5 Juta Hektare Lahan Sawit Ditargetkan Bersertifikat ISPO

NERACA

Jakarta – Komite Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) menargetkan sekitar lima juta hektare lahan perkebunan kelapa sawit memperoleh sertifikat ISPO hingga akhir 2019 sebagai upaya terhadap pengelolaan kebun sawit berkelanjutan

Ketua Sekretariat Komisi ISPO R Azis Hidayat di sela-sela kegiatan Festival Indonesia di Moskow, Rusia, sebagaimana disalin dari Antara di Jakarta, menyebutkan hingga Maret 2019, Komite ISPO telah mengeluarkan 502 sertifikasi dengan luas total areal 4.115.434 hektare.

"Masih ada sekitar 60 sampai 70 perusahaan yang dibahas, tetapi biasanya yang lulus verifikasi hanya sekitar 40 sampai 50 perusahaan karena pasti ada aspek yang belum lengkap," kata Azis.

Sejak dibentuk pada 2011, Komite ISPO mencatat ada 746 perusahaan yang mengikuti proses verifikasi untuk memperoleh sertifikat ISPO. Dari jumlah tersebut, 642 perusahaan sudah selesai diaudit dan baru 502 perusahaan yang mengantongi sertifikat ISPO. Ada pun 502 sertifikat ISPO yang diberikan terdiri atas 493 perusahaan, 5 koperasi swadaya, dan 4 KUD plasma dengan luas total areal 4.115.434 hektare.

Komite ISPO mengagendakan penyerahan sertifikat ISPO akan dilakukan pada 27 Agustus mendatang sehingga menambah luas areal kebun sawit yang menerapkan pola perkebunan berkelanjutan.

Selain itu, Komite ISPO juga akan melakukan konferensi pers terkait pembentukan organisasi profesi auditor ISPO yang kini jumlahnya sudah mencapai 1.580 orang. "Kami mendorong mereka untuk memiliki wadah organisasi profesi auditor ISPO. Mereka nantinya akan membuat kode etik, sehingga kalau ada yang melanggar, mereka sendiri yang memberikan sanksi," kata Azis.

Sementara itu, Peraturan Presiden (Perpres) mengenai Standar Minyak Sawit Berkelanjutan Indonesia atau ISPO saat ini dalam proses akhir penyusunan. Perpres ini akan memberikan payung hukum dan dukungan terhadap pekebun kecil atau swadaya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution sebelumnya menjelaskan bahwa setelah Perpres ISPO selesai, pembenahan terhadap kebun rakyat dapat dilakukan agar pola perkebunan sawit berkelanjutan benar-benar diterapkan.

Kalangan pengusaha dari Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) tengah menjajaki pasar ritel minyak nabati atau minyak goreng kelapa sawit di Rusia. Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga mengatakan bahwa upaya penjajakan akan dilakukan setelah mengetahui fakta bahwa ekspor CPO Indonesia ke Rusia sebesar 800.000 ton pada 2018 hanya digunakan untuk keperluan industri, bukan untuk konsumsi rumah tangga.

"Jadi 800.000 ton yang kita ekspor kemarin digunakan oleh industri untuk konveksioneri, speciality fat, margarin, sabun dan kosmetik, tetapi tidak dijual di ritel," kata Sahat di sela-sela kegiatan Festival Indonesia di Taman Krasnaya Presnya Moskow.

Sahat menjelaskan fakta tersebut baru diketahuinya pada penyelenggaraan Festival Indonesia di Moskow pada 1-4 Agustus 2019. Di gerai Gimni yang menampilkan berbagai produk CPO Indonesia, seperti minyak goreng, minyak salmira dan margarin, pengunjung tampak antusias.

Warga Rusia yang umumnya dari kalangan ibu rumah tangga berminat untuk membeli minyak goreng sawit, namun tidak ditemukan di supermarket atau pasar mana pun di Rusia. Sebagai informasi, umumnya warga Rusia menggunakan minyak bunga matahari (sunflower oil) untuk menumis masakan.

Menurut Sahat, kurangnya promosi dan kampanye negatif terkait isu minyak sawit yang tidak sehat, membuat supermarket dan pasar ritel di Rusia takut untuk memasok dan menjual minyak sawit tersebut.

Oleh karena itu, ia mengutarakan harapannya agar Pemerintah Indonesia dan Rusia dapat melakukan kerja sama (G to G partnership) agar minyak sawit dapat masuk ke pasar ritel. Saat ini, pemakaian CPO di Rusia sebesar 1,1 juta ton per tahun, di mana Indonesia menjadi pemasok terbesar sekitar 74,4 persen atau 800.000 ton, sedangkan sisanya dipenuhi dari Malaysia dan Rotterdam, Belanda. "Setelah G to G, kemudian bisa dilakukan Preferences Tarif Agreement (PTA) mendahului Malaysia supaya kita dapat pasar baru di ritel," kata Sahat.

Ia memproyeksi dengan bertambahnya akses ke pasar ritel, ekspor CPO Indonesia bisa bertambah lagi sekitar 200.000-300.000 ton per tahun, menjadi 1,1 juta ton. Pada Festival Indonesia di Moskow, minyak goreng sawit habis terjual pada hari kedua festival yang diselenggarakan pada 1-4 Agustus 2019 di Taman Krasnaya Presnya Moskow tersebut.

Setidaknya 96 botol minyak goreng laris manis di acara tersebut dengan harga jual 150 rubel (Rp33.000) untuk volume 1 liter.

BERITA TERKAIT

Program P3DN Wujud Keberpihakan Kepada Industri Nasional

NERACA Jakarta- Pemerintah terus membangun daya saing industri nasional yang berbasis pada kemampuan kompetitif sumber daya manusia dan keunggulan komparatif…

Tiga Koperasi Petani Swadaya Wilmar Terima ISPO

NERACA Malang – Tiga koperasi petani kelapa sawit petani swadaya mitra Wilmar kembali menerima sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).…

Pemerintah Fokus Bangun Kawasan Industri

NERACA Jakarta - Pemerintah sedang gencar meningkatkan investasi, khususnya dari sektor industri untuk semakin memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Guna mengakomodasi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kemendag Perkuat Sinergi Pusat dan Daerah

NERACA Manado - Kementerian Perdagangan (Kemendag) sigap mengawal kestabilan harga dan pasokan barang kebutuhan pokok (bapok) di berbagai daerah menjelang…

Kemenperin Kembali GelarSemarak Festival IKMA 2019

NERACA Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah dan Aneka (IKMA) kembali menyelenggarakan acara yang bertajuk “Semarak…

Penerapan Industri 4.0 Mengerek Daya Saing Sektor IKM

NERACA Jakarta - Revolusi industri 4.0 merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh para pelaku usaha di Indonesia, termasuk sektor…