PRS, Solusi Sementara PGN untuk Alirkan Gas Bumi di Jawa Tengah

NERACA

Semarang - Dengan berdirinya sejumlah kawasan industri baru seperti di Kendal dan Ungaran, menjadi salah satu pertimbangan bagi investor dan para pelaku usaha untuk masuk ke Jawa Tengah. Untuk itu, pemerintah diminta untuk mempercepat pembangunan infrastruktur gas bumi di wilayah itu. Apalagi, menurut data Apindo potensi energi gas pada dunia industri di Jawa Tengah cukup besar karena banyak industri manufaktur seperti tekstil, baja, keramik, makanan-minuman, dan farmasi yang membutuhkan gas.

Head of Department Strategic Stakeholder Management PGAS Santiaji Gunawan mengungkapkan saat ini PGN terus berupaya memasok gas bumi untuk wilayah Semarang dengan berbagai cara. Salah satunya dengan pembangunan infrastruktur CNG.

“Saat ini kita sudah bisa memasok gas bumi dalam bentuk CNG yang tersedia di Stasiun Penurun Tekanan (Pressure Reducing Station/ PRS) Tambak Aji, dan ini menjadi salah satu solusi yang tepat dan sifatnya hanya sementara, sebelum infrastruktur pipa gas bumi terbangun, untuk menghubungkan Jawa Timur sebagai titik pasok, dengan JawaTengah sebagai titik pasar," ujar Santiaji di Semarang, Jawa Tengah, akhir pekan kemarin.

Lebih lanjut Santiaji mengungkapkan PRS Tambak Aji merupakan fasilitas temporer yang akan berhenti beroperasi ketika proyek jalur pipa gas transmisi Gresik-Semarang selesai. Proyek ini sendiri ditargetkan selesai pada awal tahun depan. Kendati demikian, pasokan CNG akan tetap ada namun akan langsung terintegrasi dengan jalur pipa transmisi gas tersebut. CNG masih bisa berjalan dan bahkan bisa berkembang lagi.

"Layanan gas bumi melalui CNG diawali di Kawasan Industri Tambak Aji dan terus melakukan pengembangan wilayah di Kawasan Industri Wijaya Kusuma. Pada tahun 2016, PGN juga menerima penugasan pengoperasian Jargas APBN di Semarang dan Blora. Kota di Jawa Tengah yang dipilih PGN untuk diaktifkan kembali kegiatan operasionalnya pada tahun 2014 lalu dimana sebelumnya sempat terhenti beroperasi pada periode tahun 2000-an sebagai pelaksanaan peran pengelola gas bumi domestik," jelas Santiaji.

Santiaji mengatakan wilayah Semarang untuk rata-rata hari biasa, gas bumi yang dipasok PGN untuk sektor industri dan rumah tangga di wilayah Semarang, dikonsumsi sekitar 220.000-250.000 meter kubik per bulan. Sedangkanpemakaian rata-rata gas bumi untuk sektor rumah tangga di tahun 2019 sebesar 22.000 meter kubik per bulan, yang mengalami kenaikan 37 persen dibandingkan dengan tahun 2018.

"Seiring berkembangnya industri baru dan meningkatnya kebutuhan energi yang lebih efisien dalam empat tahun terakhir, PGN terus fokus mempercepat pembangunan infrastruktur gas bumi di Jawa Tengah. Sesuai peran subholding gas, PGN melalui PT Pertagas tengah menyelesaikan jaringan pipa gas transmisi Gresik-Semarang. Pembangunan jaringan pipa gas transmisi 28 inci sepanjang 268 kilometer ini ditargetkan terealisasi segera," ungkapnya.

Head of Department Strategic Stakeholder Management PGAS ini juga sangat yakin pembangunan pipa gas transmisi Gresik-Semarang akan segera rampung, kemudian dilanjutkan dengan pengembangan jaringan pipa distribusi gas. Kami berharap dengan pembangunan infrastruktur ini dapat menyuplai gas untuk industri dengan kapasitas maksimal 400 MMSCFD.

