Gunung Raja Paksi Merugi US$ 14,95 Juta

NERACA

Jakarta – Di kuartal tiga 2020, PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) mencatatkan rugi periode berjalan sebesar US$ 14,95 juta atau memburuk dibanding akhir kuartal III 2019 yang mencatatkan laba periode berjalan sebesar US$ 3,106 juta. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Selain itu, perseroan juga membukukan penjualan bersih pada akhir kuartal III tahun 2020 tercatat sebesar US$ 467,48 juta atau turun 23,44% dibanding periode yang sama tahun 2019 yang tercatat sebesar US$ 610,91 juta. Tapi beban pokok penjualan usaha tercatat sebesar US$ 452,14 juta atau turun 19,28% dibanding akhir kuartal III 2019, yang tercatat sebesar US$ 560,5 juta.

Sehingga tercatat laba kotor  pada akhir kuartal III 2020 sebesar US$ 15,33 juta, atau turun 70% dibandingkan dengan akhir kuartal III 2019 yang mencatat laba kotor US$ 50,41 juta. Selain itu, pada sisi ekuitas  tercatat senilai US$ 676,79 juta atau  turun 2,17% dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat sebesar US$ 691,74 juta. Sementara itu, kewajiban perseroan tercatat sebesar US$ 342,84 juta atau mengalami penyusutan  9,2% dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat sebesar US$ 377,39 juta.   

Adapun aset perseroan tercatat senilai US$ 1,019 miliar atau turun 4,67% dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat senilai US$ 1,069  miliar. Sementara kas bersih diperoleh dari aktivitas operasi tercatat  US$196,23 juta, atau tumbuh 20,2% dibandingkan akhir III 2019 yang tercatat sebesar  US$  163,94 juta. Sebagai informasi, perseroan menargetkan mampu menjual 1 juta ton baja tahun ini.

Untuk memenuhi target penjualan, emiten produsen baja ini tetap berusaha mencari pasar baru dan optimis dapat mencapai target penjualan tersebut. Diakui dengan adanya pandemi Covid-19 ini, banyak proyek proyek infrastruktur  yang tertunda. Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) pun hampir semuanya dialokasikan untuk biaya kesehatan. GGRP pun memutar otak untuk tetap melakukan terobosan guna mencari pasar lain, yakni dengan membidik pasar ekspor.

Selain ke Kanada, GGRP juga telah melakukan ekspor ke Malaysia, Selandia Baru, dan Australia. Saat ini GGRP juga sedang menjajaki pasar Amerika Serikat (AS). Namun, khusus untuk pasar Negeri Paman Sam, Fedaus mengatakan pabrikan harus lulus dari lembaga sertifikasi  AISC (American Institute of Steel Construction) khusus nya mengenai steel fabrication. Tahun ini, GGRP mengalokasikan dana belanja modal atau capital expenditure  (capex) senilai US$ 40 juta dan sudah terpakai 70% dari total anggaran.

GGRP pun mendukung rencana kebijakan Standar Nasional Indonesia (SNI) pada produk baja. Selain itu, GGRP juga mendorong pemerintah untuk memberikan kemudahan dalam perizinan, insentif investasi, pengadaan bahan baku, insentif tenaga kerja dan transportasi sehingga industri baja dalam negeri dapat memanfaatkan peluang ini.

BERITA TERKAIT

Kasus Covid-19 Naik Tajam, - Jokowi Minta Mendagri Tegur Kepala Daerah

Ambisi pemerintah bisa menekan angka kasus positif Covid-19 di penghujung tahun ini lebih rendah, rupanya belum sesuai harapan dan justru…

Perawatan Untuk Twindemic - Daewoong Pharmaceutical Kembangkan Niclosamide

Di tengah krisis Covid-19 yang berkepanjangan di seluruh dunia, kekhawatiran akan "twindemic" (epidemi ganda) semakin meluas. Twindemic merupakan sebuah fenomena…

Meredam Kepanikan dan Jaga Stabilitas Pasar Saat Pandemi

Sejak pertama kali dilanda pandemi Covid-19 pada Maret 2020 sampai saat ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) setidaknya sudah melakukan…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Kasus Covid-19 Naik Tajam, - Jokowi Minta Mendagri Tegur Kepala Daerah

Ambisi pemerintah bisa menekan angka kasus positif Covid-19 di penghujung tahun ini lebih rendah, rupanya belum sesuai harapan dan justru…

Perawatan Untuk Twindemic - Daewoong Pharmaceutical Kembangkan Niclosamide

Di tengah krisis Covid-19 yang berkepanjangan di seluruh dunia, kekhawatiran akan "twindemic" (epidemi ganda) semakin meluas. Twindemic merupakan sebuah fenomena…

Meredam Kepanikan dan Jaga Stabilitas Pasar Saat Pandemi

Sejak pertama kali dilanda pandemi Covid-19 pada Maret 2020 sampai saat ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) setidaknya sudah melakukan…