Diversifikasi Olahan Ikan Membuka Peluang Usaha dan Mencegah Stunting

NERACA

Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) bekerja sama dengan Komisi IV DPR RI menyelenggarakan Pelatihan Aspirasi Diversifikasi Olahan Ikan bagi masyarakat.

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mengatakan, pelatihan yang diselenggarakan ini merupakan tindak lanjut dari aspirasi atau masukan masyarakat kelautan dan perikanan.

“KKP dan Komisi IV DPR bekerja sama secara proaktif untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan stakeholder kelautan dan perikanan, termasuk melalui fasilitasi pelatihan. Diharapkan pelatihan ini dapat menjadi ide usaha baru bagi masyarakat,” tutur Sjarief.

Sementara Anggota Komisi IV DPR RI, Guntur Sasono menyebutkan, pelatihan diversifikasi olahan ikan ini dilakukan untuk menyediakan lebih banyak pilihan pangan olahan ikan agar masyarakat semakin gemar mengonsumsi ikan. Pasalnya menurut Guntur, di Provinsi Jawa Timur masih terdapat 16 daerah dengan angka stunting (hambatan pertumbuhan tubuh) yang tinggi.

“Jember, Probolinggo, Kabupaten dan Kota Malang, Bojonegoro, dan Trenggalek termasuk wilayah (dengan angka) stunting (yang tinggi),” ucap Guntur.

Sayangnya menurut Guntur, daerah-daerah ini bukanlah daerah yang jauh dari pantai atau kesulitan pasokan ikan. “Stunting ternyata di daerah-daerah yang banyak tambak, dekat pantai, dan ikan melimpah. Ini artinya usaha kita untuk mengampanyekan makan ikan yang harus ditingkatkan. Salah satunya melalui pelatihan hari ini,” jelas Guntur.

Guntur juga menjelaskan bahwa hampir semua jenis ikan memiliki kandungan gizi yang tinggi, termasuk olahan ikan asin yang bisa didapatkan dengan harga murah.

 “Jangan sepelekan ikan asin. Ikan ini gizinya bukan main terutama untuk ibu-ibu yang lagi hamil. Yang penting pengolahannya dilakukan dengan benar dan baik. Kalau tidak benar memang kadang bisa mengakibatkan gatal-gatal,” beber Guntur.

 Menurut Guntur, ikan termasuk ikan asin juga dipercayai dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan kecerdasan otak. Untuk itu, demi pemerataan suplai protein ikan, KKP bersama Komisi IV DPR RI memberikan perhatian yang sama bagi masyarakat baik yang tinggal di pesisir pantai atau di daratan yang tidak memiliki laut.

“Rajin dan pintarlah mengolah ikan, dalami ilmunya untuk kemudian dapat ditularkan kepada para tetangga. Kita memang tengah diuji wabah Corona ini. Pelatihan ini semoga menjadi kebangkitan dan langkah semangat kita dalam memanfaatkan segala potensi yang ada,” jelas Guntur.

Pelatihan Aspirasi Diversifikasi Olahan Ikan ini diselenggarakan dengan metode semi blended, yaitu dengan menggabungkan pelatihan daring melalui platform e-Jaring dengan pendampingan langsung oleh penyuluh di lokasi.

Peserta diberikan materi penanganan ikan segar dan pembuatan mini crispy ikan, sus maker ikan, dan panada ikan oleh pelatih dari BPPP Banyuwangi. Usai pemaparan materi, peserta pelatihan akan mengikuti praktik langsung dari lokasi masing-masing menggunakan alat dan bahan yang disediakan secara mandiri.

Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP), Lilly Aprilya Pregiwati mengungkapkan, “pelatihan ini cocok karena Madiun ini sangat terkenal dengan kulinernya. Mungkin sudah waktunya nasi jotos atau pecel dan makanan-makanan lain dari Madiun dan daerah lainnya dicampur dengan ikan.”

Lilly berharap, pelatihan ini dapat menumbuhkan jiwa wirausaha masyarakat dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta yang telah bergerak pada usaha pengolahan ikan. Lebih lanjut diharapkan dapat berimplikasi pada peningkatkan pendapatan pelaku utama sektor kelautan dan perikanan.

“Ini dapat menjadi alternatif olahan perikanan karena mungkin beberapa orang memang lebih menyenangi olahan daripada ikan segar.Mungkin ikan segar harganya tidak terlalu tinggi. Begitu ikan ini diolah harapannya akan memberikan nilai yang lebih tinggi,” imbuh Lilly.

Pelatihan yang digelar mendapat sambutan yang cukup baik dari para peserta. Astuti, pengolah ikan dari Kota Madiun menyebutkan, pelatihan ini sangat bermanfaat bagi dirinya yang memang menekuni usaha pengolahan ikan.

“Saya jadi dapat tambahan ilmu. Jadi bisa diterapkan untuk mengembangkan varian produk lainnya,” aku Astuti.

Hal serupa diungkapkan Ani Apriyanti dari Poklahsar Mina Barokah, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun yang menekuni usaha pengolahan abon lele dan rambak dari kulit lele dan Binar Tri Nurhayati dari Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun yang menekuni usaha abon lele. Keduanya menyampaikan terima kasih kepada KKP, BPPP Banyuwangi, dan Komisi IV DPR RI atas pelatihan yang diberikan.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Jaga Pertumbuhan Positif Industri Mamin

NERACA Jakarta - Industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu sektor manufaktur yang masih mampu tumbuh positif pada triwulan…

KKP Siapkan SDM Pengolah Ikan Berkualitas

NERACA Jakarta - Keahlian di bidang mutu hasil perikanan sangat penting untuk membantu mengeksplorasi potensi perikanan. Selain itu, keahlian tersebut…

Pertamina Menggandeng Peruri Perkuat Integritas dan Transparansi

NERACA Jakarta - Sebagai wujud komitmen dalam memperkuat integritas dan transparansi, Pertamina menggandeng Perum Peruri dalam pemanfaatan sertifikat elektronik, solusi…

BERITA LAINNYA DI Industri

Pemerintah Jaga Pertumbuhan Positif Industri Mamin

NERACA Jakarta - Industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu sektor manufaktur yang masih mampu tumbuh positif pada triwulan…

KKP Siapkan SDM Pengolah Ikan Berkualitas

NERACA Jakarta - Keahlian di bidang mutu hasil perikanan sangat penting untuk membantu mengeksplorasi potensi perikanan. Selain itu, keahlian tersebut…

Pertamina Menggandeng Peruri Perkuat Integritas dan Transparansi

NERACA Jakarta - Sebagai wujud komitmen dalam memperkuat integritas dan transparansi, Pertamina menggandeng Perum Peruri dalam pemanfaatan sertifikat elektronik, solusi…