Masyarakat Diminta Tak Khawatir Resesi Ekonomi

 

NERACA

Jakarta – Pandemi Covid-19 yang telah menjangkiti lebih dari 13 juta jiwa di seluruh dunia juga menyebabkan perekonomian berbagai negara tumbang atau mengalami resesi ekonomi. Resesi sendiri adalah keadaan ketika suatu negara mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut atau lebih.

Beberapa negara masuk dalam jurang resesi. Seperti, Amerika Serikat yang mana perekonomiannya terkontraksi atau minus 32,9% pada kuartal II 2020. Jerman juga mengumumkan PDB minus 10,1%. Hongkong masuk dalam resesi ekonomi yang mana terkontraksi 9% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tercatat pada kuartal III 2019 lalu, laju ekonomi Hong Kong minus 2,8% .

Korsel juga tak mampu mengelak dari hantaman pandemi dan dinyatakan mengalami resesi pertama kalinya dalam 17 tahun terakhir karena anjloknya ekspor. Bank of Korea mengumumkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Korsel terjun 3,3% pada kuartal II atau periode April-Juni dibanding kuartal sebelumnya yang terkontraksi 1,3%.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara meminta masyarakat untuk tidak khawatir dengan resesi, tapi yang perlu dilihat adalah tren pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV sebagai dampak pandemi COVID-19. “Kita berusaha supaya kuartal III itu apapun trennya, pokoknya harus positif, artinya pertumbuhan ekonomi kuartal III harus lebih baik dari kuartal dua,” ujarnya seperti dikutip Antara, kemarin (4/8).

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan pertumbuhan ekonomi RI kuartal kedua 2020 pada Rabu (5/8). Kementerian Keuangan, kata dia, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia periode April-Juni 2020 akan negatif 4,3 persen atau lebih rendah dari kuartal pertama yang meski turun namun masih tumbuh positif 2,97 persen.

Sedangkan resesi, lanjut dia, merupakan label atau status jika dalam dua kuartal berturut-turut pertumbuhan perekonomian suatu negara negatif. Pemerintah berharap kuartal III ekonomi Indonesia tidak tumbuh negatif lebih dalam dari sebelumnya, karena sedang menggenjot konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi, dan ekspor. “Nah ini yang lagi kita kejar. Kami harap tidak negatif (kuartal ketiga). Tapi kalau sampai negatif, jangan khawatir dengan urusan label,” kata Wamenkeu.

Ia menyakini penurunan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I dan II ini karena aktivitas ekonomi terhenti sebagai dampak COVID-19 sehingga penurunan tersebut merupakan bagian dari penyesuaian. Sedangkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilonggarkan di sejumlah daerah untuk menggerakkan ekonomi, lanjut dia, diharapkan diikuti dengan protokol kesehatan agar penyebaran COVID-19 juga bisa ditekan. “Jadi kalau ekonomi dan kesehatan sekarang harus jadi satu. Kalau kita buka kegiatan ekonomi tapi protokol kesehatan tidak diperdulikan itu bisa jadi bencana,” katanya.

Berdasarkan konsensus ekonom dalam Survei Proyeksi Indikator Makro Ekonomi (SPIME) Bank Indonesia (BI), ekonomi Indonesia diproyeksi akan mengalami resesi sebagai dampak adanya pandemi Covid-19. Ekonomi Indonesia pada kuartal II/2020 diproyeksi bakal mengalami kontraksi 1,26% (yoy). Kontraksi ekonomi kemudian diprediksi masih akan berlanjut pada kuartal III/2020 dengan minus 0,82%. Secara teknikal, ada resesi ekonomi karena terkontraksi selama dua kuartal berturut-turut.

Kondisi perekonomian diproyeksi akan berangsur pulih mulai kuartal IV/2020. Pada kuartal terakhir tahun ini, para ekonom sepakat perekonomian Indonesia masih bisa tumbuh hingga sekitar 1,13%.  “Responden memperkirakan kinerja perekonomian akan terus membaik hingga tercatat tumbuh 2,86% (yoy) pada kuartal II/2021," tulis BI dalam laporan SPIME.

Dalam setahun penuh, ekonomi Indonesia diproyeksi masih mampu tumbuh tipis sebesar 0,03%. Seperti diketahui, tekanan pertumbuhan ekonomi ini dipengaruhi pandemi Covid-19 yang menekan daya beli masyarakat dan ekonomi global yang berdampak pada kegiatan ekspor impor. bari

BERITA TERKAIT

REALISASI DANA PEN BARU CAPAI 34,6% - BI Perpanjang Insentif GWM Hingga Juni 2021

Jakarta-Bank Indonesia memperpanjang pemberian insentif berupa pelonggaran giro wajib minimum (GWM) rupiah sebesar 50 basis poin bagi perbankan yang menyalurkan…

Pengamat : Kritik Ahok Bertujuan Agar Pertamina Lebih Transparan

NERACA Jakarta - Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Fahmy Radhi berpendapat bahwa kritik dari Komisaris Utama…

MENKEU AKUI SULIT BUAT KEBIJAKAN DI TENGAH PANDEMI - Jumlah Pengangguran dan Kemiskinan Meningkat

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, kondisi pandemi Covid-19 yang sudah hampir berjalan tujuh bulan telah menyebabkan kenaikan jumlah angka…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

REALISASI DANA PEN BARU CAPAI 34,6% - BI Perpanjang Insentif GWM Hingga Juni 2021

Jakarta-Bank Indonesia memperpanjang pemberian insentif berupa pelonggaran giro wajib minimum (GWM) rupiah sebesar 50 basis poin bagi perbankan yang menyalurkan…

Pengamat : Kritik Ahok Bertujuan Agar Pertamina Lebih Transparan

NERACA Jakarta - Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Fahmy Radhi berpendapat bahwa kritik dari Komisaris Utama…

MENKEU AKUI SULIT BUAT KEBIJAKAN DI TENGAH PANDEMI - Jumlah Pengangguran dan Kemiskinan Meningkat

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, kondisi pandemi Covid-19 yang sudah hampir berjalan tujuh bulan telah menyebabkan kenaikan jumlah angka…