Objek Wisata Sejarah di Peneleh yang Terabaikan

Peneleh merupakan salah satu kampung kuno di Surabaya yang sudah berusia ratusan tahun. Kampung ini menjadi saksi perjalanan Surabaya, bahkan Indonesia, dalam menghadapi pergantian zaman. Salah satu jejak sejarah yang berusia ratusan tahun terekam pada artefak-artefak yang hingga kini masih bisa dilihat, mulai dari makam, masjid, pasar, perkampungan, hingga rumah-rumah bersejarah.

Peninggalan itu tidak hanya berupa tempat yang masih aktif hingga kini yang berupa perkampungan dan pasar, tetapi juga bangunan kuno dan situs lainnya. Mengutip Antara, Senin (20/5), Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pun sempat mengunjungi Kampung Peneleh dan memulai penelusurannya dari Jalan Lawang Seketeng IV RW 15 Kelurahan Peneleh.

Beberapa sesepuh di tempat itu berusaha menjelaskan setiap bangunan kuno yang ada di tempatnya. Hingga akhirnya tibalah ia di Langgar Dukur Kayu Lawang Seketeng, yang konon dibangun sejak 1893.

Bangunan langgar tingkat dua itu memang terlihat kuno dan berbeda dengan bangunan-bangunan di sampingnya. Meskipun kuno, namun bangunan itu terlihat bersih, seakan tak pernah lupa disapu. Di depan langgar itu, warga juga menunjukkan Al-Quran kuno yang tidak dilengkapi nomor surat dan juznya.

Sementara itu peninggalan pada masa Belanda adalah makam Belanda Peneleh yang berdiri pada tahun 1814 Masehi, yang dianggap pemakaman modern tertua di dunia. Peninggalan pada masa kolonial ini bisa dilihat dari banyaknya rumah berarsitektur Indies atau bangunan lama di kampung Peneleh.

Selain makam Belanda, di kampung Peneleh juga terdapat makam-makam lama yang dikeramatkan warga. Makam-makam ini diduga berasal dari masa ketika Islam pertama masuk ke Jawa, jauh sebelum Belanda datang.

Di antara mereka diketahui kisahnya, tetapi selebihnya memang masih diselimuti misteri. Di antaranya yang kondang adalah makam Nyai Buyut Champa, Buyut Minggir, Buyut Dawa, Buyut Malang dan Buyut Bening. Sayangnya, makam-makam kuno tersebut kurang terawat. Menurut pengamat bangunan cagar budaya sekaligus Direktur Sjarikat Poesaka Surabaya, Freddy H. Istanto, jika makam Belanda di Peneleh dirawat, maka akan bernilai tinggi, bahkan tidak kalah dengan makam Pere Lachaise di Prancis.

Freddy menilai pemerintah kota setempat tidak memiliki visi pelestarian bangunan dan situs cagar budaya, sehingga banyak bangunan cagar budaya yang tidak terawat bahkan sebagian ada yang dibongkar oleh pemiliknya. "Surabaya Kota Pahlawan, Surabaya Kota Sejarah. Orientasi pembangunannya jangan mengesampingkan nilai sejarah. Banyak gedung bertingkat bermunculan. Ini bisa mengancam eksistensi bangunan serta situs cagar budaya," katanya.

Menurut dia, makam Peneleh jika dirawat dengan baik akan jadi obyek wisata heritage.Ia mengatakan bahwa sudah ada desain makam Peneleh hasil desain pakar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), namun hingga saat ini belum ditindaklanjuti.

Ladang Harta Karun

Namun tak hanya peninggalan era perjuangan saja yang menjadi atraksi utama di sana. Dalam kawasan tersebut, ada sebuah rumah kuno yang diduga terdapat lukisan tangan Presiden RI pertama Soekarno.

