Perbanyak Instrumen Investasi - OJK Dorong Pasar Modal Perdalam Pasar

NERACA

Jakarta – Dalam rangka mengoptimalkan peran pasar modal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menginginkan pasar modal Indonesia bisa melakukan pendalaman pasar lagi meskipun saat ini kinerjanya relatif sudah stabil setelah sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Disampaikan Wimboh, dengan adanya Covid-19 ini sangat jelas apa yang harus dilakukan industri pasar modal ke depan.”Secara garis besar kita harus menjaga pasar modal kita lebih dalam lagi supaya kita bisa lebih resilient ke depan. Kita cukup bangga bahwa kita akhirnya bisa menahan penurunan IHSG dan membawa kembali kepercayaan investor menjadi lebih baik lagi, bahkan IHSG kita sudah di atas 5.000,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dirinya menyakini akan kembali normal sejalan dengan pertumbuhan perekonomian Indonesia ke depan, namun tetap harus tetap waspada. Menurut Wimboh, pendalaman pasar modal harus terus dilakukan diantaranya dengan memperbanyak instrumen investasi baik yang sifatnya ritel maupun korporat. Insentif dapat diberikan kepada para penerbit efek atau emiten agar bisa membuat instrumen investasi yang bisa diakses oleh para investor, khususnya investor ritel.

Dengan banyaknya instrumen investasi di pasar modal, lanjut Wimboh, diharapkan harus memenuhi kebutuhan pasar baik instrumen biasa ataupun instrumen lindung nilai (hedging). Investor asing banyak mengeluhkan instrumen hedging di Indonesia yang belum lengkap baik untuk nilai tukar maupun risiko suku bunga, serta hedging default.”Sehingga investor asing ini kalau ada sentimen negatif strateginya pasti di sell-off karena tidak ada hedging yang mumpuni. Toh kalau ada cukup mahal, terutama nilai tukar. Ini adalah tantangan-tantangan kita bersama," kata Wimboh.

Wimboh menuturkan selain instrumen, yang perlu diperdalam adalah investor selaku pemain (player) di pasar modal dengan memperluas basis investor terutamanya investor ritel. Saat ini basis investor ritel sudah semakin besar. Sekitar 73% transaksi di pasar saham adalah transaksi ritel dan merupakan transaksi yang paling banyak dalam lima tahun terkahir.”Kami sambut baik bahwa akhir-akhir ini banyak basis investor yang terjadi di pasar transaksinya adalah transaksi ritel. Ini harus terus kita lakukan agar ini semakin meluas sehingga kalau banyak investor-investor ritel kita, volatility kita bisa dikendalikan dengan lebih baik," ujar Wimboh.

Dia menambahkan, dalam rangka pendalaman pasar modal, dukungan infrastruktur juga krusial agar semua proses di pasar modal dapat dilakukan secara elektronik sehingga transaksi bisa dilakukan secara cepat oleh investor di manapun. Selain pendalaman pasar modal, penerapan digitalisasi di pasar modal menjadi penting untuk bisa membuka dan mempercapat akses bagi seluruh investor di seluruh nusantara.

 

 

BERITA TERKAIT

Uni Charm Optimis Ada Kenaikan Penjualan

NERACA Jakarta – Meski pencapaian kinerja keuangan di kuartal tiga tahun ini terkoreksi, namun hal tersebut tidak membuat optimisme emiten…

Laba Temas Line Menyusut Tajam 94,93%

NERACA Jakarta – Emiten pelayaran, PT Temas Tbk (TMAS) atau Temas Line membukukan laba bersih Rp5,095 miliar atau anjlok 94,93% dibanding priode yang…

Fitch Naikkan Peringkat Utang APLN Jadi CCC-

NERACA Jakarta – Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings menaikkan peringkat utang PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) dari C menjadi…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Uni Charm Optimis Ada Kenaikan Penjualan

NERACA Jakarta – Meski pencapaian kinerja keuangan di kuartal tiga tahun ini terkoreksi, namun hal tersebut tidak membuat optimisme emiten…

Laba Temas Line Menyusut Tajam 94,93%

NERACA Jakarta – Emiten pelayaran, PT Temas Tbk (TMAS) atau Temas Line membukukan laba bersih Rp5,095 miliar atau anjlok 94,93% dibanding priode yang…

Fitch Naikkan Peringkat Utang APLN Jadi CCC-

NERACA Jakarta – Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings menaikkan peringkat utang PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) dari C menjadi…