Memahami Gunung Merapi dari Ketep Pass

Jalanan terasa semakin menanjak, meninggalkan pemandangan perkotaan Magelang di belakang. Kini di kanan dan kiri hanya terlihat rumah-rumah kecil yang bersebelahan dengan kebun sayur. Tak berapa lama, punggung Merapi menampakkan dirinya di sebelah kiri. Siang itu wujudnya tertutup kabut, namun tetap gagah. Dari kejauhan rumah-rumah penduduk seakan berbaris dengan patuh di kakinya.

Ketep Pass berada tepat di seberang Gunung Merapi, gunung paling legendaris di Pulau Jawa. Objek wisata ini paling populer se-Magelang setelah Candi Borobudur. Wisata yang ditawarkan berupa edukasi gunung berapi.

Buka setiap hari dengan harga tiket Rp10 ribu untuk turis lokal dan Rp50 ribu untuk turis mancanegara, Ketep Pass merupakan objek wisata favorit keluarga sampai pasangan yang sedang memadu kasih. Hawanya teduh, pemandangannya indah. Rasanya tidak ada pengunjung yang tak mengeluarkan kameranya untuk berfoto di sini.

Museum Vulkanologi bernama Ketep Vulcano Centre, Ketep Volcano Theatre, Gardu Pandang, Spot Teropong, dan Pelataran Panca Arga merupakan area yang bisa dijelajahi pengunjung. Di Ketep Vulcano Centre dan Ketep Volcano Theatre kita bisa menambah wawasan mengenai jenis gunung merapi, efek letusan gunung, sampai upaya penyelamatan saat gunung sedang memuntahkan lahar.

Sedangkan Gardu Pandang, Spot Teropong, dan Pelataran Panca Arga menjadi tempat paling pas untuk duduk-duduk makan pisang goreng dan minum teh sembari memandangi si Merapi.

Wisata dan bencana

Ketep Pass dikelola beroperasi sejak tahun 2003 di bawah pemerintah kota Magelang. Walau setiap harinya ramai oleh "jamaah selfie", namun saat Merapi bergejolak Ketep Pass juga diandalkan sebagai pos pengamatan. Salah satunya saat letusan hebat yang terjadi pada tahun 2010.

"Ketep Pass terbilang aman sebagai pos pengamatan, karena bisa dibilang dampak letusan tidak sampai sini. Paling hanya debu. Yogyakarta jauh lebih parah," kata Alfian, Kepala Pemasaran Ketep Pass, pada akhir pekan kemarin dikutip dari CNN Indonesia.com.

Selama bekerja di Ketep Pass, Alfian sudah menyaksikan beberapa letusan Merapi. Dikatakannya, jenis letusan yang diderita gunung setinggi 2.968 mdpl ini terus berubah. Saat tahun 2006 letusan diawali oleh gempa dan diakhiri oleh lahar panas. Sementara tahun 2010 letusan Merapi berupa ledakan.

Alfian mengatakan hal tersebut wajar karena pergerakan magma bumi memang tidak bisa ditebak, meski ia berharap Merapi bisa muntah lebih senyap sehingga tak melulu makan korban jiwa.

Tebak alam

Berada di "cincin api" membuat Indonesia terus membenahi mitigasi bencananya. Magma yang membuncah bukan hanya menyebabkan gunung meletus, tapi bisa juga gempa, longsor, sampai tsunami, begitu penjelasan sederhana Alfian. Walau sudah ada badan resmi seperti BMKG atau BNPB yang bakal mengumumkan kapan harus mengungsi, masyarakat yang tinggal di kaki gunung berapi seperti di Merapi tetap mengandalkan isyarat alam.

Jika sudah terjadi gempa yang disusul suara gemerisik pohon dan hewan yang berlarian dari puncak gunung, itu berarti sudah saatnya mereka angkat kaki dari rumah. Tinggalkan sinetron yang sedang ditonton. Lupakan kasur yang sedang ditiduri. Bawa sarung dan pakai sendal jepit segera. Sayangnya kini isyarat alam lebih sering lemah sinyal. Masyarakat jadi sering gagap membaca tanda bahaya dari alam.

