Pasar Serat Kompetitif - Pendapatan Lenzing AG Tumbuh 48,4%

NERACA

Jakarta – Perusahaan pelopor dalam industri serat dari Austria, Lenzing AG berhasil membukukan pendapatan semester pertama tahun ini sekitar EUR 1,09 miliar. Pendapatan meningkat signifikan 48,4 %, melampaui periode yang sama pada tahun sebelumnya hanya 44,1% dan sedangkan untuk EBITDA mengalami penurunan 7 % atau sekitar EUR 181,2 Juta. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Kata Stefan Doboczky, CEO Lenzing Group, fenomena penurunan ini terutama disebabkan oleh jumlah volume yang meningkat serta nilai tukar mata uang asing sehingga berakibat biaya produksi pulp meningkat serta biaya tenaga kerja maupun kondisi pasar serat viscose saat ini yang ketat. Perseroan, lanjutnya membukukan EBITDA turun dari 18,1% pada semester pertama tahun 2018 menjadi 16,6% pada catatan laporan keuangan perusahaan. EBIT turun dari sebesar 17,9% atau sekitar EUR 105,6 juta dengan EBIT lebih rendah 9,7% sehingga menghasilkan laba bersih pada periode tersebut juga turun 15,9 % dari EUR 91,3 juta menjadi EUR 76,8 juta.

Disampaikannya, pesatnya perkembangan bisnis serat membawa daya tahan korporasi lebih kuat secara signifikan dibanding beberapa tahun lalu. Investasi Lenzing dalam kapasitas produk baru untuk serat Lyocell serta fokus pada produk dengan merek dagang Tencel dan Veocel menjadikan Lenzing semakin tangguh menghadapi kondisi pasar yang fluktuatif dan semakin memperkuat sebagai produsen serat unggulan yang terkemuka di dunia.

Saat ini, Lenzing melaksanakan tahap pertama dari rencana pertumbuhan yang ambisius dengan pembangunan pabrik Lyocell yang canggih di Thailand. Kemudian soal konflik dagang di antara negara – negara besar semakin meningkat sehingga memastikan keputusan Lenzing untuk memantau proyek mobile di Alabama (Amerika Serikat) secara seksama dan akan melakukan review secara bertahap.

Selanjutnya dalam rangka meningkatkan pertumbuhan bisnisnya, Lenzing terus meningkatkan produksi serat Lyocell untuk memenuhi permintaan pasar yang besar untuk produk serat unggulan seperti ini. Lenzing menempatkan fokus pada pertumbuhan dan stabilitas keuntungan perusahaan serta meningkatkan langkah strategis yang memperhatikan ekologi industri tekstil maupun industri non woven melalui perluasan produksi serat unggulan.

Langkah pertama ekspansi dari strategi pertumbuhan yang ambisius tersebut adalah dengan disetujuinya pada kuartal kedua tahun 2019 untuk membangunan pabrik produksi dengan teknologi mutakhir untuk serat Lyocell di propinsi Prachinburi yang berada di Thailand dengan total investasi untuk pabrik baru di Thailand tersebut adalah sekitar EUR 400 Juta dengan memiliki kapasitas 100.000 ton.

BERITA TERKAIT

Shopee Kuasai Peta Kompetisi E-Commerce Indonesia

Di tengah pesatnya pertumbuhan e-commerce dalam negeri, rupanya hanya sebagian masyarakat yang terbiasa transaksi melakukan salah satu brand e-commmerce. Berdasarkan…

Pratama Widya Catat Kontrak Baru Capai 86%

NERACA Jakarta – Geliat bisnis infrastruktur terhambat akibat pandemi Covid-19, namun demikian PT Pratama Widya (PTPW) sebagai emiten jasa konstruksi…

Mitra Energi Bidik Pendapatan Rp 190 Miliar

NERACA Jakarta – Meski dihantui sentimen negatif Covid-19, PT Mitra Energi Persada Tbk (IKOPI) terus memacu target bisnisnya. Dimana perseroan…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Shopee Kuasai Peta Kompetisi E-Commerce Indonesia

Di tengah pesatnya pertumbuhan e-commerce dalam negeri, rupanya hanya sebagian masyarakat yang terbiasa transaksi melakukan salah satu brand e-commmerce. Berdasarkan…

Pratama Widya Catat Kontrak Baru Capai 86%

NERACA Jakarta – Geliat bisnis infrastruktur terhambat akibat pandemi Covid-19, namun demikian PT Pratama Widya (PTPW) sebagai emiten jasa konstruksi…

Mitra Energi Bidik Pendapatan Rp 190 Miliar

NERACA Jakarta – Meski dihantui sentimen negatif Covid-19, PT Mitra Energi Persada Tbk (IKOPI) terus memacu target bisnisnya. Dimana perseroan…