Mau Anak Rajin Baca? Orangtua Perlu Mencontohkan

 

Banyak orangtua menginginkan anaknya untuk rajin membaca buku. Karena dengan rajin membaca buku maka khasanah dan pemikiran anak jadi lebih terbuka dan banyak mendapatkan ilmu. Akan tetapi, peran orangtua menjadi begitu penting untuk meningkatkan minat baca setiap anak, bukan guru di sekolah. Hal itu dikarenakan anak bisa gemar membaca bila orangtua mencontohkan terlebih dahulu dalam kehidupannya sehari-hari.

"Jadi bukan guru yang memberikan nasihat agar anak-anak bisa gemar membaca buku, justru orangtua memegang peranan penting dalam hal itu," kata pendiri Taman Bacaan Pelangi Nila Tanzil, dalam acara live IG Kompas bersama Tanoto Foundation dalam membahas "Bentuk Kebiasaan Sejak Dini #Indonesiacintamembaca", Selasa (8/9).

Nila Tanzil menambahkan, "makanya orangtua harus mencontohkan gemar membaca buku setiap harinya, maka mereka akan meniru kebiasaan tersebut."  Lalu, kata Nila, apabila orangtua setiap harinya sering memegang gawai atau gadget (telepon genggam), maka akan dicontoh oleh anak-anaknya. Pada akhirnya bisa merusak pola pikir dan membuat anak-anak malas untuk membaca buku. "Kalau orangtua terlihat anak sering makai gawai di rumah, maka akan dicontoh sama anak-anak. Jadi, tanamkan kebiasaan membaca sejak dari kecil," bilang dia.

Tanamkan sejak dini gemar membaca buku

Ketika sejak dini sudah ditanamkan ke anak-anak, lanjut dia, maka akan menjadi kebutuhan sehari-hari. Dengan begitu, akan terasa ada yang kurang bila tidak membaca buku setiap harinya. "Hari ini belum baca buku, maka ada yang kurang. Makanya setiap hari harus disediakan untuk membaca buku, sebelum tidur, setiap sore, atau setelah bangun tidur, baca buku bareng bersama anak-anak," jelas Nila. Lanjut Nila, apabila anak memperoleh prestasi atau sedang berulang tahun, orang tua juga harus mendidiknya dengan memberi hadiah buku cerita. "Itu juga akan menjadi kebiasaan, jadi tidak meminta hadiah mainan dan sebagainya. Dengan pemberian buku cerita, anak-anak kita akan gemar membaca buku, sehingga ilmunya akan banyak," tegas wanita kelahiran 44 tahun yang lalu.

Bila bosan dengan buku yang sudah pernah dibaca, Nila menambahkan, kalian bisa membaca buku digital di platform yang telah banyak beredar di dunia maya saat ini. "Era digital kan banyak buku digital, ini tidak apa-apa. Ini bagus juga untuk anak-anak, jadi orang tua bisa memberikan buku digital ini ke anak-anak, tapi tetap dipantau oleh orang tua. Sekarang ini sudah banyak platform yang menyediakan e-book atau buku digital," pungkas Nila,

Minat Baca

Lalu bagaimana minat baca anak Indonesia. Menurut Nila, minat baca anak-anak di Indonesia Timur, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) berada di posisi rendah. Hal itu dipengaruhi faktor infrastruktur yang belum memadai, hingga akhirnya akses mendapatkan buku sangat sulit didapat oleh anak-anak Indonesia Timur. "Karena memang infrastruktur yang terbatas di sana, dan juga buta huruf aksara dan buta huruf fungsional. Sehingga angka minat baca anak-anak di Indonesia Timur berada di posisi yang rendah," kata Nila.

Nila menyebutkan, minat baca anak di Indonesia timur yang rendah terlihat dari kemampuan membaca, memahami tiap kata, dan memahami setiap bacaan dari buku yang mereka baca. "Maka dari itu, saya fokus membangun perpustakaan ke pelosok Indonesia Timur yang sudah dijalankan sejak tahun 2009 sampai tahun 2020 ini," jelas Nila.

Dirikan 133 perpustakaan

Sampai saat ini, ujar Nila, perpustakaan yang dibangun Taman Bacaan Pelangi sudah mencapai 133. Sebanyak satu perpustakaan didirikan pada masa Pandemi Covid-19. "Kita sudah membagikan lebih dari 200 ribu buku ke anak-anak untuk mereka nikmati, agar tingkat membaca merek (anak Indonesia Timur) mengalami peningkatan. Perpustakaan mencapai 133, satu yang baru saja kami dirikan. Padahal masih banyak korporasi yang ingin memberikan dananya untuk kami bangun perpustakaan, karena pandemi Covid-19, semuanya berhenti ditempat," jelas dia.

Demi meningkatkan akses buku tersebut, Nila menegaskan, perlu juga adanya kerjasama antara sekolah, orang tua, dan dinas pendidikan setempat untuk mengadakan buku bacaan kepada anak-anak. "Jadi kalau pelosok itu toko bukunya sedikit, jadi harus ada kerjasama seluruh stakeholder. Bila dibanding kota-kota besar banyak bukunya. Kalau sudah kerjasama itu akan banyak buku yang tersedia, sehingga membuat anak-anak jatuh cinta pada buku untuk membaca," terang dia.

Dia menambahkan, setiap membangun perpustakaan di pelosok Indonesia Timur, anak-anak yang ada di sana sangat antusias membaca buku. "Itu terlihat dari peminjaman buku di perpustakaan kami, sebagai contoh muridnya 100 an orang, tapi yang minjem buku mencapai seribuan, jadi akses buku itu harus ditingkatkan," jelas Nila.

BERITA TERKAIT

Mengajak Anak untuk Mampu Berani Bersikap atas Persoalan Perkawinan Anak

      Menurut Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak (Bappenas, 2020), perkawinan anak merupakan isu yang kompleks. Pasalnya ada banyak…

Enam Bentuk Kerjasama Sekolah dengan Orangtua

  Bukan jamannya lagi orangtua menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anaknya ke sekolah. Bukan jamannya lagi pula bila keberhasilan atau kegagalan…

Calon Ilmuwan, Jika Anak Banyak Bertanya dan Suka Bongkar Mainan

  Seorang anak pada dasarnya secara kodratinya merupakan Ilmuwan. Ketika anak mulai banyak bertanya tentang sesuatu, apa ini apa itu,…

BERITA LAINNYA DI

Mengajak Anak untuk Mampu Berani Bersikap atas Persoalan Perkawinan Anak

      Menurut Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak (Bappenas, 2020), perkawinan anak merupakan isu yang kompleks. Pasalnya ada banyak…

Enam Bentuk Kerjasama Sekolah dengan Orangtua

  Bukan jamannya lagi orangtua menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anaknya ke sekolah. Bukan jamannya lagi pula bila keberhasilan atau kegagalan…

Calon Ilmuwan, Jika Anak Banyak Bertanya dan Suka Bongkar Mainan

  Seorang anak pada dasarnya secara kodratinya merupakan Ilmuwan. Ketika anak mulai banyak bertanya tentang sesuatu, apa ini apa itu,…