Laba Bersih Bank Victoria Terkoreksi 75,7%

NERACA

Jakarta – Terkena dampak pandemi Covid-19, performance kinerja keuangan PT Bank Victoria Internasional Tbk (Bank Victoria) terkoreksi tajam. Dimana laba bersih perseroan di semester pertama 2020 tercatat sebesar Rp 8 miliar atau turun 75,7% dari priode yang sama tahun lalu Rp 32,9 miliar.

Wakil Direktur Utama Bank Victoria, Rusli mengatakan, capaian laba bersih diperoleh dari mempertahankan pendapatan non bunga di tengah rasio net interest income (NII) yang menurun.”Kami mampu mempertahankann fee based income kami di semester pertama sehingga secara keseluruhan kami masih mampu membukukan laba bersih Rp 8 miliar. Meski tidak cukup signifikan namun masih cukup bagus dalam rangka membuat bank kami profitable,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Pertumbuhan juga terjadi dari sisi rasio permodalan (CAR) meningkat jadi sebesar 18,22% dari sebelumnya 17,29% pada posisi Desember 2019. Kemudian rasio kredit macet (Non Performing Loan/NPL) netto bank juga mengalami penurunan menjadi sebesar 2,73% dari sebelumnya sebesar 4,96% pada posisi Desember 2019. Angka ini masih cukup aman karena jauh di bawah batas regulator sebesar 5%.

Disampaikan Rusli, hingga saat ini keadaan likuiditas Bank Victoria tetap pada kondisi yang baik. Hal ini dapat dilihat dari rasio likuiditas bank melalui rasio kredit yang diberikan (Loan to Funding Ratio/LFR) bank yang saat ini berada pada kisaran yang sehat, yakni 82%. Sementara itu, penyaluran kredit Bank Victoria hingga semester pertama 2020 telah mencapai Rp 14,6 triliun atau meningkat 2,3% secara tahunan (year on year/yoy). Namun pihaknya tidak memungkiri, penyaluran kredit di masa pandemi Covid-19 mengalami kendala.

Rendahnya permintaan kredit dari industri berpotensi membuat pertumbuhan kredit stagnan hingga akhir tahun 2020."Maka itu perbaikan kredit akan kami tingkatkan terus. CASA juga kami tingkatkan agar biaya dana bisa menurun. Kita ingin mempercepat proses kredit, mencegah NPL, dan meningkatkan yield on loan dan fee based income," paparnya.

Sementara untuk mengerek NPL turun, pihaknya sudah melakukan pemetaan terhadap beberapa debitur yang bisnisnya sudah terdampak pandemi Covid-19. Debitur ini bakal diberikan penanganan restrukturisasi di awal, sebelum debitur mendatangi bank.”Kami akan jemput bola secara langsung. Kami antisipasi jangan sampai nasabah yang datang ke bank. Kalau nasabah sudah datang ke bank, itu sudah telat," ujar Rusli.

Perseroan, lanjutnya, tidak memasang target cukup tinggi untuk pertumbuhan kredit hingga akhir tahun 2020. Menurutnya, penyaluran kredit secara industri saat ini masih mengalami hambatan lantaran tidak adanya permintaan di masyarakat akibat pandemi Covid-19,”Kredit sampai akhir tahun tentunya pertumbuhannya tidak signifikan, bisa mempertahankan saja cukup bagus. Demand (permintaan)-nya  memang tidak ada. Dengan tidak adanya permintaan, bank kesulitan menyalurkan kredit,” kata Rusli.

BERITA TERKAIT

Uni Charm Optimis Ada Kenaikan Penjualan

NERACA Jakarta – Meski pencapaian kinerja keuangan di kuartal tiga tahun ini terkoreksi, namun hal tersebut tidak membuat optimisme emiten…

Laba Temas Line Menyusut Tajam 94,93%

NERACA Jakarta – Emiten pelayaran, PT Temas Tbk (TMAS) atau Temas Line membukukan laba bersih Rp5,095 miliar atau anjlok 94,93% dibanding priode yang…

Fitch Naikkan Peringkat Utang APLN Jadi CCC-

NERACA Jakarta – Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings menaikkan peringkat utang PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) dari C menjadi…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Uni Charm Optimis Ada Kenaikan Penjualan

NERACA Jakarta – Meski pencapaian kinerja keuangan di kuartal tiga tahun ini terkoreksi, namun hal tersebut tidak membuat optimisme emiten…

Laba Temas Line Menyusut Tajam 94,93%

NERACA Jakarta – Emiten pelayaran, PT Temas Tbk (TMAS) atau Temas Line membukukan laba bersih Rp5,095 miliar atau anjlok 94,93% dibanding priode yang…

Fitch Naikkan Peringkat Utang APLN Jadi CCC-

NERACA Jakarta – Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings menaikkan peringkat utang PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) dari C menjadi…