Polaris Cari Modal Lewat Rights Issue - Danai Akuisisi Lahan

NERACA

Jakarta – Dukung pengembangan bisnisnya, perusahaan properti PT Polaris Investama Tbk (PLAS) rencanakan mencari pendanaan di pasar lewat rights issue. Direktur Independen Polaris Investama, Wito dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin menuturkan, perusahaan dalam tahap pembahasan dan negosiasi dengan Sinarmas Sekuritas terkat rencana melakukan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

Sebelumnya perseroan merencanakan penerbitan 10 miliar saham baru dengan nominal Rp100 per saham. Aksi korporasi itu diperkirakan terlaksana pada semester kedua. Disampaikannya, jadwal HMETD belum dapat ditentukan karena masih dalam tahap pembahasan dan negosiasi dengan Sinarmas Sekuritas.

Aksi korporasi perseroan menerbitkan rights issue sempat dibatalkan pada semester kedua 2019 karena pasar yang berfluktuatif. Perusahaan akan menggunakan dana rights issue untuk membeli tanah (95%) dan modal kerja (5%). Manajemen berkeinginan mendapatkan target dana Rp 1 triliun. PLAS sebelumnya juga berencana ekspansi ke bisnis properti mulai semester I/2020. Namun, Wito belum bisa memberikan kejelasan terkait rencana tersebut, karena masih dalam pembahasan terkait pembuatan business plan properti.

Saat ini, entitas bisnis properti Polaris memiliki 21 lahan kavling seluas 3.665 m2 di Meruya Residence. Aset itu belum berubah sejak laporan per September 2019. Wito pun mengonfirmasi terkait perubahan kepemilikan saham perseroan atas nama PT Malaka Jaya Mulia. Menurutnya, Malaka tidak ada hubungan dengan manajemen perseroan, baik direksi maupun komisaris, sehingga tidak perlu dilaporkan.

BEI menanyakan hal tersebut karena dalam laporan bulanan Pemegang Efek pada 26 September 2019, terdapat 1 tambahan pemegang saham PLAS, yakni PT Malaka Jaya Mulia sebesar 8,38%. Saham PLAS kini bertengger di posisi Rp50. Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp59,21 miliar.Selain itu, BEI sempat mengumumkan potensi delisting saham PLAS. BEI mengungkapkan bahwa BEI dapat menghapus pencatatan saham emiten apabila mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha dan telah disuspensi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir.

BEI telah menghentikan sementara perdagangan saham PLAS sejak 27 Desember 2018. Maka saham Polaris Investama telah disuspensi selama 12 bulan dan masa suspensinya akan mencapai 24 bulan pada tanggal 28 Desember 2020. Perusahaan yang menjalankan usaha bidang perdagangan, kontraktor, jasa, pengangkutan, percetakan, dan lain-lain ini mencatat pendapatan Rp 6,67 miliar pada sembilan bulan pertama 2019. Pendapatan ini turun 69,08% secara tahunan dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 21,57 miliar. Meski pendapatan turun, PLAS mencatat laba bersih Rp 372,13 juta. Bottom line ini membaik ketimbang Januari-September 2018 yang masih rugi Rp 4,15 miliar.

BERITA TERKAIT

Geliatkan Transaksi Pasar ETF - BEI Berikan Insentif Hapus Biaya Transaksi

NERACA Jakarta – Dorong pertumbuhan pasar exchange traded fund (ETF), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berbenah melakukan pembangunan infrastruktur,…

Pertebal Likuiditas - Adhi Karya Rencanakan Rights Issue dan PMN

NERACA Jakarta – Geliatnya pembangunan infrastruktur yang tengah di bangun pemerintah memacu PT Adhi Karya (Perseo) Tbk (ADHI) untuk mengembangkan…

Maybank Indonesia Cetak Laba Rp 1,8 Triliun

NERACA Jakarta – Pendapatan PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) sepanjang tahun 2019 kemarin tumbuh 3,7% menjadi Rp10,8 triliun,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sukses Gelar IPEX ke-20 - BTN Raih Potensi Kredit Baru Rp 4,56 Triliun

Bank BTN berhasil menarik  lebih dari 200.000  pengunjung selama sepekan pameran Indonesia Properti Expotdan (IPEX) sukses membukukan nilai ijin prinsip…

Tawarkan Bunga 12% - Sky Energy Indonesia Rilis MTN Rp 300 Miliar

NERACA Jakarta – Perkuat modal guna mendukung ekspansi bisnisnya, PT SKY Energy Indonesia Tbk (JSKY) tengah mencari pendanaan sebesar Rp300…

Catatkan Kinerja Keuangan Anjlok - Bisnis Batubara IMTG Cetak Raport Merah

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2019 kemarin, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) membukukan raport merah untuk kinerja keuangan. Pasalnya,…