PT Jalan Setelah Hijrah Kembangkan Potensi Ekonomi Umat Melalui Tajir

Jakarta,Fenomena Hijrah diharapkan mampu mendongkrak pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Namun, mengandalkan perhatian pemerintah saja rasanya tak cukup. Gerakan swadaya masyarakat pun menjadi suatu keniscayaan.

Co Founder Tajir sekaligus Ketua Komite Tetap Bidang Keuangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Tito Maulana mengungkap bahwa itulah yang mendasari terbentuknya Komunitas Tajir. "Kami membaca fenomena hijrah, terutama di kalangan milenial sebagai tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat ekonomi umat pada sektor syariah," ujarnya di acara perdana Tajir, di komplek Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan, Minggu (19/1/2019).

Menurut Tito, kalangan masyarakat hijrah yang kerap mengambil jalan ekstrem, misalnya keluar dari pekerjaan, tetap saja memiliki ketakutan. Di antaranya ada tiga, yakni keuangan rumah tangga, keluarga, dan pendidikan anak.

Oleh karena itu, Tajir diharapkan mampu mengisi kekosongan ruang berkumpul dan belajar bersama, yang masih absen dalam perkembangan fenomena hijrah dua tahun terakhir. "Tajir ini bisa sebagai wadah, juga implementasi anjuran Rasulullah agar kita berteman dengan orang-orang saleh," tambahnya.

Terutama agar para Teman Tajir, sebutan peserta acara, memiliki ilmu lebih menghadapi transformasi untuk kembali bekerja, berdagang, atau menerapkan iklim ekonomi syariah dalam bisnis yang ditekuninya. Kebetulan, Tajir selain berarti kaya, juga berarti pedagang dalam bahasa Arab.

Tito mengungkap bahwa sudah ada lebih dari 1.000 Teman Tajir yang mendaftarkan diri di laman website dan menyatakan akan hadir dalam acara-acara Tajir berikutnya.

Tajir berupaya menggandeng berbagai stakeholder, termasuk Kadin DKI Jakarta, agar ekonomi syariah yang di dalamnya terkandung ekosistem halal dan prinsip bisnis sesuai syariat, bukan hanya menjadi segmen bisnis atau suatu komoditas semata. Namun, masuk ke dalam sistem dan punya pengaruh kuat memajukan perekonomian,

"Clothing muslim dan cafe halal misalnya, kini semakin ramai bukan hanya karena produknya, tapi karena masyarakat percaya bahwa segala aspek usahanya sesuai syariat. Inilah yang kita mau share, kita bangun awareness,"katanya.

Pada acara perdana Tajir bertajuk Takjub Akbar 2020, Menjawab Tantangan Tren Hijrah Melalui Sektor Ekonomi Syariah ini, pihaknya menekankan sharing knowledge and inspiration.

Acara ini menghadirkan Ustadz Syafiq Riza Basalamah dan Ustadz Subhan Bawazier, serta figur pengusaha muslim seperti Ucok Nasution (Founder JakCloth), Dhyda Maryudha (Owner Sagaleh) dan Reza Abu Umar (Profesional Chef). (*)

BERITA TERKAIT

Dhita Hadisubrata Raih Penghargaan Honouring Indonesian Excellence

Bali, Berkat kegigihan dan intelektualitasnya dalam menghasilkan produk terbaik, founder brand Neneq Java Essentials dan JE Java Essentials, Dhita Hadisubrata…

Pemerintah Mendorong KUR dan Teknologi 4.0

NERACA Karanganyar – Pemerintah dalam hal ini komit untuk mendorong kredit usaha rakyat (KUR) dan mendorong teknologi 4.0, seperti yang…

BAZNAS Luncurkan Koperasi Konsumen Peternak Mekar Jaya di Garut

Jakarta, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) meresmikan pembentukan Koperasi Konsumen Peternak Mekar Jaya di Kampung Cimayid, Desa Kramatwangi, Kecamatan Cisurupan,…

BERITA LAINNYA DI BERITA FOTO

PEMBANGUNAN MRT FASE 2A

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) berbincang dengan Direktur Utama MRT Jakarta, William Sabandar (kedua kiri) dan Direktur Konstruksi PT…

AKTIVITAS PASAR TRADISIONAL JELANG HARI RAYA GALUNGAN

Sejumlah warga mencari berbagai keperluan menjelang Hari Raya Galungan di Pasar Kreneng, Denpasar, Bali, Senin (17/2/2020). Pasar tradisional di Bali…

VOLUME PEMBIAYAAN MENINGKAT

Direktur Utama PT Mandiri Utama Finance (MUF) Stanley Setia Atmadja (tengah) berbincang dengan Direktur Rita Mustika (kanan), Direktur Wiweko Probojakti…