Arthavest Bukukan Rugi Rp 1,26 Miliar

NERACA

Jakarta – Di kuartal tiga 2019, PT Arthavest Tbk (ARTA) mencatat rugi sebesar Rp1,26 miliar yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk. Kondisi ini berbalik dibandingkan priode yang sama tahun lalu berhasil membukukan laba sebesar Rp 811,68 juta. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Perseroan menjelaskan, kerugian yang dicatatkan dikarenakan pendapatan usaha perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan ini hingga periode 30 Juni 2019, ‘hanya’ sebesar Rp35,77 miliar atau turun dari sebesar Rp38,07 miliar di periode sama tahun sebelumnya (2018).Di sisi lain, beban departementalisasi turun menjadi Rp11,70 miliar dari beban sebesar Rp12,89 miliar di tahun sebelumnya dan laba bruto departementalisasi menjadi Rp24,07 miliar atau turun dari sebesar Rp25,17 miliar di tahun sebelumnya.

Sementara itu, beban perseroan tercatat sebesar Rp29,97 miliar atau naik tipis dari beban Rp29,71 miliar di tahun sebelumnya dan pendapatan bersih operasi lainnya tercatat sebesar Rp2,74 miliar atau naik tipis dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp2,69 miliar, sehingga membuat rugi usaha meningkat menjadi sebesar Rp3,17 miliar dari sebesar Rp1,85 miliar.

Adapun rugi sebelum pajak tercatat sebesar Rp1,98 miliar usai meraih laba sebelum pajak Rp72,34 juta di tahun sebelumnya. Sedangkan aset perseroan hingga periode 30 Juni 2019, tercatat senilai Rp432,97 miliar atau naik dari senilai Rp431,67 miliar yang tercatat di periode 31 Desember 2018.

Sebagai informasi, perseroan dalam mendongkrak pertumbuhan bisnisnya melakukan diversifikasi portofolio investasi di bidang jasa keuangan dengan membidik target investasi potensial dalam menjalin kerjasama. ARTA memiliki dua anak usaha yakni PT Sanggraha Dhika dan PT Sentral Pembayaran Indonesia. Adapun PT Sentral Pembayaran Indonesia memiliki dua anak usaha lainnya yakni PT Solusi Net Internusa (SNI) dan PT Cahaya Bintang Sukses. SNI merupakan perusahaan yang bergerak di bidang digital signature yang memasuki tahap komersial dan terdaftar sebagai salah satu penyedia layanan sertifikasi elektronik di Kementerian Komunikasi dan Informatika.

ARTA menyebut, industri digital signature memiliki potensi besar dalam mendorong industri keuangan Tanah Air. Apalagi sekarang marak kasus pinjaman online yang semakin mendorong kebutuhan sertifikasi digital.

BERITA TERKAIT

PGN Anggarkan Belanja Modal US$ 700 Juta

NERACA Jakarta – Sukses membangun jaringan pipa gas lebih luas lagi di tahun 2019, di tahun ini PT Perusahaan Gas…

Pertegas Komitmen Pembangunan - Meikarta Serah Terima Kunci 400 Unit Hunian

NERACA Jakarta – Memenuhi komitmen kepada pelanggannya, pengembang properti Meikarta akan segera serah terima kunci 400 unit hunian di area…

Lippo Karawaci Catatkan Penjualan Rp 1,85 Triliun

NERACA Jakarta –Bisnis properti sepanjang tahun 2019 masih dirasakan manisnya oleh PT Lippo Karawaci Tbk (LKPR). Pasalnya, emiten properti ini…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tambah Fasilitas Produksi Gas - Sale Raya Targetkan Dana IPO US$ 100 Juta

NERACA Jakarta — Menggeliatnya industri minyak dan tambang (migas) dimanfaatkan langsung PT Sele Raya untuk mencari permodalan di pasar modal…

Danai Belanja Modal - Smartfren Kantungi Pinjaman Rp 3,10 Triliun

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnisnya, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), melalui PT Smart Telecom meraih kredit dari China Development…

Selesaikan Lilitan Utang - MYRX Tawarkan Aset dan Konversi Saham

NERACA Jakarta – Menyampaikan itikad baik untuk melunasi utang akibat gagal bayar atas pinjaman individu, PT Hanson International Tbk (MYRX)…