Mereka yang Terancam Tenggelam

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D., Manager, Climate Reality Indonesia

Baru-baru ini sebuah studi yang dipaparkan di jurnal ilmiah Nature Communications menjadi berita utama yang menggemparkan. Pasalnya, pada tahun 2050 permukiman 300 juta penduduk dunia akan terdampak banjir kronis karena naiknya permukaan laut.

Artikel yang ditulis Scott A. Kulp dan Benjamin H. Strauss dari lembaga Climate Central itu bertajuk New elevation data triple estimates of global vulnerability to sea-level rise and coastal flooding.

Mereka menyatakan, sebanyak enam negara yang penduduknya paling terancam adalah Tiongkok Daratan, Bangladesh, India, Vietnam, Indonesia dan Thailand. Risikonya meliputi infrastruktur yang rusak, panen yang gagal, sampai komunitas pesisir yang kehilangan tempat tinggal.

Sebenarnya proyeksi naiknya permukaan laut sudah sering dilakukan oleh ilmuwan dari berbagai institusi. Meskipun angkanya kadang berbeda, jelas ada peningkatan.

Menurut data Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), lautan di seluruh dunia telah naik rata-rata hampir 7,5 cm sejak 1992, dengan beberapa lokasi naik lebih dari 22,5 cm. Khusus untuk Indonesia, data yang dilaporkan kepada Sekretariat Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) menunjukkan permukaan laut pada tahun 2040 akan menjadi 50 cm lebih tinggi dibandingkan tahun 2000. Selain itu, kenaikan permukaan laut relatif homogen dengan variasi antara 0,6 cm per tahun dan 1,2 cm per tahun.

Naiknya permukaan laut termasuk dalam kategori slow onset event, atau peristiwa yang terjadi secara perlahan, dengan perubahan bertahap yang terjadi selama bertahun-tahun.

Peningkatan permukaan laut sekecil apapun, menurut majalah National Geographic, dapat memiliki efek buruk pada habitat pesisir yang berada lebih jauh ke daratan. Hal lain yang terjadi adalah erosi yang merusak, banjir di lahan basah, kontaminasi garam pada akuifer dan lahan pertanian, dan hilangnya habitat untuk hewan dan tumbuhan.

Apa yang menyebabkan permukaan air laut di Bumi terus meningkat? Intinya, dengan kegiatan manusia seperti penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan tata guna lahan berlebihan, gas-gas rumah kaca di atmosfer terus meningkat. Iklim kemudian berubah, Bumi juga menjadi semakin panas. Terbukti bahwa lima tahun terakhir adalah tahun-tahun terpanas dalam catatan.

Bumi yang semakin panas menyebabkan lapisan es dan gletser di beberapa Negara mencair. Lapisan-lapisan es raksasa di Kutub Utara dan Kutub Selatan meleleh. Ini berarti air ekstra mengalir ke lautan sehingga permukaannya meningkat.

Di samping itu, dengan memanasnya Bumi, air laut pun memuai. Sekitar setengah dari kenaikan permukaan laut selama 25 tahun terakhir, tulis National Geographic, disebabkan oleh air laut yang mengembang dan membutuhkan lebih banyak ruang.

Studi Climate Central menggemparkan karena tadinya, dengan menggunakan data NASA, penduduk dunia yang diperkirakan terdampak oleh naiknya permukaan laut pada 2050 mencapai 79 juta orang. Dengan penyempurnaan data elevasi global yang dilakukan Climate Central, ternyata penduduk yang terdampak berjumlah 300 juta orang. Ancaman terkonsentrasi di pesisir Asia, dengan konsekuensi ekonomi dan politik yang sangat besar.

Adakah cara untuk mencegah kenaikan permukaan laut global? Karena penyebabnya adalah perubahan iklim, maka diperlukan mobilisasi sumber daya secara global pula melalui mitigasi dan adaptasi.

Sebagaimana selalu diangkat pada portal opini berita ini, mitigasi adalah upaya memperlambat proses perubahan iklim dengan mengurangi level gas-gas rumah kaca di atmosfera dari kegiatan manusia. Sedangkan adaptasi merupakan cara melindungi manusia dan ruang dengan mengurangi kerentanan terhadap dampak iklim dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim global.

Adaptasi terhadap kenaikan permukaan laut dapat dilakukan antara lain dengan membangun dinding laut (seawall), merancang kembali infrastruktur, menanam bakau, melindungi lahan basah, dan konversi lahan pertanian menjadi akuakultur. (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Merajut Asa Pejuang Ekonomi Bangsa

Oleh: Lydia Nurjanah,  Analis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bank Wakaf Mikro (BWM) sudah berusia 2 tahun lebih. Sejak diresmikan pertama…

Program Debirokratisasi dan Deregulasi Demi Perbaikan Pelayanan Publik

  Oleh : Bagus Ramadhan, Pengamat Ekonomi   Dukungan terhadap rencana pemangkasan birokrasi dan penyederhanaan regulasi Pemerintah mulai berdatangan. Hal…

Pemerintah Serius Menangani Radikalisme

  Oleh : Edi Jatmiko, Pemerhati Sosial Politik   Pemerintahan dibawah naungan Presiden Jokowi menegaskan akan meningkatkan keseriusannya dalam menangani…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Ayo Dukung Pemerintah Lawan Gugatan Uni Eropa ke WTO

Oleh : Mubdi Tio Thareq, Pemerhati Masalah Ekonomi Uni Eropa (UE) membuka opsi untuk mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia…

Merajut Asa Pejuang Ekonomi Bangsa

Oleh: Lydia Nurjanah,  Analis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bank Wakaf Mikro (BWM) sudah berusia 2 tahun lebih. Sejak diresmikan pertama…

Program Debirokratisasi dan Deregulasi Demi Perbaikan Pelayanan Publik

  Oleh : Bagus Ramadhan, Pengamat Ekonomi   Dukungan terhadap rencana pemangkasan birokrasi dan penyederhanaan regulasi Pemerintah mulai berdatangan. Hal…