Harga Jual di Pasar Turun Tekan Pendapatan TPIA

NERACA

Jakarta – Manajemen PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) mengungkapkan, dampak harga jual rata-rata yang turun seperti produk olefins, polyolefins dan styrene monomer di pasar menjadi alasan melorotnya pencapaian kinerja keuangan di kuartal pertama 2019.

Perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengungkapkan, mencatatkan pendapatan bersih sepanjang kuartal I/2019 sebesar US$552,22 juta atau turun 20,58% secara tahunan. Adapun, beban pokok pendapatan turun 11,88%, dari US$554,36 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$488,50 juta pada kuartal I/2019. Dari itu, laba periode berjalan turun 76,07%, dari US$73,60 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$17,61 juta pada kuartal I/2019.

Manajemen TPIA menjelaskan pendapatan bersih yang turun akibat dari harga jual rata-rata yang lebih rendah. Misalnya, harga styrene monomer turun menjadi US$1.041 per metrik ton pada kuartal I/2019, dari US$1.127 per metrik ton pada kuartal IV/2018. Penjualan styrene monomer berkontribusi 17,49% terhadap pendapatan perseroan. Adapun, penjualan terbesar masih dikontribusikan dari segmen usaha polyolefins sebesar 48,08%, disusul olefins sebesar 23,83%.

Sementara itu, beban pokok pendapatan yang turun karena biaya bahan baku yang lebih rendah, terutama naphtha yang turun dari US$603 per metrik ton pada kuartal I/2018 menjadi rata-rata US$533 per metrik ton pada kuartal I/2019. Lebih lanjut, laba bersih setelah pajak yang tertekan sebagian besar disebabkan laba kotor yang lebih rendah, biaya keuangan yang lebih tinggi, dan bagian rugi bersih entitas asosiasi.

Meski kinerja perseroan tertekan pada kuartal I/2019, Direktur TPIA Suryandi berpendapat perseroan telah mengawali tahun ini secara kuat dalam konteks tantangan industri yang lebih luas.“Kami mencatat 26 juta jam kerja tanpa lost time accident, sebuah catatan keselamatan baru. Pabrik polyethylene 400 KTA (kilotons per annum) baru akan selesai dan beroperasi sesuai rencana pada akhir tahun ini bersama dengan debottlenecking pabrik polypropylene untuk lebih meningkatkan skala ekonomi perseroan,”ujarnya.

Suryandi menambahkan, permintaan terhadap produk perseroan tetap menguat untuk memenuhi pasar domestik Indonesia yang kekurangan secara struktural. Meski kondisi pasar yang menantang telah menekan harga jual rata-rata produk, perseroan tetap menghasilkan margin EBITDA dua digit yakni 12%.

Perseroan juga mengungkapkan, memperoleh fasilitas pembebasan pajak atas investasi pabrik polyethylene baru senilai US$380 juta. Disebutkan, fasilitas pembebasan pajak untuk pabrik tersebut terdiri dari pengurangan pajak penghasilan perusahaan sebesar 100% untuk 10 tahun pertama setelah mulai produksi komersial. Selanjutnya, diikuti pengurangan sebesar 50% untuk 2 tahun berikutnya.

Kata Presiden Direktur Chandra Asri Petrochemical, Erwin Ciputra, fasilitas pembebasan pajak mencerminkan kepercayan dan bentuk dukungan pemerintah terhadap industri petrokimia. Insentif pajak ini mendukung ekspansi perseroan untuk menambah kapasitas polyethylene sekitar 400.000 ton per tahun, yang akan meningkatkan kapasitas saat ini 336.000 ton per tahun.

BERITA TERKAIT

Genjot Pertumbuhan Investor - BEI Gelar Sekolah Pasar Modal HIPWI FKPPI

NERACA Jakarta – Perkuat basis investor lokal di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus perluas edukasi  manfaat pasar…

Raih Global Islamic Finance Awards - Pasar Modal Syariah Indonesia Terbaik di Dunia

NERACA Jakarta –Kesekian kalinya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapatkan penghargaan internasional Global Islamic Finance Awards (GIFA) 2019 untuk kategori…

WEGE Catatkan Kontrak Baru Rp 5,2 Triliun

NERACA Jakarta – PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) mencatatkan kontrak baru hingga pekan pertama September 2019 mencapai Rp5,2…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perbaiki Kinerja Keuangan - INAF Kembangkan Strategic Business Unit

NERACA Jakarta – Dorong pengembangan bisnis lebih ekspansif, PT Indofarma Tbk (INAF) fokus mengembangkan strategi pendirian strategic business unit (SBU)…

Melalui Proyek ISED - Siapkan SDM Unggul di Manufaktur dan Pariwisata

NERACA JAKARTA - Indonesia telah memasuki era digitalisasi dan Industri 4.0. Bersamaan dengan hal tersebut, pemerintah Indonesia telah meluncurkan “Making…

Geliatkan KEK Tanjung Lesung - KIJA Cari Investor Potensial Kembangkan Wisata

NERACA Jakarta – Bangkit dari musibah gempa dan tsunami Banten yang terjadi pada 2018 lalu, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk.…