Presiden Janjikan Kenaikan Harga Gula di Tingkat Petani

NERACA

Jakarta – Presiden Joko Widodo menjanjikan kenaikan harga gula di tingkat petani tebu, dari harga pokok pembelian gula saat ini yaitu Rp9.700 per kilogram. "Tolong saya diberi waktu seminggu, akan undang Pak Sumitro dan tim bicara soal ini, jangan saya baru tahu soal ini terus minta diputuskan. Intinya semangatnya kita naikkan, berapanya belum diputuskan," kata Presiden Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta, disalin dari Antara.

Presiden Joko Widodo menyampaikan hal tersebut dalam acara "Silaturahim Presiden Republik Indonesia dengan Para Petani Tebu Tahun 2019". Acara tersebut juga dihadiri oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko, Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Sumitro Samadikun, sekitar 200 petani tebu seluruh Indonesia dan sejumlah pejabat lainnya.

Dalam acara itu, Presiden menerima sejumlah keluhan dari para petani tebu termasuk mengeluhkan harga pokok pembelian gula yang ditetapkan pemerintah hanya Rp9.700/kilogram dan meminta harga tersebut dinaikkan menjadi Rp10.500/kilogram gula.

"Selanjutnya juga minta mesin-mesin dari pabrik BUMN harus direvitalisasi, bisa diterima, kemudian soal bansos tebu, kemudian KKPE (Kredit Ketahanan Pangan dan Energi) tebu akan saya urus karena saya pikir hal ini sangat penting," tambah Presiden.

Presiden mengaku bahwa usulan revitalisasi pabrik gula itu akan dibuat prioritas nomor 1, 2, 3 dan seterusnya. "Kalau bicara dengan pelaku-pelaku saya lebih cepat nangkep dan ditindaklanjuti. Kadang-kadang saya bicara dengan birokrasi tidak masuk sehingga keputusan itu tidak bisa saya ambil mohon maaf. Jangan dipikir semua hal saya mengerti," ungkap Presiden.

Presiden juga akan menindaklanjuti usulan mengenai sistem bagi hasil antara petani tebu dengan pabrik gula. "Kemudian yang menarik rendemen individu betul penting? Sehingga bersemangat untuk memperbaiki rendemennya. Lalu untuk 'harvester' (alat panen) nanti saya perintahkan Menteri Pertanian siapkan masalah ini," ungkap Presiden.

Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Sumitro Samadikun dalam sambutannya mengakui bahwa belakangan ini petani tebu mengalami kesulitan menjual gula di pasar karena banyaknya gula impor dan rendahnya harga pokok pembelian gula.

"Apalagi Bulog hanya membeli dari petani pabrik penggilingan BUMN, sedangkan pabrik yang bukan BUMN seperti di Kebun Agung harganya jatuh di bawah Rp9.000/kilogram. Sedangkan impor kami harapkan saat ini tidak impor dulu karena stok masih ada," kata Sumitro.

Sumitro juga meminta agar tidak ada gula rafinasi (gula untuk industri makanan dan minuman) yang bocor ke konsumen sehingga merusak harga pasaran gula di tingkat konsumen.

"Ketiga, kami mohon sebelum pabrik gula yang tidak efisien ditutup mohon diberikan pabrik gula yang baru dan modern dan bisa menyediakan gula konsumsi yang bisa memenuhi kebutuhan petani, kalau pabrik baru sudah berfungsi baru pabrik lama ditutup," tambah Sumitro.

BERITA TERKAIT

Satu Pabrik Gula Lagi Bakal Beroperasi di Sumsel

Satu Pabrik Gula Lagi Bakal Beroperasi di Sumsel NERACA Palembang - Satu pabrik gula lagi yakni PT Pratana Nusantara Sakti…

Kenaikan Tarif Kargo Udara Berdampak ke Sektor Perikanan

NERACA Jakarta-Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Rifky Effendi Hardijanto, mengatakan kenaikan tarif kargo udara turut…

HARGA BAWANG MERAH ANJLOK

Buruh tani memanen bawang merah di Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaan, Jombang, Jawa Timur, Senin (18/2/2019). Harga bawang merah di tingkat…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sektor Pangan - Harga Beras di Indonesia Termasuk Murah di Pasar Internasional

NERACA Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan harga beras di tingkat eceran masih terjangkau oleh masyarakat dan…

Harga Minyak Naik Didukung Optimisme Perdagangan

NERACA Jakarta – Harga minyak terus menguat pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena pasar didukung oleh tanda-tanda kemajuan…

Agar Pemerintah Benahi Kekacauan Tata Niaga Impor Pangan

NERACA Jakarta – Pemerintah diminta membenahi kekacauan tata niaga impor pangan nasional terutama yang terkait dengan tata produksi, distribusi, serta…