Pertumbuhan Ekonomi 2018 : Gagal atau Berhasil?

Oleh: Nailul Huda

Peneliti INDEF

Pertanyaan mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 apakah kegagalan pemerintah atau justru keberhasilan pemerintah sangat banyak di media massa dan media sosial. Kubu oposisi menganggap pertumbuhan ekonomi 2018 sebuah kegagalan, sementara kubu pemerintah meminta masyarakat tidak kufur nikmat dengan pertumbuhan ekonomi 2018 yang mencapai 5,17%. Perdebatan ini bahkan sudah menuju debat kusir yang hanya membahas gagal atau tidak namun tidak membahas substansi dari pertumbuhan ekonomi yang seharusnya lebih penting dari sebuah kata “gagal” dan “berhasil”.

Perekonomian Indonesia saat ini tidak dapat dikatakan stagnan karena memang saat ini perekonomian kita sedang tumbuh meskipun tidak setinggi dari harapan. Jangankan 7% seperti yag dijanjikan oleh Pemerintahan Jokowi-JK awal menjabat, untuk mencapai target di APBN pun tidak. Namun jika kita mengingat kembali, Pemerintah melalui Menteri Keuangan, sempat merilis outlook pertumbuhan ekonomi 2018 yang akan berada di rentang 5,14% sampai 5,21%. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sebenarnya sudah memprediksi tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi jauh-jauh hari. Maka perdebatan ini bagi pemerintah hanya angin lalu yang sebenarnya sudah bisa diprediksi.

Perdebatan akan lebih berbobot ketika kita melihat kepada komponen-komponen pembentuk PDB ataupun pertumbuhan ekonomi. Industri pengolahan masih menjadi komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi terbesar namun kontribusinya terus menurun dan pertumbuhannya juga ikut menurun. Pada tahun 2018 ini, industri pengolahan hanya tumbuh sebesar 4,27%, lebih rendah dari tahun 2017 (4,29%). Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sektor jasa menjadi sektor yang tumbuh melebihi pertumbuhan ekonomi.

Sebut saja jasa transportasi, komunikasi, perusahaan mempunyai pertumbuhan melebih pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kurang berkualitas karena yang tumbuh lebih cepat justru sektor non-tradable. Sedangkan sektor tradable tumbuh meski positif namun dibawah pertumbuhan ekonomi.

Dilihat dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi andalan dalam pertumbuhan ekonomi. Pemerintah dirasa perlu diberikan apresiasi dengan keberhasilan menaham laju inflasi di angka 3,13%. Meskipun masih relatif tinggi dibandingkan dengan negara lain, keberhasilan ini ikut mendorong tingkat konsumsi masyarakat. Selain itu, konsumsi masyarakat juga dipengaruhi oleh perubahan pola konsumsi yang lebih mengedepankan leisure. Terlihat dari konsumsi transportasi dan komunikasi serta restoran dan hotel triwulan IV-2018 yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan IV-2017.

Sumber pertumbuhan ekonomi dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) terus menuju keadaan yang positif. PMTB menyumbang sebesar 32,29% dari total PDB, atau 2,17% dari pertumbuhan ekonomi. Nilai tersebut meningkat dari tahun 2017. Sebuah hal yang bisa dibilang salah satu keberhasilan pemerintahan saat ini.

Namun satu hal yang menjadi pengganjal keberhasilan tentu saja net ekspor yang berpengaruh negatif mengurangi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,99%. Jika kita bisa menjaga net ekspor kita positif tentu pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6%. Pemerintah perlu melihat masalah neraca perdagangan yang saat ini defisit menjadi prioritas utama untuk menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

BERITA TERKAIT

PERTUMBUHAN EKSPOR EMAS

Pedagang menata perhiasan emas yang dijual di Depok, Jawa Barat, Kamis (18/7/2019). BPS mencatat ekspor perhiasan dan permata produksi dalam…

INDUSTRI OTOMOTIF SAMBUT POSITIF PENURUNAN BUNGA - BI Prediksi Pertumbuhan Stagnan di Triwulan II

Jakarta-Kalangan industri otomotif menyambut positif penurunan suku bunga acuan. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia bisa berdampak pada penurunan…

Dua Tantangan Perpajakan Di Era Ekonomi Digital

    NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan mengungkapkan terdapat dua tantangan utama yang harus dihadapi Direktorat…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Tantangan Dihadapi Masih Besar

  Oleh: Tauhid Ahmad Direktur Eksekutif INDEF Indef telah melakukan penelitan-penelitian termasuk dampak perang dagang. Perhitungan indef terhadap dampak perang…

Manajemen Risiko Utang dan Investasi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Utang yang terus menumpuk pada pemerintahan…

Kanalisasi Paradoks Sektor Riil

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Presiden tampaknya sangat risau dengan persoalan defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi…