Jababeka Catatkan Rugi Rp 84,23 Miliar

NERACA

Jakarta - Lesunya bisnis properti di tengah pandemi menjadi pil pahit terhadap pencapaian bisnis emiten properti dan salah satunya PT Jababeka Tbk (KIJA). Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin disebutkan, perseroan mencatatkan rugi bersih di kuartal kedua tahun ini sebesar Rp84,23 miliar, atau memburuk dibanding priode yang sama tahun lalu mencatatkan laba bersih sebesar Rp52,2 miliar.

Sementara total penjualan dan pendapatan di kuartal dua tahun 2020 sebesar Rp1,25 triliun, atau tumbuh 41,35% dibanding akhir Juni 2019 yang tercatat sebesar Rp885,57 miliar. Sedangkan beban penjualan dan pendapatan jasa tercatat sebesar Rp77,97 miliar atau melonjak 46,03% dibanding kuartal II 2019, yang tercatat sebesar Rp517,88 miliar.

Hanya saja, pada akhir kuartal II 2020, perseroan membukukan beban lain-lain sebesar Rp113,5 miliar, dibandingkan dengan kuartal II 2019, yang mencatakan pendapatan lain-lain sebesar Rp152,48 miliar. Selain itu, pada sisi ekuitas tercatat senilai Rp6,21 triliun, atau turun 1,4% dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat sebesar Rp6,3 triliun.

Sementara itu, kewajiban perseroan tercatat sebesar Rp6,06 triliun atau mengalami peningkatan 3,23% dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat sebesar Rp5,87 triliun. Adapun aset perseroan tercatat senilai Rp12,27 triliun atau naik 0,7% dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat senilai Rp12,18  triliun. Kemudian kas bersih diperoleh dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp181,86 miliar, atau naik 151,3% dibandingkan kuartal II 2019, yang tercatat sebesar Rp72,99 miliar.   

Dalam memacu pertumbuhan bisnis tahun ini, perseroan telah menyiapkan beberapa strategi. Sekretaris Perusahaan Kawasan Industri Jababeka, Mulyadi Suganda seperti dikutip bisnis mengakui, pandemi virus corona berdampak pada penjualan properti secara umum, termasuk terhadap penjualan lahan Jababeka.

Meski demikian, dia mengatakan para investor dinilai masih cukup berminat pada lahan-lahan yang ditawarkan oleh perusahaannya. Minat ini datang tidak hanya dari investor domestik, tetapi juga dari luar negeri."Inquiry masih ada, baik dari domestik maupun asing. Namun, untuk asing memiliki tantangan karena adanya pembatasan penerbangan dari luar negeri ke Indonesia dan sebaliknya," jelasnya.

Mulyadi mengatakan, perseroan juga telah melakukan sejumlah strategi agar kinerja perusahaan tetap optimal ditengah pandemi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengembangkan penjualan secara online  Metode daring diakui menjadi pola baru yang dapat menjangkau konsumen baru secara langsung dan lebih luas.

Selain itu, KIJA juga akan memberikan insentif khusus kepada calon pembeli. Insentif ini termasuk pemberian harga khusus dan penyesuaian skema pembayaran. Perusahaan juga terus memperhatikan tren pasar agar mereka dapat meluncurkan produk sesuai dengan permintaan yang ada saat ini

 

BERITA TERKAIT

Hadirkan Teknologi Plasmacluster - Sharp Buktikan Efektif Turunkan Risiko Coronavirus

Mudahnya penyebaran virus corona melalui udara atau karena kualitas udara yang buruk akibat sirkulasi udara yang tidak baik, mendorong PT…

Peringkat KIK EBA Garuda Direvisi Jadi BB

NERACA Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menaikkan peringkat Kontrak Investasi Kolektif Efek Berangun Aset (KIK EBA) Mandiri GIAA01…

Keuangan Syariah Tumbuh Positif - OJK Catat Total Saham Syariah Rp 3.013 Triliun

NERACA Jakarta – Di tengah pandemi Covid-19, geliat industri keuangan syariah masih tumbuh positif  dan termasuk pasar modal syariah. Hal…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Hadirkan Teknologi Plasmacluster - Sharp Buktikan Efektif Turunkan Risiko Coronavirus

Mudahnya penyebaran virus corona melalui udara atau karena kualitas udara yang buruk akibat sirkulasi udara yang tidak baik, mendorong PT…

Peringkat KIK EBA Garuda Direvisi Jadi BB

NERACA Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menaikkan peringkat Kontrak Investasi Kolektif Efek Berangun Aset (KIK EBA) Mandiri GIAA01…

Keuangan Syariah Tumbuh Positif - OJK Catat Total Saham Syariah Rp 3.013 Triliun

NERACA Jakarta – Di tengah pandemi Covid-19, geliat industri keuangan syariah masih tumbuh positif  dan termasuk pasar modal syariah. Hal…