Terbitkan RDPT Tol Becakayu - Waskita Toll Road Raup Dana Rp 550 Miliar

NERACA

Jakarta - PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) melalui anak usahanya PT Waskita Toll Road (WTR) meraup dana senilai Rp 550 miliar dari penjualan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) ekuitas Danareksa Infrastruktur. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Kata Director of Business Development & Quality, Safety, Health & Environment Waskita. Fery Hendriyanto, proses penerbitan RDPT ini sudah dimulai sejak Mei 2020 dan pada Agustus 2020 lalu.“WTR telah menandatangani perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) atas rencana pengalihan sebagian sahamnya di KKDM. Pengalihan itu melalui instrumen ekuitas RDPT,” ujarnya.

Disampaikannya, RDPT ini memanfaatkan underlying asset 30% saham PT Kresna Kusuma Dyandra Marga (KKDM). KKDM sendiri merupakan badan usaha jalan tol yang memegang konsesi ruas Bekasi – Cawang - Kampung Melayu (Becakayu). RDPT ini berbasis ekuitas dan dibentuk oleh Manajer Investasi yakni PT Danareksa Investment Management (DIM) dan sebagai Bank Kustodian yakni PT Bank Central Asia, Tbk (BCA).

Sementara itu, Direktur Utama WTR Herwidiakto menuturkan, raihan dana sebesar Rp 550 miliar nantinya digunakan untuk membiayai pembangunan dan pengembangan ruas Becakayu dan ruas tol WTR lainnya. Sedangkan pilihan divestasi melalui RDPT ini merupakan bagian dari upaya untuk memperoleh penerimaan dana agar proses bisnis WTR dalam melakukan asset recycle dapat terlaksana.

Dia menambahkan, besarnya minat investor terhadap RDPT ekuitas ini menjadi bukti tingginya kepercayaan investor terhadap fundamental bisnis WTR di bidang infrastruktur, khususnya jalan tol di Indonesia. “Ke depan, kami akan melakukan inovasi-inovasi dalam rangka percepatan penerimaan untuk penyelesaian proyek dan investasi infrastruktur jalan tol lainnya.” jelas Direktur Utama WTR.

Sebelumnya, Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soerwardjono pernah bilang, perseroan tengah menyiapkan sejumlah strategi untuk menopang kinerja keuangan ke depan. Di antaranya, restrukturisasi utang, divestasi saham tol, dan penguatan sumber daya manusia. Dalam restrukturisasi tersebut, perseroan berupaya bernegosiasi dengan sejumlah bank untuk bisa memperpanjang tenor utang perseroan. “Yang menjadi masalah bagi kami adalah sebagian besar pendanaan jangka pendek. Padahal investasi proyek, khususnya jalan tol, membutuhkan pembiayaan jangka panjang. Karena investasi tol tidak langsung menguntungkan masih harus menunggu setidaknya 10 tahun sebelum menghasilkan,” ujarnya.

 

BERITA TERKAIT

Kasus Covid-19 Naik Tajam, - Jokowi Minta Mendagri Tegur Kepala Daerah

Ambisi pemerintah bisa menekan angka kasus positif Covid-19 di penghujung tahun ini lebih rendah, rupanya belum sesuai harapan dan justru…

Perawatan Untuk Twindemic - Daewoong Pharmaceutical Kembangkan Niclosamide

Di tengah krisis Covid-19 yang berkepanjangan di seluruh dunia, kekhawatiran akan "twindemic" (epidemi ganda) semakin meluas. Twindemic merupakan sebuah fenomena…

Meredam Kepanikan dan Jaga Stabilitas Pasar Saat Pandemi

Sejak pertama kali dilanda pandemi Covid-19 pada Maret 2020 sampai saat ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) setidaknya sudah melakukan…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Kasus Covid-19 Naik Tajam, - Jokowi Minta Mendagri Tegur Kepala Daerah

Ambisi pemerintah bisa menekan angka kasus positif Covid-19 di penghujung tahun ini lebih rendah, rupanya belum sesuai harapan dan justru…

Perawatan Untuk Twindemic - Daewoong Pharmaceutical Kembangkan Niclosamide

Di tengah krisis Covid-19 yang berkepanjangan di seluruh dunia, kekhawatiran akan "twindemic" (epidemi ganda) semakin meluas. Twindemic merupakan sebuah fenomena…

Meredam Kepanikan dan Jaga Stabilitas Pasar Saat Pandemi

Sejak pertama kali dilanda pandemi Covid-19 pada Maret 2020 sampai saat ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) setidaknya sudah melakukan…