Saham Perdana IFSH Dibuka Melesat 47,73%

NERACA

Jakarta – Debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH) pada Kamis (5/12) dibuka menguat tajam 47,73% ke harga Rp 650. Melihat pergerakan saham tersebut, IFSH otomatis terkena auto reject atas (ARA). Sebab, kenaikan harga saham melebihi ketentuan BEI yang menetapkan bahwa rentang harga saham Rp 200 hingga Rp 5.000 memiliki batas naik dan turun saham sebesar 25% dalam sehari.

Perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan bijih nikel ini menjadi perusahaan tercatat ke-50 yang melantai di bursa pada 2019. Perseroan melepas sebanyak 425 juta lembar saham atau setara dengan 20% modal disetor dan ditempatkan perseroan. Pada pembukaan perdagangan hari ini, saham Ifishdeco dibuka naik 50% ke level Rp660 dari harga penawaran Rp440. Saham Ifishdeco ditransaksikan sebanyak 85 kali dengan volume 8.515 lot dengan nilai Rp557,78 juta.

Presiden Direktur Ifishdeco, Oei Harry Fong Jaya mengatakan, dari proses IPO ini perseroan memperoleh dana segar sebanyak Rp187 miliar. Rencananya, dana perolehan IPO ini sebesar 83,78% akan digunakan untuk mengembangkan usaha anak, yaitu PT Bintang Smelter Indonesia (PT BSI).”Nanti PT BSI akan menggunakan dana itu untuk down payment pembelian dualine mesin Rotary Klin-Electric Furnace (RKEF),"ujaarnya di Jakarta, kemarin.

Oei menjelaskan RKEF yang akan dibeli oleh PT BSI adalah RKEF 36 MW atau 36.000 KVA. Mesin RKEF tersebut akan digunakan sebagai mesin pengolahan dan pemurnian bijih nikel untuk menghasilkan produk feronikel (FeNi). Kapasitas produksi mesin RKEF ini adalah 60.000 Ton FeNi/tahun atau sebesar 120.000 Ton FeNi/tahun untuk 2 (dua) Mesin RKEF. "Peluang ke depan, kami sudah memiliki failitas pemurnian dengan kapasitas 50.000 ton per tahun. Dengan penambahan dua kapasitas ini, kami bisa memproduksi 120.000 ton lagi," tutur Oei.

Sementara, sisa dana IPO sebesar 16,22% akan digunakan untuk modal kerja perseroan seperti penyewaan alat berat untuk kegiatan pertambangan. Selain itu, untuk tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan hingga Rp1,2 triliun. Oei mengatakan hingga kuartal III-2019, perseroan telah mencapai 50% dari target tersebut. "Untuk laba kotor, kami menargetkan Rp180 miliar hingga akhir tahun. Hingga saat ini sudah tercapai 60% dari target," ujar Oei.

Sebagai informasi, berdasarkan prospektus perseroan, dari laporan laba rugi per 31 Mei 2019, laba kotor perseroan tercatat sebesar Rp117 miliar, menurun 32,75% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan demikian, perseroan memproyeksi turun laba mereka di tahun depan mencapai Rp134 miliar. Penurunan proyeksi laba perseroan ini disebabkan adanya kebijakan pemerintah yang melarang ekspor bijih nikel. Seharusnya, kebijakan larangan ekspor bijih nikel tersebut diterapkan Januari 2022, namun dipercepat menjadi 2020.

BERITA TERKAIT

PGN Anggarkan Belanja Modal US$ 700 Juta

NERACA Jakarta – Sukses membangun jaringan pipa gas lebih luas lagi di tahun 2019, di tahun ini PT Perusahaan Gas…

Pertegas Komitmen Pembangunan - Meikarta Serah Terima Kunci 400 Unit Hunian

NERACA Jakarta – Memenuhi komitmen kepada pelanggannya, pengembang properti Meikarta akan segera serah terima kunci 400 unit hunian di area…

Lippo Karawaci Catatkan Penjualan Rp 1,85 Triliun

NERACA Jakarta –Bisnis properti sepanjang tahun 2019 masih dirasakan manisnya oleh PT Lippo Karawaci Tbk (LKPR). Pasalnya, emiten properti ini…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tambah Fasilitas Produksi Gas - Sale Raya Targetkan Dana IPO US$ 100 Juta

NERACA Jakarta — Menggeliatnya industri minyak dan tambang (migas) dimanfaatkan langsung PT Sele Raya untuk mencari permodalan di pasar modal…

Danai Belanja Modal - Smartfren Kantungi Pinjaman Rp 3,10 Triliun

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnisnya, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), melalui PT Smart Telecom meraih kredit dari China Development…

Selesaikan Lilitan Utang - MYRX Tawarkan Aset dan Konversi Saham

NERACA Jakarta – Menyampaikan itikad baik untuk melunasi utang akibat gagal bayar atas pinjaman individu, PT Hanson International Tbk (MYRX)…