Pasar Kopi Kian Seksi

NERACA

Jakarta – Suka tidak suka bahwa fakta dilapangan saat ini konsumsi kopi di dunia termasuk di Indonesia semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dengan merebaknya café-café di pinggir jalan yang menyediakan menu utama kopi. Baik disajikan dalam bentuk single origin ataupun di mix (dicampur) dengan menu lainnya seperti cokelat atau susu. Bahkan tidak sedikit makanan berkembang saat ini yang dicampur dengan bubuk kopi seperti pastry (kue). 

Artinya , melihat fakta tersebut bahwa kebutuhan kopi akan terus meningkat seiring meningkatnya konsumsi.   Atas dasar itulah maka pemerintah melakukan pemberdayaan kepada warung kopi atau café  dan juga kelompok tani penghasil kopi.

“Hal ini dilakukan agar dapat meningkatkan nilai jual, serta posisi tawar dan pendapatan petani,” jelas Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Bio Industri, Bambang.

Sebab, Bambang mengakui dengan meningkatnya kualitas biji kopi akan berdampak kepada mutu pengusaha café. Pengusaha café atau pemilik warung kopi bisa memilih kriteria produk yang diinginkan dengan harga yang premium. Jadi kedua belah pihak mendapat harga yang premium.

“Selanjutnya jika petani mendapat harga yang premium maka petani mempunyai peluang untuk mengembangankan pertaniannya secara sustainability (keberlanjutan),” terang Bambang.

Arabika Menyasar Pasar Eropa

Bahkan, Bambang membenarkan bahwa pengembangan kopi saat ini tidak hanya kepada satu jenis saja tapi dikembangkan sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah penghasil kopi. Seperti arabika robusta atau bahkan dengan menggunakan ternak luwak dan karakteristik lainnya seperti kopi lanang. 

Memang, kopi arabika asal Indonesia merupakan komoditas ekspor yang sangat diminati pasar dunia. “Sebagian besar petani di Kerinci menanam kopi jenis arabika karena kopi jenis tersebut sangat diminati pencita kopi di luar negeri terutama negara-negara Eropa,” kata Bambang.

Disisi lain, Bambang mengakui bahwa pengembangan kopi arabika diarahkan untuk menjaga posisi Indonesia sebagai sumber penting beberapa jenis kopi spesialty dunia. Apalagi jika dilihat dari segi geografis perkembangan kopi di Indonesia sangat menunjang, Alhasil, Indonesia tercatat memiliki kopi spesialty yang beragam dan terbukti kopi asal Indonesia merupakan kopi terbaik dunia.

“Salah satu diantaranya, kopi arabika Sumatera Koerintji terbukti sebagai  varian kopi arabika terbaik yang dikultivasi di kawasan kaki gunung Kerinci yang berada di ketinggian 1500 MDPL. Kopi ini memiliki rasa yang unik karena terdapat aroma spicy dan chocolaty,” terang Bambang.

Pada tahun 2017, menurut Bambang kopi Sumatera Koerintji meraih predikat pemenang kopi spesialti terbaik Indonesia yang diadakan oleh Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) dengan skor 85,56. Selain itu, pada tahun 2018 Kopi Arabika Sumatera Koerintji juga meraih penghargaan Silver Medal pada ajang Australian International Coffee Award pada kategori Pour Over Single Origin.

Hal senada diungkapkan, Ketua Kelompok Tani Triyono, bahwa mememang saat ini kopi kopi acarbica asal Indonesia sudah sangat mendunia. Ini karena citarasanya yang khas yang tidak bisa dihasilkan oleh kopi dari negara lainnya.

Bahkan kopi arabika Sumatera Koerintji juga merupakan produk kopi spesialti  dengan kategori limited edition karena dengan nilai skor tinggi, produksinya masih sangat terbatas 3-5 ton per bulan.

“Jadi tidaklah heran jika kopi kami juga mendapat anugerah pesona alam yang menawan, diantaranya Puncak Gunung Kerinci, Perbukitan Gunung Tujuh, Kawasan Wisata Rawa Bento, dan hamparan perkebunan kopi,” papar Triyono yang membawahi sekitar 250 petani yang terbagi dalam tujuh Kelompok Tani.

Pengembangan Agrowisata

Melihat geografis tersebut, Triyono mengatakan, saat ini wilayahnya juga telah menjadi potensi untuk sektor agrowisata kopi. Sejauh ini pihaknya sudah melakukan kerjasama dengan asosiasi 3808 yang merupakan asosiasi perkumpulan pemandu pendakian Gunung Kerinci.

“Paket agrowisata yang ditawarkan yaitu paket 3 hari 2 malam seharga Rp 1.500.000 per pax yang meliputi pendakian Gunung Kerinci pada hari pertama, lalu pendakian Gunung Tujuh pada hari kedua, dan wisata edukasi Kopi Arabika Sumatera Koerintji di hari ketiga,”  urai Triyono.

Sehingga, Triyono berharap dengan wisata edukasi ini dapat meliputi edukasi budidaya Kopi Arabika Sumatera Koerintji di lahan perkebunan seluas 1 hektar yang didalamnya terdapat proses pemetikan, proses pasca panen, pengolahan biji kopi, hingga edukasi teknik seduh kopi.

“Konsep agrowisata tersebut rencananya akan mulai dilaksanakan pada awal tahun 2019,”  tutur Triyono.

 

 

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Iklim Investasi dan Daya Saing Nasional

NERACA Jakarta - Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung sampai hari ini, telah memberi pelajaran berharga bahwa rantai pasok barang tidak…

Mengkonsumsi Produk Dalam Negeri Memulihkan Ekonomi

NERACA Jakarta - Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengajak masyarakat untuk selalu bangga akan produk buatan Indonesia. Salah satunya, dapat diwujudkan…

Neraca Perdagangan Agustus Surplus USD 2,3 Miliar

Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) meliris neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2020 mengalami surplus USD 2,3 miliar. Ini merupakan capaian…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Tingkatkan Iklim Investasi dan Daya Saing Nasional

NERACA Jakarta - Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung sampai hari ini, telah memberi pelajaran berharga bahwa rantai pasok barang tidak…

Mengkonsumsi Produk Dalam Negeri Memulihkan Ekonomi

NERACA Jakarta - Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengajak masyarakat untuk selalu bangga akan produk buatan Indonesia. Salah satunya, dapat diwujudkan…

Neraca Perdagangan Agustus Surplus USD 2,3 Miliar

Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) meliris neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2020 mengalami surplus USD 2,3 miliar. Ini merupakan capaian…