WIKA Anggarkan Capex Rp 16 Triliun di 2020 - Pacu Pertumbuhan Recurring Income

NERACA

Jakarta – Genjot pendapatan berulang atau recurring income, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) bakal menganggarkan belanja modal atau capex tahun depan sebesar Rp 16 triliun.”Dana capex tersebut untuk memperkuat investasi, bagaimana nanti menciptakan recurring income sehingga kami ke depan bisasustain,"kata Direktur Utama Wijaya Karya, Tumiyana di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, jika dibandingkan dengan alokasi belanja modal tahun ini, terdapat peningkatan sebesar 25,64% dari senilai Rp15,6 triliun. Tumiyana menyebutkan investasi yang dilakukan oleh emiten dengan kode saham WIKA ini nantinya tidak hanya terbatas di jalan tol, melainkan juga sektor lain seperti infrastruktur penyediaan air bersih.

WIKA, kata Tumiyana, akan memilih proyek investasi yang arus kasnya baik. Sebelumnya, perseroan telah melakukan investasi di area infrastruktur, yakni tol Semarang - Demak. Perseroan juga melakukan investasi di beberapa proyek properti. salah satunya Grand Inna Bali Beach.

Dari sisi raihan kontrak baru, pada Oktober 2019 bertambah senilai Rp5,5 triliun dari bulan sebelumnya. Hingga September lalu, nilai kontrak baru yang diraih perseroan sebesar Rp25,7 triliun."Sampai akhir Oktober 2019 kontrak baru WIKA senilai Rp31,2 triliun," ujar Corporate Secretary Wijaya Karya, Mahendra Vijaya.

Raihan tersebut mencapai 50,53% dari nilai kontrak baru yang ditargetkan hingga akhir tahun ini senilai Rp61,74 triliun. Pada kuartal akhir ini, perseroan secara garis besar masih mengupayakan untuk bisa meraih proyek-proyek yang ditargetkan dari awal. Mahendra menyebutkan strategi lain perseroan untuk menjaga kinerja di sisa tahun adalah mendorong penggunaan capex untuk investasi di proyek baru supaya dapat mengumpan kontrak bagi bisnis konstruksinya.“Kapasitas capex WIKA saat ini Rp15,6 triliun,” kata Mahendra.

Di kuartal tiga 2019, WIKA mencatatkan laba bersih Rp 1,57 triliun dengan rasio laba bersih 8,57% atau tumbuh 48,31% dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Hingga September 2019, perseroan telah mencatatkan kontrak baru sebesar Rp25,74 triliun. Perolehan tersebut tumbuh 1,64% dikomparasikan dengan perolehan kuartal-III tahun 2018.

Adapun jika ditilik dari pemberi kerja, kontribusi kontak baru terbesar datang dari private sector 46%; BUMN 40%; overseas 10%, dan pemerintah 4%. Dari perolehan kontrak baru tersebut, lini bisnis yang paling berkontribusi (secara berturut-turut berdasarkan porsi terbesar) yaitu: infrastruktur & gedung, energi & industrial plant, industri, dan properti.

BERITA TERKAIT

Waspadai Dampak Sistemik - BEI Terus Pantau Reksadana Gagal Bayar

NERACA Jakarta –Guna memberikan kepastian hukum dan perlindungan investor terhadap produk investasi reksadana yang gagal bayar, PT Bursa Efek Indonesia…

Saham Perdana IFSH Dibuka Melesat 47,73%

NERACA Jakarta – Debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH) pada Kamis (5/12) dibuka menguat tajam…

Raup Bisnis Daur Ulang Sampah Plastik - Coca Cola Inisiasi Packaging Recovery Organization

NERACA Jakarta – Sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam mengurangi sampah plastik, produsen minuman kemasan Coca Cola Indonesia sangat aktif dalam…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Jakarta Garden City Raih Golden Property Awards 2019

Perumahan skala kota (township) Jakarta Garden City seluas 370 hektar yang dikembangkan PT Mitra Sindo Sukses, anak perusahaan dari PT…

Waspadai Dampak Sistemik - BEI Terus Pantau Reksadana Gagal Bayar

NERACA Jakarta –Guna memberikan kepastian hukum dan perlindungan investor terhadap produk investasi reksadana yang gagal bayar, PT Bursa Efek Indonesia…

Saham Perdana IFSH Dibuka Melesat 47,73%

NERACA Jakarta – Debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH) pada Kamis (5/12) dibuka menguat tajam…