Bahkan ada pula meja yang diduga merupakan meja peninggalan salah satu Pahlawan Nasional asal Surabaya yang menjadi lakon utama dalam pertempuran 10 November 1945, yakni Bung Tomo. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang menyempatkan datang ke kawasan Peneleh tampak kagum dengan desain-desain bangunannya masih asri, termasuk lantai-lantainya yang sudah tidak beredar di pasaran. "Kalau bisa rumah ini ditetapkan jadi bangunan cagar budaya saja," ujar Risma seperti yang dikutip dari Antara.

Usai berkunjung ke rumah tersebut, Risma kemudian pindah ke Pandean Gang 1. Di gang itu, terdapat Sumur Jobong Majapahit. Sumur Jobong seperti ini banyak terdapat pada situs-situs permukiman pada masa Hindu Budha, khususnya di Trowulan yang merupakan bekas Ibu Kota Majapahit.

Dalam kesempatan tersebut Risma ditunjukkan batu bata dan beberapa gerabah, bongkahan keramik, serta tulang belulang yang ditemukan di dalam sumur itu. Wali kota Surabaya itu juga sempat membuka beberapa dokumen hasil kajian tim dari Trowulan tentang Sumur Jobong ini.

Risma menjelaskan bahwa dulu ada cerita bahwa Kota Surabaya itu namanya Ujung Galuh. Dengan adanya bukti-bukti sejarah ini, maka betul bahwa Surabaya itu jadi kota pada zaman Majapahit. Oleh karena itu, ia melanjutkan, bukti sejarah ini bisa menjadi situs yang dilindungi sehingga nantinya bisa dimanfaatkan untuk wisata di Surabaya.

Untuk itu dibutuhkan waktu untuk merangkai sebuah cerita, antara data yang ada di buku sejarah dengan hasil temuan di lapangan. "Memang sulit tapi bukan tidak bisa, butuh biaya dan waktu," ujarnya. Menurut Risma di kampung ini pasti ada sebuah cerita yang terkait dengan masa lampau atau bahkan sebelum abad kolonial. Ia berharap semua itu nantinya dikumpulkan untuk dirangkai dalam satu cerita.

Risma mengatakan bahwa yang paling penting dari semua itu adalah jangan sampai keterkaitan sejarah ini hilang begitu saja. Benda-benda itu akan diteliti dan digandengkan cerita-ceritanya, sehingga diharapkan akan diketahui pada masa apa kawasan ini berkembang. Jika berhasil menggandengkan cerita-cerita itu, Risma yakin bahwa cerita itu akan lebih bagus dan menarik daripada cerita dari Eropa. Karena itu, suatu saat akan dibuat serangkaian cerita, apalagi kawasan ini sudah termasuk kawasan cagar budaya.

BERITA TERKAIT

Ini Tips Menjaga Dompet Tetap Tebal saat Wisata

Berwisata kerap disebut sebagai kegiatan menghambur-hamburkan uang. Padahal jika cukup cermat, bukan tidak mungkin bagi wisatawan bisa berhemat selama melakukan…

Malam Satu Suro, Jumlah Pendaki ke Puncak Lawu Meningkat

Jumlah pendaki Gunung Lawu (3.265 mdpl) melalui jalur Cemoro Sewu di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur meningkat signifikan pada…

Rekreasi Jiwa di Nusa Dua

Sejumlah kegiatan seperti yoga, meditasi dan pembersihan telah merupakan telah lama dilakukan masyarakat Hindu di Bali. Kini ritual yang unik…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Ini Tips Menjaga Dompet Tetap Tebal saat Wisata

Berwisata kerap disebut sebagai kegiatan menghambur-hamburkan uang. Padahal jika cukup cermat, bukan tidak mungkin bagi wisatawan bisa berhemat selama melakukan…

Malam Satu Suro, Jumlah Pendaki ke Puncak Lawu Meningkat

Jumlah pendaki Gunung Lawu (3.265 mdpl) melalui jalur Cemoro Sewu di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur meningkat signifikan pada…

Rekreasi Jiwa di Nusa Dua

Sejumlah kegiatan seperti yoga, meditasi dan pembersihan telah merupakan telah lama dilakukan masyarakat Hindu di Bali. Kini ritual yang unik…