IHSG Terkoreksi Tajam, BEI Kembali Trading Halt

NERACA

Jakarta- Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Senin (23/3) awal pekan kemarin masih berada di zona merah. Bahkan jelang penutupan perdagangan, terus terkoreksinya memaksa PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 14:52:09 waktu JATS yang dipicu penurunan IHSG mencapai 5%. Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Kemudian mengakhiri perdagangan, IHSG ditutup melemah 205,43 poin atau 4,9% ke posisi 3.989,52. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 41,35 poin atau 6,62% menjadi 583,41.”Sentimen pelemahan indeks masih dominan domestik terkait terus bertambahnya korban yang terinfeksi dan meninggal akibat COVID-19 . Sementara itu melemahnya nilai tukar rupiah juga menjadi tambahan sentimen negatif di pasar," kata analis Indopremier Sekuritas, Mino di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan data di laman covid19.go.id, jumlah kasus positif di Indonesiaper 23 Maret 2020 mencapai 579 kasus. Sebanyak 30 pasien sembuh dan 49 meninggal dunia. Secara sektoral, seluruh sektor terkoreksi dengan sektor industri dasar turun paling dalam yaitu 5,87%, diikuti sektor manufaktur dan sektor konsumer masing-masing minus 5,77% dan minus 5,75%.

Penutupan IHSG diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buysebesar Rp36,65 miliar. Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 371.109 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 6,77 miliar lembar saham senilai Rp5,61 triliun. Sebanyak 68 saham naik, 332 saham menurun, dan 112 saham tidak bergerak nilainya.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG sudah dibuka melemah 167,74 poin atau 4% ke posisi 4.027,2. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak turun 33,43 poin atau 5,35 % menjadi 591,32. Menurut tim riset Samuel Sekuritas dalam risetnya, IHSG sudah diperkirakan akan kembali terkoreksi mengikuti melemahnya bursa saham AS dan regional.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun bergantung pada cara penanganan Covid-19, baik di dalam negeri maupun seluruh dunia. Kementerian Keuangan telah membuat beberapa skenario terkait durasi Covid-19 dan kemungkinan terjadinya lockdown.

Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih bisa tumbuh 4% dengan skenario moderat. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa hanya tumbuh 2,5% bahkan 0% jika durasi wabah Covid-19 lebih dari tiga sampai enam bulan, terutama jika penanganan bencana Covid-19 dengan cara lockdown.

Analis Sucor Sekuritas, Hendriko Gani seperti dikutip bisnis mengatakan, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan terbatas pada Senin (23/3) awal pekan ini ke level 4.300. Sementara jika bergerak di bawah level tersebut IHSG masih rawan terkoreksi dengan menguji level support psikologis 4.000.“Support terdekat IHSG apabila jebol 4000 di level 3.800-3.850. Faktornya akan lebih ditentukan dari perkembangan persebaran virus corona dan juga pergerakan indeks dunia,”ujarnya.

Terpisah, analis Artha Sekuritas Dennies Christopher menyebut indeks berpotensi kembali menghijau, meski hanya bersifat sementara atau jangka pendek saja.“Secara teknikal candlestick membentuk hanging man didukung volume yang cukup tinggi. Pergerakan diperkirakan masih akan volatil dan masih tinggi ketidakpastian dari penyebaran Covid-19 terutama di dalam negeri,” demikian tuturnya.

Adapun dia memperkirakan IHSG akan bergerak pada level resistan 4.437 hingga 4.316, sedangkan untuk level support diperkirakan akan berada pada rentang 3.996 hingga 3.797.

BERITA TERKAIT

Sentimen Stimulus Pemerintah - Laju IHSG Berhasil Balik Arah Ke Zona Hijau

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/4) kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup…

Latinusa Bukukan Untung US$ 2,68 Juta

NERACA Jakarta - Emiten pengolahan pelat timah PT Pelat Timah Nusantara Tbk. (NIKL) atau Latinusa membalikkan posisi rugi tahun lalu…

Laba Bersih Alfamart Melesat Tajam 71,11%

NERACA Jakarta - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) membukukan kenaikan laba 2019 sebesar 71,11% menjadi Rp1,11 triliun dari periode…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Propinsi Ini Paling Rentan Terhadap Covid-19

Masifnya penyebaran virus corona (Covid-19) telah berdampak pada lemahnya perekonomian dalam negeri dan memberikan kekhawatiran para pelaku ekonomi. Berdasarkan Katadata…

Sentimen Stimulus Pemerintah - Laju IHSG Berhasil Balik Arah Ke Zona Hijau

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/4) kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup…

Latinusa Bukukan Untung US$ 2,68 Juta

NERACA Jakarta - Emiten pengolahan pelat timah PT Pelat Timah Nusantara Tbk. (NIKL) atau Latinusa membalikkan posisi rugi tahun lalu…