Pemerintah Memacu Ekspor Produk Pangan Olahan

Jakarta - Berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk menggenjot salah satu komoditas ekspor utama, yaitu produk makanan dan minuman, di tengah pandemi Covid-19.

NERACA

Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kemendag, Kasan mengungkapkan bahwa kawasan Afrika Utara, khususnya Mesir, merupakan pasar yang menjanjikan bagi produk pangan olahan dari Indonesia. “Diharapkan akses pasar produk pangan ke Mesir dapat dimanfaatkan dengan optimal,” jelas Kasan.

Bahkan, menurut Kasan Indonesia berpeluang besar meningkatkan ekspor pangan olahan di pasar global. "Saat ini kita melihat peluang makanan olahan menjadi alternatif pilihan yang dicari masyarakat karena dapat disimpan lebih lama dibandingkan pangan segar. Selain itu, masyarakat cenderung lebih memilih masak di rumah dan menyukai produk-produk yang bernutrisi, memenuhi keamanan pangan dan terjaga higienitasnya," papar Kasan.

Meski begitu, Kasan mengakui, dampak pandemi Covid-19 terhadap perdagangan global. Antara lain terjadinya perubahan pola perdagangan global, peningkatan biaya logistik, kerja sama perdagangan tidak berjalan efektif, dan adanya ancaman resesi ekonomi global.

“Sedangkan, dampaknya bagi perdagangan nasional, yaitu meningkatkan potensi inflasi barang pokok dan penting akibat terganggunya logistik dan distribusi, terhambatnya aktivitas perdagangan antarpulau, terjadinya perubahan pola konsumsi masyarakat, serta melemahnya daya beli masyarakat,” terang Kasan.

Kasan juga mengatakan, di tengah pandemi Covid-19, pemerintah menyusun beberapa strategi guna meningkatkan ekspor makanan olahan Indonesia di pasar global.

Pertama, menentukan fokus pasar dan produk ekspor unggulan. Ada lima produk ekspor makanan olahan Indonesia terbesar ke Mesir pada 2019, yaitu saus, bumbu, dan rempah. Lalu, olahan ikan, tuna. Kemudian, sugar confectionary yang tidak mengandung kakao, olahan ikan, sarden serta makanan. Selain itu, produk makanan olahan Indonesia yang potensial di Mesir yaitu produk perikanan, food preparations, kopi, cokelat, biskuit dan makanan ringan.

Kedua, meningkatkan penetrasi pasar dengan melakukan penyelesaian perundingan dan hambatan perdagangan, serta penguatan promosi dagang dan branding. Peningkatan penetrasi pasar juga dilakukan melalui penyelenggaraan webinar, penjajakan kesepakatan dagang virtual, serta pendampingan ekspor selama pandemi.

Ketiga, memperkuat peran perwakilan perdagangan di luar negeri. Keempat, melakukan relaksasi ekspor dan impor untuk tujuan ekspor.

"Kami terus berupaya untuk selalu memberikan kontribusi dalam peningkatan ekspor, salah satunya dengan memfasilitasi kegiatan perdagangan. Berbagai potensi pasar harus terus digali agar ekspor produk Indonesia, khususnya pangan olahan, dapat terus meningkat,” ujar Kasan.

Atase Perdagangan Kairo Irman Adi Purwanto Moefthi menambahkan, perwakilan perdagangan akan segera membentuk forum guna memfasilitasi kegiatan perdagangan di Kairo. Tujuannya yaitu agar para pelaku usaha dapat terhubung dengan buyers sehingga para pelaku usaha dapat menangkap peluang pasar yang tersedia.

Sementara itu, Country Manager Salim Wazaran Abu Alata Co. Ltd. Gunawan Hariyanto mengatakan, hubungan baik antara Indonesia dengan Mesir yang terjalin selama ini membuka peluang ekspor yang lebih besar.

"Kami mengimbau bagi para pelaku usaha untuk maju menembus pasar Mesir. Kami bersedia membantu memberikan informasi dasar tentang pasar Mesir yang dapat digunakan sebagai acuan awal para pelaku usaha memulai bisnisnya di Mesir," kata Gunawan.

Gunawan juga menjelaskan perlunya legalitas produk dengan mendaftarkan brand terlebih dahulu di Mesir. Selanjutnya, diperlukan pengawasan dan pemantauan, salah satunya dengan memanfaatkan tenaga mahasiswa Indonesia di Mesir.

 “Sebagai salah satu negara tujuan wisata, dipastikan Mesir memiliki fasilitas-fasilitas yang dapat membantu para pelaku usaha untuk memperluas bisnisnya,”jelas Gunawan.

Sekedar catatan, Arab Saudi merupakan negara tujuan ekspor ke-23 dan sebagai Negara asal impor ke-10 bagi Indonesia. Pada periode Januari—November 2019, total perdagangan kedua negara mencapai USD 4,61 miliar.

Produk ekspor Indonesia ke Arab Saudi di antaranya mobil dan kendaraan bermotor, kayu lapis, kertas dan produk kertas, kelapa atau kopra dan inti sawit atau minyak babassu, ikan dan produk olahan ikan, serta minyak kelapa sawit dan turunannya.

Sedangkan, produk impor Indonesia dari Arab Saudi antara lain minyak bumi dan minyak mentah, minyak petroleum, alkohol asiklik, polimer etilena, polimer propilena, hidrokarbon asiklik, serta emas.Di bidang investasi, investasi Arab Saudi ke Indonesia tercatat sebanyak 160 proyek dengan nilai USD 43 juta selama periode 2014—2018.

 

BERITA TERKAIT

HPE Pertambangan Periode Agustus 2020 Merangkak Naik

NERACA Jakarta - Pada periode akhir Juli 2020, harga beberapa komoditas produk pertambangan menunjukkan tren yang positif di tengah pandemi…

Pelaku Usaha Perikanan Dapat Kelonggaran Fasilitas Pemodalan

NERACA Jakarta - Penyediaan akses pemodalan menjadi salah satu upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk tetap menjaga geliat usaha…

Pengurangan Non Tariff Measures untuk Kemudahan Arus Barang Esensial

NERACA Jakarta - Pertemuan Association of Southeast Asian Nations High Level Task Force on Economic Integration (ASEAN HLTF-EI) ke-38 menekankan…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

HPE Pertambangan Periode Agustus 2020 Merangkak Naik

NERACA Jakarta - Pada periode akhir Juli 2020, harga beberapa komoditas produk pertambangan menunjukkan tren yang positif di tengah pandemi…

Pelaku Usaha Perikanan Dapat Kelonggaran Fasilitas Pemodalan

NERACA Jakarta - Penyediaan akses pemodalan menjadi salah satu upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk tetap menjaga geliat usaha…

Pengurangan Non Tariff Measures untuk Kemudahan Arus Barang Esensial

NERACA Jakarta - Pertemuan Association of Southeast Asian Nations High Level Task Force on Economic Integration (ASEAN HLTF-EI) ke-38 menekankan…