Mudik Lebaran 2019: Jalan Tol Satu Arah, Solusi atau Masalah Baru?

Oleh: Ade Irwansyah

Musim mudik Lebaran tahun 2019 bakal sedikit berbeda. Perjalanan pemudik dari Jakarta ke Jawa Tengah lewat jalan tol Trans Jawa maupun sebaliknya pada saat arus balik boleh jadi bakal lebih lancar, karena rekayasa lalu lintas berupa jalan satu arah.

Rencananya, dari KM 29 GT Cikarang Utama-KM 262 GT Brebes Barat akan diberlakukan searah ke sisi timur pada tanggal 30 Mei-2 Juni 2019 mendatang. Sebaliknya pada 8-10 Juni 2019, dari KM 188 GT Palimanan-KM 29 GT Cikarang Utama akan diberlakukan searah menuju barat.

Memberlakukan tol satu arah adalah jurus mutakhir pemerintah mengatasi kemacetan saat musim mudik. Hasil penelitian Balitbang Perhubungan (April 2019), memprediksi pemudik tahun 2019 sekitar 18,2 juta orang.

Moda pilihan terbesar menggunakan mobil pribadi 4,3 orang (28,9 persen), bus ekonomi 2,4 juta (16,1 persen) dan bus eksekutif 2,1 juta (23,9 persen). Sebanyak 1.000.080 mobil paling banyak memilih jalan Tol Trans Jawa, yakni 399.962 mobil (40 persen).

Dengan volume kendaraan sebanyak itu, potensi kemacetan sangat mungkin terjadi. Biasanya kemacetan memanjang di sekitar setiap rest area. Maka, tol satu arah dianggap bisa jadi solusi. Tapi benarkah kebijakan ini bakal jadi solusi? Bagaimana bila yang terjadi justru masalah baru?

Kemacetan, misalnya, bakal beralih ke jalan non-tol. Dinas Perhubungan Kabupaten Bekasi memprediksi bakal terjadi kemacetan di jalur Pantai Utara (Pantura) di wilayah setempat selama arus mudik dan balik lebaran 2019. Diperkirakan kemacetan naik jadi 30 persen akibat imbas jalan tol satu arah.

Dampak kemacetan ini akan membuat bus-bus yang datang dari arah timur ke barat jadi terhambat. Efek turunannya penumpang menumpuk di terminal-terminal akibat menunggu bus datang. Itu sebabnya pihak Organda membuat surat terbuka meminta pemberlakuan tol satu arah tidak berlaku 24 jam penuh.

Sykurlah pihak Kepolisian Lalu-lintas langsung responsif, mengatakan tol satu arah bakal kondisional. Tapi apakah itu cukup mengatasi problem?

Masalah yang mengintai bukan cuma bus yang terhambat dan potensi penumpukan penumpang di terminal. Psikologi pengendara mobil di jalur yang diubah juga patut dipikirkan. Terutama terkait rest area di arah timur ke barat.

Karena satu arah ke timur semua, rest area jadi berada di sebelah kanan. Sementara itu, kita biasa menggunakan jalur kanan untuk mengebut dan mendahului. Ini bisa jadi potensi kecelakaan baru. Bagaimana solusinya?

Mudik lebaran adalah fenomena tahunan. Tapi saban tahun juga selalu ada masalah yang terjadi. Belum lekang dari ingatan kita kemacetan Brexit yang memaksa pemudik bermalam di mobil. Atau ratusan orang yang meninggal sepanjang musim mudik. Apakah kita tak pernah belajar dari masalah-masalah terdahulu dan datang dengan solusi instan? (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Menelisik Sosok Firli, Ketua KPK yang Baru

  Oleh : Dwi Ayu, Pemerhati Sosial Politik   Irjen Pol. Firli Bahuri, menjadi satu – satunya calon pimpinan KPK…

Karut Marut Birokrasi dan Layanan Kemudahan Investor

    Oleh: Pril Huseno Info Bank Dunia kepada Presiden Jokowi terkait 33 perusahaan China yang hengkang dari negaranya, dan…

Jurus Jitu Dongkrak Pertumbuhan via FDI Berbasis Ekspor

  Oleh: Roni Agung, Staf Bea Cukai Cikarang Kemenkeu Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan mencapai kisaran 5,3%. Oleh karena itu, Indonesia memerlukan Foreign Direct Investment…

BERITA LAINNYA DI OPINI

E-Commerce Dukung UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi

Oleh: Ika Puspita Karyati, Staf Pusdiklat Keuangan Umum BPPK, Kemenkeu   Kita telah memasuki era digital, dimana semua hal memungkinkan…

Memilih Menteri Merupakan Hak Prerogatif Presiden

  Oleh : Rendi Alfiansyah, Pengamat Masalah Sosial Politik   Pemilu 2019 telah usai, masyarakat-pun mulai menerka – nerka siapa…

Menelisik Sosok Firli, Ketua KPK yang Baru

  Oleh : Dwi Ayu, Pemerhati Sosial Politik   Irjen Pol. Firli Bahuri, menjadi satu – satunya calon pimpinan KPK…