MESKI MELAMBAT PADA KUARTAL IV-2019 - BI: Dunia Usaha Membaik Januari-Maret 2020

Jakarta-Bank Indonesia mengungkapkan ekspansi dunia usaha melambat pada periode Oktober-Desember 2019 dibandingkan Juli-September 2019. Meski demikian, BI memperkirakan ekspansi dunia usaha akan membaik pada Januari-Maret 2020. "Perlambatan tersebut sejalan dengan pola historis perkembangan kegiatan usaha yang cenderung melambat pada akhir tahun," ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan resmi, Senin (13/1).

NERACA

Onny mengatakan hal ini tercermin dari Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan bank sentral. Berdasarkan survei, nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) sebesar 7,79% pada kuartal IV-2019 atau lebih rendah dari 13,39% pada kuartal III-2019.

Sejalan dengan perlambatan ekspansi dunia usaha pada kuartal lalu, maka kapasitas produksi terpakai dan penggunaan tenaga kerja juga lebih rendah dari kuartal sebelumnya. Hal ini membuat kondisi keuangan perusahaan terbilang stabil. "Aspek likuiditas dan rentabilitas tetap baik, diikuti dengan akses kredit perbankan yang berjalan normal," ujarnya.

Menurut BI, kegiatan usaha yang tetap berjalan baik pada kuartal lalu adalah kegiatan usaha di sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan, dan perdagangan. Kemudian, juga diikuti oleh sektor perhotelan dan restoran, jasa-jasa, serta pengangkutan dan komunikasi.

Meski melambat pada kuartal IV-2019, BI optimis kegiatan usaha akan membaik pada kuartal I-2020. Hal ini tercermin dari hasil survei yang memperkirakan SBT akan meningkat menjadi 10,7% pada tiga bulan pertama tahun ini.

Proyeksi ini memang tidak setinggi realisasi kuartal III-2019, namun setidaknya sudah memberi indikasi akan ada geliat bisnis pada tiga bulan ini. Lebih lanjut, bank sentral memperkirakan ada beberapa sektor usaha yang meningkat pada awal tahun ini.

Beberapa diantaranya, yaitu keuangan, real estate dan jasa perusahaan, pertanian, perkebunan, peternakan, Kehutanan dan perikanan, serta industri pengolahan. "Peningkatan tersebut juga diprakirakan akan diikuti oleh penggunaan tenaga kerja yang lebih tinggi," tutur dia.

BI juga mencatat ekspansi kinerja industri pengolahan pada kuartal IV-2019 melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal itu terindikasi dari Prompt Manufacturing Index (PMI) BI yang turun dari 52,04% menjadi 51,05%.

Sebelumnya, skor PMI BI di atas 50% menggambarkan komponen terkait mengalami ekspansi. Sementara, PMI BI di bawah 50% mengindikasikan kontraksi dan 50 artinya tetap.

"Ekspansi kinerja industri pengolahan terjadi pada sebagian besar subsektor, dengan ekspansi tertinggi pada industri semen dan barang galian nonlogam yang didorong oleh ekspansi volume produksi dan pesanan barang input," ujar Onny.

Tercatat, PMI BI industri semen naik dari 53,19% menjadi 57,43%. Kemudian, PMI BI barang kayu dan hasil hutan nilainya naik dari 48,51% menjadi 50,36%.

Dalam laporan BI, ekspansi industri yang terjadi pada tiga bulan terakhir ditopang oleh komponen volume produksi sebesar 53,42%, volume pesanan 53,27%, dan volume persediaan barang jadi 52,56%. Namun, ekspansi ketiganya lebih rendah seiring menurunya permintaan. Sementara itu, dua komponen mengalami kontraksi yaitu kecepatan penerimaan barang input (49,71%) dan penggunaan tenaga kerja (47,23%).

Lebih lanjut, BI memperkirakan ekspansi industri pengolahan bakal lebih tinggi pada kuartal I-2020. Indikasinya terlihat dari proyeksi PMI BI yang naik menjadi 52,73%.  Adapun kegiatan usaha yang diprediksi bakal ekspansi diprediksi terjadi pada sebagian besar subsektor. Adapun ekspansi tertinggi terjadi pada industri semen dan barang galian non logam (56,85%). Kemudian, industri barang kayu dan hasil hutan lainnya (53,79%), serta industri makanan, minuman dan tembakau (53,03%).

