Indika Energy Raih Pinjaman US$ 75 Juta - Kembangkan Bisnis Anak Usaha

NERACA

Jakarta – Kembangkan bisnis lebih agresif lagi di 2019, PT Indika Energy Tbk (INDY) menerima fasilitas pinjaman senilai US$75 juta. Pinjaman tersebut didapat bersamaan dengan penandatanganan perjanjian fasilitas dengan empat entitas anak usahanya, yaitu PT Indika Inti Corpindo, PT Tripatra Engineers and Constructors, PT Tripara Engineering, dan Tripatra Pte Ltd sebagai penanggung awal.

Sekretaris INDY, Adi Pramono dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengungkapkan bahwa dalam perjanjian tersebut, ICICI Bank Limited, MUFG Bank Ltd, PT Bank Mandiri Tbk bertindak sebagai pemberi pinjaman awal. Selain itu MUFG juga akan bertindak sebagai agen pinjaman, sedangkan bank Mandiri merangkap sebagai bank rekening dan agen jaminan.”Fasilitas ini akan dipergunakan untuk membiayai pengembangan bisnis anak perusahaan INDY dalam membangun, memiliki, dan mengoperasikan dermaga (jetty) serta terminal penyimpanan bahan bakar,” kata Adi,

Adi menambahkan, INDY memberi jaminan melaui mekanisme pari passu berdasarkan ketentuan dalam Indenture untuk obligasi IV, obligasi V, dan obligas VI yang terutang. Direktur Indika Energy, Aziz Armad pernah bilang, total cadangan batu bara Kideco Jaya Agung tahun ini bisa mencapai 500 juta metrik ton.

Disampaikannya, peningkatan cadangan batu bara tersebut berasal dari empat wilayah usaha penambangan (WUP). Empat WUP tersebut adalah Roto Samurangau, Susubang Uko, Samu Biu dan Pinang Jatus. Samurangau dan Pinang masih dalam tahap eksplorasi. Mayoritas dari Roto dan Susubang. [Penaikan] sebagian besar dari yang eksisting," ungkapnya.

Dalam laporan eksplorasi September 2018, luas empat lahan WUP tersebut mencapai 47,5 ha. Adapun, total cadangan Kideco pada 2018 sekitar 422 juta ton. Hingga saat ini, Kideco memiliki 50 pelanggan yang berasal dari 16 negara. Saat ini, perseroan juga akan membangun gudang di Kalimantan Timur, melalui PT Kariangau Gapura Terminal Energi (KGTE), dengan nilai investasi sekitar US$108 juta, atau sekitar Rp1,5 triliun.

Adapun, fasilitas penyimpanan tersebut bekerja sama dengan PT ExxonMobil Idnonesia. Dalam perjanjian dengan ExxonMobil, katanya, KGTE akan memiliki, dan mengoperasikan terminal di Kalimantan Timur. Terminal ini, akan menjadi bentuk dukungan INDY terhadap pengembangan logistik nasional, khususnya di Indonesia bagian timur.

Terkait dengan rencana investasi senilai US$108 juta untuk mendukung bidang logistik, awalnya, perseroan merencanakan mengalokasikan investasi senilai US$20 juta. Namun, dalam realisasi hal tersebut tidak terjadi, sebab investasi awal senilai US$20 juta tersebut akan dilakukan pada awal 2019. Sumber pendanaan untuk membangun terminal ini juga berasal dari pinjaman perbankan, yang akan diperoleh dari tiga bank. Sebagian dari pinjaman ini akan dalam dolar AS.

BERITA TERKAIT

Kapan Anak Perlu Ikut Bimbel?

  Menghadapi anak dengan banyak tugas sekolah, tak jarang membuat orangtua menjadi bingung. Bingung bagaimana menjelaskan pelajaran anak yang berbeda…

Honda akan Tarik Sekitar 1 Juta Kendaraan di AS dan Kanada

  Honda akan menarik dari peredaran sekitar 1 juta unit kendaraan di Amerika Serikat dan Kanada karena inflator kantong udara…

Sumbangkan Dana US$ 1 Juta - Google.org Bantu Persiapan Bencana di Indonesia

Menyadari Indonesia menjadi negara rawan bencana dan bencana sendiri tidak bisa diprediksi kapan datangnya, maka kesadaran masyarakat akan potensi bencana…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Targetkan 7000 Investor Baru di Solo

NERACA Solo - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Surakarta, Jawa Tengah menargetkan sebanyak 7.000 investor baru hingga akhir 2019 baik…

Sepekan, Kapitalisasi Bursa Tumbuh 0,99%

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesis (BEI) mencatatkan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pekan ketiga di bulan Maret…

Sepekan, Kapitalisasi Bursa Tumbuh 0,99%

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesis (BEI) mencatatkan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pekan ketiga di bulan Maret…