OJK Siapkan Tiga Inisiatif Penting - Jaga Pertumbuhan Pasar Modal

NERACA

Jakarta – Menjaga kepercayaan investor pasar modal di tahun politik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berbenah diri dalam rangka pengembangan yang lebih baik. Meskipun kondisi pasar modal hingga pertengahan Maret masih positif, OJK tetap memiliki strategi untuk menjaga pertumbuhan tersebut dengan memiliki tiga inisiatif.

Direktur Pengelolaan Investasi OJK, Sujanto mengatakan, pihaknya memiliki tiga inisiatif penting untuk mengembangkan pasar modal di Indonesia yakni mendorong pemanfaatan obligasi, RDPT, maupun Dinfra (dana investasi infrastruktur berbentuk kontrak investasi kolektif) untuk mendukung pembangunan sektor strategis.”Untuk itu, OJK melakukan sosialisasi investor jangka panjang, seperti dana pensiun, hingga perusahaan asuransi,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dalam hal sosialisasi, Sujanto mengakui, pembahasannya meliputi keterangan mengenai produk investasi dan isu perpajakan di produk. Di samping itu, OJK mendorong penerapan digitalisasi dengan membuat peraturan terkait aktivitas transaksi elektronik di pasar modal. Harapannya, transaksi produk pasar modal semakin berkembang, namun tetap menjaga kenyamanan investor.

OJK juga berupaya memperluas pasar modal dan memberikan relaksasi. OJK berharap, perusahaan kecil dan menengah dapat menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Adapun pada 2018, nilai aktivitas penggalangan dana korporasi melalui IPO, rights issue, dan surat utang tembus Rp 166 triliun.

Disampaikannya pula, nilai kapitalisasi pasar (market cap) di Bursa Efek Indonesia (BEI) naik sekitar 49% menjadi Rp 7.232 triliun selama 2014 hingga 12 Maret 2019. Adapun nilai market cap tersebut setara 48% dari nilai produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada akhir 2018. OJK juga mendata total dana kelolaan (assets under management/AUM) reksa dana termasuk reksa dana penyertaan terbatas (RDPT), produk berbasis kontrak investasi kolektif (KIK), dan dana investasi real estate (DIRE) mencapai Rp 764 triliun atau tumbuh signifikan dibandingkan Rp 222 triliun pada 2014.

Sementara sejak 2015 hingga akhir Februari 2019 jumlah investor pasar modal masih meningkat.”Untuk investor saham naik tiga kali lipat menjadi sekitar 900.000 single investor identification (SID), investor reksa dana tembus di atas 1 juta SID, dan investor di surat berharga negara (SBN) berada si atas 200.000 SID," ujar Sujanto.

Sujanto memastikan, pencapaian saat ini masih akan terus didorong naik lebih jauh. Sebab, OJK berkomitmen mengembangkan industri pasar modal yang berkelanjutan dan mendukung ekonomi di Indonesia. "Jadi karena itulah, kami terbitkan kebijakan strategis untuk mendorong optimisme dan akselerasi pertumbuhan yang berkelanjutan," tandasnya.

Sementara Direktur Utama KSEI, Friderica Widyasari Dewi memberikan pesan jika ingin berinvestasi di pasar modal Ipara pelakuusahaharus memperhatikan aspek ekonomi dan politik negeri ini.“Sebagai pelaku juga harus selalu update terbaru di dua aspek ini” jelasnya.

BERITA TERKAIT

Ekonomi Global Melambat - Fund Rising di Pasar Modal Masih Rendah

NERACA Jakarta – Kendatipun minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal cukup besar dan berbagai aksi korporasi berupa penerbitan…

Dilantik Sebagai Bupati Bekasi, Eka Dititipkan Tiga Pesan Oleh Ridwan Kamil

Dilantik Sebagai Bupati Bekasi, Eka Dititipkan Tiga Pesan Oleh Ridwan Kamil NERACA Jakarta - Eka Supria Atmaja telah resmi mengemban…

Tunggu Pernyataan Efek Efektif OJK - Krida Jaringan Bidik Dana IPO Rp 30 Miliar

NERACA Jakarta – Menyatakan siap mencatatkan sahamnya di pasar modal, PT Krida Jaringan Nusantara Tbk tengah menunggu pernyataan efektif penerbitan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…