Biang keroknya: kerusakan lingkungan.

"Gunung terus ditebangi. Pohonnya hilang, hewan-hewan pergi. Jadi tidak ada lagi isyarat bencana yang bisa didengar dan dilihat warga," kata Alfian sambil menunjuk punggung-punggung Gunung Merapi yang terlihat botak. "Gunung yang semakin gersang juga membuat magma lebih sering mendidih dan cepat keluar. Kerusakan alam bisa membuat gunung berapi lebih sering meletus," lanjutnya.

Tebak menebak isyarat alam memang sudah menjadi tradisi turun menurun di masyarakat Indonesia. Mulai dari Mbah Marto sampai Mbah Maridjan dipandang sebagai juru kunci Gunung Merapi.

Banyak yang menganggap mbah-mbah ini punya misi dunia gaib. Namun sejatinya mereka ditugasi Keraton Yogyakarta untuk menjadi mengawasi Merapi, sehingga jika ada bahaya langsung memberi tahu warga sekitar. Gajinya tak seberapa, yang penting bisa menunaikan titah sultan, begitu kata Alfian mengenai profesi para kuncen Merapi.

"Aku ditugaske di sini untuk njagain," sebut Alfian menirukan perkataan Mbah Maridjan ketika diminta turun gunung oleh tim evakuasi saat letusan Merapi sembilan tahun yang lalu.Tak berapa lama tim evakuasi turun ke pos jaga terdekat, lahar panas melumat desa tersebut. Mbah Maridjan selesai menunaikan tugasnya dan langsung pulang ke pangkuan Yang Maha Esa. Kini sosoknya diabadikan di Museum Rumah Mbah Maridjan yang berada di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Sleman.

Jika Mbah Maridjan setia dengan tugasnya, maka banyak warga yang tak ingin dievakuasi karena takut kehilangan harta benda. Warga di kategori ini paling berpotensi menjadi korban jiwa. Alfian mengatakan kini ada Organisasi Pengurangan Resiko Bencana (OPRB) yang ditugaskan pemerintah untuk mengedukasi masyarakat mengenai dampak letusan Merapi.Warga diajak belajar kembali membaca isyarat alam - kali ini dalam koridor ilmiah - serta patuh dengan imbauan resmi.

"OPBR sering bilang ke masyarakat 'dimohon untuk mematuhi imbauan evakuasi resmi, atau apakah Anda mau bernasib seperti Mbah Maridjan?'. Saya rasa perkataan seperti itu bakal lebih diingat oleh warga," kata Alfian.

BERITA TERKAIT

Ini Tips Menjaga Dompet Tetap Tebal saat Wisata

Berwisata kerap disebut sebagai kegiatan menghambur-hamburkan uang. Padahal jika cukup cermat, bukan tidak mungkin bagi wisatawan bisa berhemat selama melakukan…

Malam Satu Suro, Jumlah Pendaki ke Puncak Lawu Meningkat

Jumlah pendaki Gunung Lawu (3.265 mdpl) melalui jalur Cemoro Sewu di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur meningkat signifikan pada…

Rekreasi Jiwa di Nusa Dua

Sejumlah kegiatan seperti yoga, meditasi dan pembersihan telah merupakan telah lama dilakukan masyarakat Hindu di Bali. Kini ritual yang unik…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Ini Tips Menjaga Dompet Tetap Tebal saat Wisata

Berwisata kerap disebut sebagai kegiatan menghambur-hamburkan uang. Padahal jika cukup cermat, bukan tidak mungkin bagi wisatawan bisa berhemat selama melakukan…

Malam Satu Suro, Jumlah Pendaki ke Puncak Lawu Meningkat

Jumlah pendaki Gunung Lawu (3.265 mdpl) melalui jalur Cemoro Sewu di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur meningkat signifikan pada…

Rekreasi Jiwa di Nusa Dua

Sejumlah kegiatan seperti yoga, meditasi dan pembersihan telah merupakan telah lama dilakukan masyarakat Hindu di Bali. Kini ritual yang unik…