reverse Repo Rate" pada 20 Juni 2019, hal itu akan menjadi pelonggaran suku bunga acuan pertama kalinya setelah era suku bunga "ketat" pada 2018. Di tahun lalu, BI secara agresif menaikkan suku bunga acuan hingga 175 basis poin (1,75 persen) hingga posisi saat ini di enam persen untuk menangkal keluarnya modal asing.

Ryan menilai BI memang memilki ruang yang cukup jika ingin menurunkan suku bunga acuan. Musababnya perekonomian domestik yang membaik ditunjau dari berbagai indikator investasi dan juga ketahanan sistem keuangan untuk membendung keluarnya modal asing. "Inflasi Indonesia terkendali di level rendah, ada perbaikan daya saing (Ease Of Doing Business/EODB) di 2019. Posisi cadangan devisa yang 124 miliar dolar AS atau setara 7,6 bulan impor dan bayar utang luar negeri pemerintah juga masih memadai," ujar dia.

BERITA TERKAIT

Serapan Lelang SBSN Capai Rp7,04 Triliun

    NERACA   Jakarta - Direktorat Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu)…

60% Pengguna Dapatkan Akses Pertama Kredit dari Kredivo

    NERACA   Jakarta - Kehadiran teknologi finansial telah memberikan ruang untuk turut mendorong peningkatan inklusi keuangan di Indonesia…

Palapa Ring Bikin Akses Fintech Tembus ke Daerah Terpencil

  NERACA   Jakarta - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai kehadiran Palapa Ring akan memudahkan peminjaman berbasis teknologi…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Serapan Lelang SBSN Capai Rp7,04 Triliun

    NERACA   Jakarta - Direktorat Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu)…

60% Pengguna Dapatkan Akses Pertama Kredit dari Kredivo

    NERACA   Jakarta - Kehadiran teknologi finansial telah memberikan ruang untuk turut mendorong peningkatan inklusi keuangan di Indonesia…

Palapa Ring Bikin Akses Fintech Tembus ke Daerah Terpencil

  NERACA   Jakarta - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai kehadiran Palapa Ring akan memudahkan peminjaman berbasis teknologi…