Tidak hanya itu. Bank Indonesia optimis neraca perdagangan (trade balance) pada Desember 2019 akan berakhir surplus. Hal ini berkebalikan dengan neraca perdagangan pada November 2019 yang tercatat mengalami defisit sebesar US$1,33 miliar.

"Kita belum melihat data awal untuk trade balance. Tapi kita tetap confidence (neraca perdagangan di Desember 2019 surplus), dari sisi eksternal kita cukup baik," ujar Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Jakarta, kemarin.

Optimisme Dody didukung oleh data perkembangan angka ekspor pada triwulan III-2019 yang cukup positif. Hal itu turut didukung oleh beberapa indikator pada sektor manufaktur yang juga bagus. "Ini memberikan confidence sebenarnya dari trade balance kita. Mudah-mudahan angkanya bisa surplus, meskipun kita belum bisa memastikan seberapa besar surplusnya," ujarnya.

"Beberapa indikator impor juga membaik, khususnya dari sisi migas. Karena kita melihat dampak dari kebijakan B20 ini tentunya mengurangi negara untuk melakukan impor migas," dia menambahkan.

Sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia pada November 2019 mencatat defisit US$1,33 miliar. Capaian tersebut dipengaruhi kenaikan impor barang konsumsi sesuai pola musiman jelang akhir tahun serta kebutuhan impor untuk kegiatan produktif.

Direktur Departemen Komunikasi BI Junanto Herdiawan menjelaskan, di tengah kinerja ekspor yang belum kuat sejalan kondisi global yang belum pulih, perkembangan itu mengakibatkan neraca perdagangan non-migas mencatat defisit.

Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas juga meningkat didorong oleh peningkatan impor migas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor migas pada November 2019. "Secara umum perkembangan ini sejalan dengan prakiraan sebelumnya, sehingga defisit transaksi berjalan pada 2019 berada sekitar 2,7% dari PDB," ujarnya.

Defisit Neraca Perdagangan

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,33 miliar pada November 2019 disebabkan oleh menurunnya ekspor menjadi US$14,01 miliar dan impor sebesar US$15,34 miliar.

"Total impor kita pada November 2019, sebesar US$15,34 miliar. Jadi kalau kita bandingkan dengan ekspor maka defisit kita cukup dalam sebesar US$1,33 miliar," ujar Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di kantornya, belum lama ini.

Suhariyanto mengatakan, nilai neraca perdagangan pada November disumbang oleh defisit sektor migas sebesar US$1,02 miliar dan non migas sebesar US$0,3 miliar. Menurut dia, melambatnya ekspor karena perekonomian global yang melambat.

"Tantangan yang kita hadapi menjadi luar biasa dan harus ekstra hati-hati. Hal ini sebagian besar disebabkan perdagangan global melambat, ekonomi global melambat. Jadi kita harus ekstra hati-hati ke depan," ujarnya. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

BPK Soroti Perbedaan Asumsi Makro 2019

Jakarta-Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyoroti rendahnya pertumbuhan ekonomi nasional, tingkat suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) dari target APBN…

Pajak Anjlok 12%, Masyarakat Diminta Patuh Bayar Pajak

NERACA Jakarta - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengajak masyarakat Indonesia untuk patuh dan taat dalam membayar pajak…

Kepala BKPM: Covid-19 Berdampak Ekonomi TSM

Jakarta-Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, dampak ekonomi dari pandemi Covid-19 selayaknya dikenal istilah TSM dalam pemilu,…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

BPK Soroti Perbedaan Asumsi Makro 2019

Jakarta-Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyoroti rendahnya pertumbuhan ekonomi nasional, tingkat suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) dari target APBN…

Pajak Anjlok 12%, Masyarakat Diminta Patuh Bayar Pajak

NERACA Jakarta - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengajak masyarakat Indonesia untuk patuh dan taat dalam membayar pajak…

Kepala BKPM: Covid-19 Berdampak Ekonomi TSM

Jakarta-Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, dampak ekonomi dari pandemi Covid-19 selayaknya dikenal istilah TSM dalam pemilu,…