Pasar Biodiesel Masih Tinggi

NERACA

Jakarta – Meskipun diserang berbagai isu negatif pasar biodiesel masih cukup tinggi. Apalagi saat ini pemerintah terus menggenjot penggunaan untuk dalam negeri melalui B10, B20, B30, B50 hingga B100

Komitmen produsen biodiesel tidaklah main-main. Berapa pun permintaannya akan disanggupi baik untuk dalam ataupun luar negeri. Tapi meskipun permintaan untuk luar negeri cukup tinggi seperti China, produsen lebih memprioritaskan untuk dalam negeri terlebih dahulu.

“Ada penurunan ekspor ke China untuk sementara karena kemungkinan salah satunya, kapasitas industri kita yang sudah mulai penuh. Mau ada B30, jadi kita mencoba untuk memprioritaskan dalam negeri dulu,” terang Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan.

Meski begitu, Paulus mengakui masih ada penurunan ekspor biodiesel pada tahun 2019 ini sampai tahun depan (2020), jika kapasitas terpasang tidak ditambah. Selain karena minat ekspor yang masih tinggi, peningkatan kapasitas produksi juga diperlukan karena pemerintah berencana meningkatkan mandatori campuran bahan bakar nabati dan solar tersebut, dari B30 menjadi B50, bahkan B100.

Terbukti, berdasarkan catatan Aprobi bahwa kapasitas terpasang dari 19 perusahaan produsen biodiesel di Indonesia sebesar 11,6 juta kilo liter (KL) per tahun. Aprobi mencatat kebutuhan biodiesel untuk penerapan B20 sebesar 6,4 juta KL dan B30 sebesar 9,6 juta KL.

“Saat ini kapasitas terpasang 11,6 juta KL, tetapi kan untuk kapasitas produksinya hanya 85 persen, karena ada potensi listrik mati, servis, perawatan tiap bulan,” ucap Paulus.

Disisi lain, Paulus menyabut baik Program B30 yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 Januari 2020.Namun uji coba implementasinya akan dimulai November atau Desember 2019. Tujuannya mengetahui distribusi, transportasi dan penyimpanan.

"Ini trial distribusi lebih luas, disitu kita mulai implementasi belajar," terang Paulus.

Kemudian, lanjut Paulus, adapun kebutuhan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) tahun 2019 sebesar 6,6 juta kiloliter. Jika uji coba implementasi diterapkan bulan November 2019 maka dibutuhkan penambahan FAME sebesar 400 ribu kiloliter, namun jika diterapkan Desember butuhkan 250 ribu kiloliter.

"Tinggal nunggu aja untuk percepatan, kemudian kontrak sama PO," terang Paulus.

Sementara itu, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESM) Ignasius Jonanmengatakan Agar penggunaan biodiesel dengan baik dan tidak terjadi resistensi kepada masyarakat maka harus dilakukan kampanye secara konsisten.

contohnya industri biodiesel dengan industri telekomunikasi. Dimana harga paket kuota data internet yang terus naik, tapi tidak ada pernah mengalami resistensi atau penolakan bila mengalami kenaikan harga.

“Jadi dalam hal ini harus ada kampanye secara konsisten dengan konten yang bagus kepada masyarakat,” saran Jonan didepan para pelaku industri biodiesel.

Atas dasar itulah, Jonan menghimbau, agar pelaku industri biodesel bisa menggandeng industri lainnnya yang memakai biodiesel sebagai bahan bakunya. Diantaranya yaitu industri otomotif, atau bila perlu melakukan kampanye bersama dengan pertamina selaku penyedianya.

“Industri biodiesel bisa mengajak pihak lainnya seperti Pertamina dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk membuat kampanye bersama,” ucap Jonan.

Harapannya, menurut Jonan, penggunaan biodiesel dari mulai B10, B20, B30, B50 hingga B100 bisa berjalan secara konsisten sejalan dengan harapan Presiden Joko Widodo.

Meski begitu, Indonesia harus berbangga diri karena jika dibandingkan dengan negara lain penggunaan biodiesel di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain. “Di bidang biodiesel, Indonesia terdepan. Negara lain paling banter hanya 7 persen, Indonesia berani 20 persen (B20). Tahun depan bahkan naik lagi menjadi B30. Ini patut dibanggakan,” ungkap Jonan.

Disisi lain, Jonan menyarankan jika ada masalah pada penggunaan biodiesel maka pelaku usaha harus duduk bersama. Contohnya terkait kadar air yang perlu dijaga di bawah 500.“Kalau kadar airnya tinggi, memang bisa menimbulkan korosi. Tetapi kita sudah coba biodiesel, bagus-bagus saja,” papar Jonan.

Artinya, Jonan mengakui bahwa bahwa industri sawit nasional memiliki prospek cerah. Lantaran komoditas ini terbukti mumpuni digunakan sebagai campuran biodiesel. Apalagi, potensi penjualan mobil nasional cenderung stabil di angka 1,1 juta per tahun. Artinya, kebutuhan biodiesel bakal terus bertumbuh. “Setahun kita produksi 1,3-1,4 juta mobil. Yang 1,1 juta dijual di dalam negeri, sisanya sekitar 300 ribuan diekspor. Sedangkan impornya cuman 100 ribu unit,” pungkas Jonan.

BERITA TERKAIT

Sarinah Siap Dirubah Menjadi Showroom Produk UMKM Lokal

Jakarta - Demi mendorong perekonomian rakyat dalam hal ini usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), maka  PT Sarinah yang merupakan…

LPDB Dorong KUKM Manggarai Barat Hasilkan Produk Premium

NERACA Labuan Bajo - Lembaga Pengelola Dana Bergulir - Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB - KUMKM) bersinergi dengan…

Shopee Gandeng Kemenkop UKM Perluas Pasar Ekspor Produk UMKM Indonesia

NERACA Jakarta — Shopee akan memperluas pasar ekspor produk UMKM Indonesia ke mancanegara pada tahun 2020 dengan bekerja sama dengan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sarinah Siap Dirubah Menjadi Showroom Produk UMKM Lokal

Jakarta - Demi mendorong perekonomian rakyat dalam hal ini usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), maka  PT Sarinah yang merupakan…

LPDB Dorong KUKM Manggarai Barat Hasilkan Produk Premium

NERACA Labuan Bajo - Lembaga Pengelola Dana Bergulir - Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB - KUMKM) bersinergi dengan…

Shopee Gandeng Kemenkop UKM Perluas Pasar Ekspor Produk UMKM Indonesia

NERACA Jakarta — Shopee akan memperluas pasar ekspor produk UMKM Indonesia ke mancanegara pada tahun 2020 dengan bekerja sama dengan…