Oktober 2024, HR Biji Kakao Turun 4,24 Persen

NERACA

Jakarta – Harga Referensi (HR) biji kakao periode Oktober 2024 ditetapkan sebesar USD7.581,49/MT, turun sebesar USD 335,42 atau 4,24 persen dari bulan sebelumnya. Hal ini berdampak pada penurunan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao pada Oktober 2024 menjadi USD 7.167/MT, turun USD 311 atau 4,16 persen dari periode sebelumnya.

Penurunan harga ini tidak berdampak pada BK biji kakao yang tetap sebesar 15 persen sesuai Kolom 4 Lampiran Huruf B pada PMK Nomor 38 Tahun 2024.

“Penurunan HR dan HPE biji kakao akibat dari peningkatan produksi terutama di negara-negara wilayah Afrika Barat dan penguatan dolar Amerika Serikat,” ungkap Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Isy Karim.

Lebih lanjut, Indonesia berkomitmen menjadi bagian dari industri kakao global yang berkelanjutan dan inklusif. Indonesia juga terus memastikan penerapan prinsip konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab guna mendorong peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku industri, serta perlindungan konsumen.

Staf Khusus Menteri Perdagangan Bidang Perjanjian Perdagangan Internasional, Bara Khrisna Hasibuan mengungkakan, “Indonesia sebagai salah satu produsen kakao dunia berkomitmen untuk menjadi bagian dari industri kakao global yang berkelanjutan dan inklusif. Dengan memastikan penerapan prinsip konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, Indonesia mendorong peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku industri, serta perlindungan konsumen.”

Lebih lanjut, Bara menyebut, harga kakao dunia terus mengalami peningkatan drastis dalam beberapa  waktu belakangan ini. Hal ini diantaranya disebabkan oleh menurunnya produksi kakao global karena hama, penyakit, perubahan cuaca, dan tanaman kakao tua yang tidak produktif lagi.

“Di samping itu, kita juga harus memperhatikan implementasi European Union Deforestation-free   Products Regulation (EUDR) pada akhir tahun 2024 yang juga akan menjadi tantangan tersendiri bagi sektor kakao,” jelas Bara.

Bara pun mengungkapkan sejumlah upaya bersama yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan  sektor kakao. Upaya tersebut diantaranya dengan mendorong peningkatan kapasitas dan produktivitas untuk memastikan terpenuhinya pasokan kakao, mendorong iklim investasi yang kondusif untuk sektor  kakao, melakukan hilirisasi produk berbasis kakao dari hulu hingga hilir dengan penggunaan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkanpelatihan bagi petani serta partisipasi aktif generasi muda pada sektor kakao.

Selain itu, lanjut Bara, upaya yang bisa dilakukan yaitu berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. “Saya memandang kolaborasi dengan seluruh pihak merupakan hal  penting  dalam membantu mengatasi tantangan-tantangan tersebut,”harap Bara.

Bara menambahkan,kami ingin mengembalikan posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama di  tingkat global dalam produksi dan ekspor kakao. Konferensi ini merupakan suatu kesempatan bagi  seluruh pemangku kepentingan untuk berkumpul, berdiskusi, dan merumuskan langkah-langkah  strategis dalam membantu memajukan industri kakao dan cokelat global, khususnya di regional Asia.

Lebih lanjut, pemerintah terus mendorong hilirisasi dengan harapan bisa memberikan nilai tambah, salah satunya yakni kakao. Hilirisasi produk kakao menjadi sumber ekonomi baru dengan cara diolah menjadi produk bernilai tinggi (high end product), terlebih Indonesia merupakan salah satu produsen utama kakao di dunia.

Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki mengatakan, “Saya kira ini bentuk nyata ekonomi baru karena ada produk baru. Kita punya potensi besar dari sini (kakao) karena sebelumnya kita hanya jual bahan baku mentahnya tapi karena hilirisasi yang dilakukan Pipiltin maka bisa menciptakan produk baru."

Adapun untuk menjadikan sumber ekonomi baru, perlu dilakukan pembenahan ekosistem atau rantai pasoknya agar permasalahan dari hulu - hilir dapat dituntaskan. Pasalnya banyak produk pertanian dan perkebunan menghadapi hambatan dalam pengembangannya karena ekosistem yang belum sempurna.

Pada 2023, ekspor produk kakao Indonesia ke dunia tercatat sebesar 340,14 ribu ton dengan nilai mencapai USD1,2 miliar. Pada tahun tersebut, impor Indonesia untuk produk kakao tercatat sebesar 340,45 ribu ton dengan nilai USD979 juta.

Berdasarkan data International Cocoa Organization, Indonesia merupakan negara produsen biji kakao  terbesar di kawasan Asia dengan pangsa produksi sebesar 62,3 persen. Daerah  dengan penghasil biji kakao terbesar di Indonesia yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKAIT

Smesco dan MGID Kolaborasi Tingkatkan Kompetensi dan Inovasi UMKM Perluas Pemasaran Digital

NERACA Jakarta - Smesco Indonesia berkolaborasi dengan MGID untuk meningkatkan kompetensi pelaku kewirausahaan dan UMKM agar mampu berinovasi dalam memperluas…

Oktober 2024, PE Sawit Sebesar USD893,64/MT

NERACA Jakarta – Harga Referensi (HR) komoditas minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) untuk penetapan Bea Keluar (BK) dan tarif…

3 Kontainer Tuna Kaleng dari Banyuwangi Diekspor ke Kanada

NERACA Banyuwangi – Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melepas ekspor perdana tiga kontainer tuna kaleng dari Banyuwangi, Jawa…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Smesco dan MGID Kolaborasi Tingkatkan Kompetensi dan Inovasi UMKM Perluas Pemasaran Digital

NERACA Jakarta - Smesco Indonesia berkolaborasi dengan MGID untuk meningkatkan kompetensi pelaku kewirausahaan dan UMKM agar mampu berinovasi dalam memperluas…

Oktober 2024, HR Biji Kakao Turun 4,24 Persen

NERACA Jakarta – Harga Referensi (HR) biji kakao periode Oktober 2024 ditetapkan sebesar USD7.581,49/MT, turun sebesar USD 335,42 atau 4,24…

Oktober 2024, PE Sawit Sebesar USD893,64/MT

NERACA Jakarta – Harga Referensi (HR) komoditas minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) untuk penetapan Bea Keluar (BK) dan tarif…