Dari Komoditas ke Industri Pengolahan

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Ekonomi dan Industri

Di dunia musikal kita selalu mendengar istilah industri. Konsep dasarnya sama yaitu agar bisa go to market dan karya musikalnya dapat diterima oleh para penggemarnya. Masuk ke blantika industri musik menjadi pra-syaratnya. Dalam konteks ini, maka ber-industri hakikatnya adalah merupakan media pengolahan dan sekaligus pematangan segenap unsur sumber daya agar menjadi kuat, solid, kompetitif, kreatif dan inovatif untuk membentuk jati dirinya yang ter-positioning dan ter-branding sehingga memiliki kompetensi inti ketika tampil dalam belantika pasar. Dalam industri musikal kira mengenal istilah Genre.

Dalam kehidupan industri pengolahan hakikatnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan di belantika industri musikal atau industri apapun yang tumbuh dimanapun di dunia. Proses pengolahan adalah media pematangan dan penguatan seluruh organ sumber daya agar mampu menghasilkan barang dan jasa supaya dapat diterima di pasar. Daya tahannya harus kuat, solid dan kompetitif. Prosesnya harus kreatif dan inovatif. Produk dan layanannya harus ter-positioning dan ter-brannding yang mencerminkan kompetensi intinya.

Dengan demikian, pada sektor industri pengolahan pun semestinya harus memiliki Genrenya masing-masing sebagai kompetensi inti yang dipositioning dan dibranding. Sains dan teknologi serta inovasi akan mengantarkan perubahan yang dibutuhkan agar tetap bisa beradaptasi dengan pasar. Perubahan itu tentu memerlukan re-posisi dan re-branding sehingga menghasilkan wajah kompetensi inti yang baru.

Ekosistem industri memang harus dibangun berdasarkan pendekatan by design karena kebutuhan mikro industrinya cenderung tidak sama, meskipun kebutuhan makro industrinya bisa saja tidak berbeda. Kita belum maksimal membangun ekosistem industrial karena mungkin tidak sepenuhnya memahami tatanannya atau dalam bahasa geostrategik tidak memahami lingkungan strategis yang berpengaruh, baik di tingkal nasional, regional maupun global. Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguannya pun tidak dipetakan dengan sedetail-detailnya.

Arus modal, teknologi, barang dan jasa masih cenderung mengalir dari pusat kekuatan ekonomi dunia ke negara-negara berkembang. Nyaris tidak terjadi arus balik kecuali baru China dan India yang mampu mengimbangi. Jika Anda mempelajari bagaimana mereka bangkit, maka yang kita temukan adalah sejumlah ekosistem mikro industri yang dibangun sesuai kebutuhan untuk pembinaan dan pengembangan setiap sumber daya. Tidak ada yang bersifat sapu jagat, yaitu satu ekosistem untuk semua, atau bersifat a cross the board. Hal- hal yang bersifat makro bisa saja bersifat a cross the board, tapi kalau yang ber genre mikro harus bersifat spesifik.

Yang penting untuk kita pahami adalah bahwa di pasar pasti akan selalu ada bahan mentah, barang setengah jadi dan barang jadi. Di pasar juga akan selalu ada barang modal, bahan baku, dan barang konsumsi. Pertanyaannya apakah semua harus dibikin?

BERITA TERKAIT

Pemerintah Serap Rp10,8 Triliun dari Lelang SUN

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana Rp10,8 triliun dari lelang tujuh seri surat utang negara (SUN) untuk…

Pengusaha Optimistis Regulator Dukung Industri

NERACA Jakarta – Pelaku usaha mengaku optimistis dengan hasil pemilihan umum yang baru dilansir Komisi Pemilihan Umum (KPU) bahwa pemerintah…

Gelar Bazar Lebaran - Pemerintah Terus Dorong Industri Jaga Ketersediaan Pasokan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian senantiasa mendorong sektor industri manufaktur agar siap memenuhi kebutuhan konsumen terutama di pasar domestik selama…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Teknologi dan Industri di Satu Sistem

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri Teknologi dan Industri dalam kesehariannya adalah kosakata netral. Tetapi begitu saling bersenyawa menyatu…

Damai 22 Mei

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Tahapan pesta demokrasi akan mencapai klimaksnya pada 22…

Pembiayaan "Back to Back" Syariah

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Di lembaga keuangan syariah ternyata dijumpai istilah pembiayaan "back to back" yaitu pinjaman yang…