Protokol Kesehatan di Pasar Tradisional, Lokasi Rawan Corona

Pasar, jadi salah satu lokasi yang menurut Satuan Tugas Penanganan Covid-19 rawan penularan atau menjadi klaster penularan virus corona. Selain itu ada lokasi lain seperti tempat pelelangan ikan, pesantren, lokasi seminar, pusat perbelanjaan atau mal, tempat ibadah dan, perkantoran.

Tapi sebagian dari Anda barangkali terpaksa harus ke pasar, entah untuk memenuhi kebutuhan pokok atau memang 'periuk nasi' ada di sana. Ketika tetap harus ke pasar tradisional, setidaknya Anda wajib memenuhi protokol kesehatan pencegahan virus corona. Berikut panduan saat di pasar tradisional dikutip dari Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020 tentang protokol kesehatan bagi masyarakat di tempat dan fasilitas umum dalam rangka pencegahan dan pengendalian Covid-19. Protokol Kesehatan Pengelola Pasar Tradisional

1. Perbarui informasi terkini mengenai Covid-19 di laman pemerintah. 2. Mengatur pedagang yang beroperasi sesuai ketentuan masing-masing pemerintah daerah. 3. Membentuk tim pencegahan Covid-19 di pasar. 4. Menerapkan jaga jarak di area pasar, misalnya dengan mengatur jarak antar-lapak pedagang dan memberi tanda khusus di lantai pasar. 5. Menyediakan fasilitas cuci tangan dan sabun. 6. Melakukan disinfeksi dan pembersihan di area dan sarana yang sering digunakan, secara berkala minimal tiga kali sehari.

7. Pastikan sirkulasi udara berjalan baik dan terdapat sinar matahari, termasuk pembersihan filter AC. 8. Menyediakan ruang khusus untuk pos kesehatan penanganan pertama. 9. Melakukan sosialisasi dan edukasi soal pencegahan Covid-19 ke penghuni pasar. 10. Memasang media informasi di titik strategis untuk mengingatkan pengunjung. 11. Melarang siapapun yang sakit atau tidak memakai masker masuk ke area pasar. 12. Pasar yang dilengkapi lift atau tangga, hendaknya memperhatikan pembatasan jumlah orang yang mengakses. 13. Jika perlu, dilakukan pemeriksaan rapid test secara berkala ke pedagang pasar dan pekerja.

Sementara bagi pedagang dan pengunjung pasar, hendaknya wajib menerapkan protokol kesehatan individu mulai dari menggunakan masker, menjaga jarak hingga memastikan kebersihan tangan. Aturan yang diterbitkan Kemenkes itu juga menyebut, jika kondisi pasar padat dan penerapan jaga jarak sulit dilakukan maka penggunaan pelindung wajah (faceshield) bersama masker sangat direkomendasikan sebagai perlindungan tambahan.

Warga juga diimbau untuk menunda ke pasar saat dalam kondisi tidak fit atau tidak dalam kepentingan mendesak. Klaster pasar tradisional untuk wilayah DKI Jakarta menurut data 4 Juni hingga 26 Juli 2020 tercatat ada 547 kasus. Analisis Satgas Penanganan Covid-19 di Ibukota menunjukkan lokasi permukiman menjadi sumber klaster penularan yang utama, diikuti klaster pasar tradisional, perkantoran, fasilitas kesehatan dan rumah ibadah.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak mula wabah mencuat juga telah mewanti bahaya penularan di pasar tradisional. Karena itu WHO pun mengimbau agar orang yang berkunjung ke pasar tradisional sebisa mungkin menghindari bersentuhan langsung dengan hewan. "Ketika mengunjungi pasar tradisional di area di mana ada kasus virus corona, hindari kontak langsung--tanpa perlindungan--dengan hewan hidup, jangan menyentuh langsung permukaan hewan," tulis imbauan di laman WHO.

Selain itu WHO juga mengingat untuk mengurangi konsumsi produk hewani mentah atau setengah matang. Anda juga diminta untuk membersihkan serta menggosok tangan dengan air dan sabun secara berkala, menerapkan etika batuk dan bersin, menghindari menyentuh bagian muka, menjaga jarak juga, menjauh dari siapapun yang demam atau batuk

Di sisi lain, Studi di China mendapati faktor penularan di dalam bus ada pada AC bermode resirkulasi atau berputar di dalam bus saja, seberapa pun jarak antar penumpang.

Studi pada dua bus dengan total perjalanan 100 menit menunjukkan terjadi penularan virus corona lewat udara selama di dalam bus. Dua bus itu dipenuhi oleh penumpang dengan jarak 75 cm antar baris. Seorang perempuan berusia 64 tahun memiliki virus corona setelah kontak dengan orang dari Wuhan. Perempuan ini menyebarkan virus pada 23 orang lain lain di bus yang sama, tapi tidak pada penumpang bus lain meskipun mereka berkontak di tempat tujuan.

Untuk mencegah penularan corona di dalam bus, studi menyarankan untuk membatasi jumlah penumpang dan menerapkan mode sirkulasi udara yang dibuang ke udara luar. "Kalau di mobil bisa dibuka mode sirkulasi udara, walaupun akan lebih panas. Jadi dilusi udara di dalam bisa keluar," ungkap dokter spesialis paru Erlang Samoedro kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu

BERITA TERKAIT

Manfaat dan Kadar Kebutuhan Magnesium Tubuh

Memenuhi asupan gizi harian berarti tak hanya memenuhi makronutrisi seperti karbohidrat, protein dan lemak. Mikronutrisi termasuk magnesium pun perlu dicukupi.…

Ini Jumlah Vitamin C Harian yang Dibutuhkan untuk Imunitas

Vitamin C punya peran penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh. Apalagi selama pandemi, daya tahan tubuh menjadi salah satu 'benteng'…

Mitos Penularan Virus Corona yang Salah Kaprah

Seiring meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19, mitos seputar penularan virus corona terus berkembang di tengah masyarakat. Mempercayai mitos bisa menimbulkan…

BERITA LAINNYA DI Kesehatan

Cara Alami Atasi Beragam Jenis Rasa Sakit Ringan

Di Indonesia, sebagian orang kerap menggunakan teh hangat sebagai rujukan meredam beragam rasa tidak nyaman pada tubuh. Saat merasa pusing,…

Stres Picu Alzheimer, Gangguan Otak Hingga Memori Negatif

Situasi pandemi Covid-19 yang tidak menentu, aliran berita negatif, informasi jumlah kasus hingga ada orang terdekat yang terkena infeksi jelas…

Menimbang Risiko Seks Kala Pandemi dan Cara Menyiasatinya

Aktivitas seks di tengah pandemi virus corona menjadi hal yang kompleks. Pernyataan ini sempat diutarakan ahli kesehatan. Sebab di satu…