Di tempat berbeda, Sekertaris Perusahaan, Rahmat Hutama menjelaskan pembangunan jalur pipa gas transmisi Gresik-Semarang merupakan tindak lanjut dari eksplorasi gas bumi di Lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) Bojonegoro, Jawa Timur. Proyek JTB dikelola PT Pertamina EP Cepu (PEPC) dan telah ditetapkan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) oleh Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP).

"Dengan kapasitas penjualan gas sebesar 192 MMSCFD, produksi gas JTB akan dialirkan melalui pipa Gresik-Semarang. Sesuai proyeksi lapangan JTB memiliki kandungan gas hingga sebesar 2,5 triliun kaki kubik (TCF). Selain memasok kebutuhan untuk Jawa Timur, gas dari JTB juga akan mengaliri PLTGU Tambak Lorok di Semarang dan pelaku usaha lainnya di Jateng," tukasnya.

Rachmat menjelaskan, setelah menyelesaikan proyek tersebut, PGN akan membangun pipa distribusi jalur Semarang-Kendal-Ungaran sepanjang 96 kilometer. Jaringan pipa gas ini akan menjamin wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya mendapatkan pasokan gas secara berkelanjutan. Ke depannya, koneksi infrastruktur gas bumi Trans Jawa diharapkan akan tersambung sampai Jawa Barat dan Sumatera sehingga akan meningkatkan keandalan pasokan serta perluasan pasar gas bumi untuk utilisasi gas bumi domestik.

“Pembangunan berbagai infrastruktur gas itu menjadi prioritas utama PGN, mengingat semakin besarnya kebutuhan energi yang lebih efisien di berbagai wilayah di Indonesia, terutama untuk daerah-daerah yang selama ini belum terjamah gas bumi dan memiliki potensi ekonomi yang sangat baik untuk pengembangan sektor kelistrikan, industri, transportasi, dan rumah tangga,” jelasnya.

Salah satu pelaku industri di Semarang yang sudah merasakan manfaat ketika memakai gas bumi adalah CV Darat. Agustinus selaku manager mengatakan keuntungan menggunakan energi gas antara lain, hasil pembakaran dengan gas lebih stabil dan merata sehingga proses produksi bisa lebih cepat

"CNG dipakai untuk bahan bakar fasilitas pemanas atau boiler yang dimiliki perusahaan tersebut. Sebelumnya, perusahaan yang mampu memproduksi 200 ton tapak ban per bulan ini menggunakan solar untuk memanaskan boiler. Tingkat efisiensi produksi kami naik sekitar 30% sejak menggunakan CNG,” papar Agustinus.

BERITA TERKAIT

MKP Komit Mendorong Industi Perikanan

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo komit untuk mendorong industri perikanan dalam memacu ekspor. Tapi industri perikanan…

Indonesia Bersinergi dengan Korea Kembangkan Industri Kreatif

NERACA Jakarta - Indonesia dan Korea Selatan berpeluang untuk menjalin kerja sama dalam upaya pengembangan industri kreatif. Langkah sinergi ini…

Industri Migor Berharap Tahun 2020 Produk Kemasan Dijalankan

NERACA Jakarta – Tahun 2020 sudah didepan mata. Pelaku industri minyak goreng (migor) yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Bangun EBT Kementerian ESDM Butuh Investasi US$ 36,95 miliar

NERACA Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI tidak main-main dalam meningkatkan  pembangkit energi baru terbarukan (EBT)…

Hannover Messe 2020, Peluang RI Tarik Investasi dan Kerjasama Teknologi

NERACA Jakarta - Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Doddy Rahadi mengatakan Indonesia akan menjadi…

Dukung E-Commerce dan Logistik SLP Resmikan Cluster Persewaan Gudang dan Fasilitas Pabrik Modern

NERACA Karawang -  PT SLP SURYA TICON INTERNUSA (“SLP”) dan anak perusahaanya PT SLP INTERNUSA KARAWANG (“SLPIK”), entitas anak PT…