Panca Budi Idaman Perkuat Modal Anak Usaha - Kembangkan Ekspansi Bisnis

NERACA

Jakarta – Menjaga keberlangsungan bisnis dan juga pengembangan usaha, PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) menambah modal anak usaha yakni PT Polytech Indo Hausen (PIH) sebesar Rp15 miliar untuk memperkuat struktur modal kerja guna melakukan ekspansi. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Emtien produsen kemasan plastik ini melakukan peningkatan modal dasar dan modal ditempatkan dan disetor pada PIH yang merupakan entitas anak usaha perseroan. Anak usaha yang berkedudukan di Cilegon, Banten ini bergerak di bidang industri kemasan dan kotak dari kertas dan karton, industri barang dari plastik untuk pengemasan dan perdagangan besar berbagai macam barang.

Berdasarkan akta No. 55 tanggal 14 November 2019, PIH telah melakukan peningkatan modal dasar dari semula Rp5 miliar menjadi Rp80 miliar, dan modal ditempatkan dan disetor dari semula Rp5 miliar menjadi Rp20 miliar. Dengan penambahan modal ini, maka perseroan memiliki modal sebesar Rp19,99 miliar pada PIH atau 99,98% kepemilikan.

Kata Direktur Panca Budi Idaman, Lukman Hakim, penambahan modal ini untuk memperkuat struktur modal kerja PIH dalam rangka ekspansi. Dirinya menjelaskan, penambahan modal ini akan memperkuat modal kerja anak usaha guna meningkatkan penjualan ekspor. Setelah ini, perseroan berencana menambah modal anak usaha lainnya.

Sebagai informasi, di kuartal tiga 2019, perseroan membukukan laba bersih turun 40,27% menjadi Rp147,82 miliar. Dengan demikian, margin laba bersih PBID menyusut dari 7,81% per kuartal III/2018 menjadi 4,23% per kuartal III/2019. Perseroan menjelaskan, ada dua faktor penyebab laba bersih turun sepanjang periode 9 bulan tahun ini. Pertama, perusahaan melakukan penetrasi pasar di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada tahun ini.

Seiring dengan perluasan pasar tersebut, perseroan memberikan diskon harga agar mampu berkompetisi dengan pemain regional. Diskon harga tersebut tercermin dari biaya iklan dan pemasaran yang melonjak 34,32% menjadi Rp9,98 miliar per kuartal III/2019. Kedua, penurunan harga bijih plastik di pasar global sehingga margin laba di segmen ini lebih kecil. Lukman memerinci secara rata-rata harga bijih plastik di pasar global turun dari US$1.300 per ton per Desember 2017 menjadi US$1.100 per ton per Desember 2018.”Harga rata-rata pada 2019 US$900 per ton. Hargannya sudah di bottom," katanya.

Bila laba bersin terkoreksi, sebaliknya perusahaan kemasan plastik itu membukukan penjualan bersih Rp3,49 triliun, tumbuh 10,20% secara tahunan. Penjualan berasal dari segmen kantong plastik Rp1,95 triliun atau berkontribusi 55,75% terhadap total penjualan. Penjualan segmen kantong plastik tumbuh 4,87% secara tahunan. Sementara itu, penjualan segmen bijih plastik tumbuh 17,26% menjadi Rp1,39 triliun. Segmen bijih plastik berkontribusi 39,68% terhadap total penjualan. Adapun, segmen lain-lain sebesar Rp159,67 miliar atau tumbuh 22,02% secara tahunan.

Lebih lanjut, Lukman mengatakan, perseroan optimistis dapat mencapai target pertumbuhan penjualan di level 12%-15% sampai akhir tahun. Perusahaan akan mengoptimalkan dua bulan yang tersisa di tahun ini untuk mendorong penjualan. Di samping itu, musim libur Natal dan Tahun Baru diharapkan dapat mendorong penggunaan kantong plastik.

BERITA TERKAIT

Transjakarta Bagikan Dividen Rp 40 Miliar

NERACA Jakarta- Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memutuskan untuk membagikan dividen perusahaan kepada…

Raup Ceruk Pasar Luar Negeri - WIKA Targetkan Kontrak Baru Capai Rp 6 Triliun

NERACA Jakarta – Sukses meraih kontrak baru di Afrika menjadi batu loncatan bagi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) untuk…

Transformasi Pasar Modal Kredibel - OJK Terus Perkuat Supervisi Pengawasan

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayar keuntungan reksadana yang menimpa Minna Padi Aset Manajemen dan Narada Aset Manajemen menjadi alasan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sikapi Kasus Industri Reksadana - APRDI Tekankan Pembinaan Kode Etik

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayarnya keuntungan dari hasil produk investasi Narada Asset Manajemen kepada investor dan juga kasus yang…

Dukung Pengembangan Starup - Telkom dan KB Financial Rilis Centauri Fund

NERACA Jakarta – Sebagai salah satu langkah untuk mengembangkan bisnis digitalnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) melalui anak usahanya…

Topang Pertumbuhan Pendapatan - BEEF Diversifikasi Bisnis Logistik di 2020

NERACA Jakarta –Menunjang bisnis utama di pengolahan daging sapi, PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) merambah bisnis baru di sektor…